Pendidikan
Rahman Abdullah

Bukan Sekadar Hafalan, Ini Cara Pembelajaran Mendalam Mengubah Proses Belajar Siswa

Bukan Sekadar Hafalan, Ini Cara Pembelajaran Mendalam Mengubah Proses Belajar Siswa

20 Agustus 2026 | 16:59

Keboncinta.com-- Dunia pendidikan terus bergerak mengikuti perubahan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman. Pada 2026, salah satu pendekatan yang semakin mendapat perhatian adalah pembelajaran mendalam atau deep learning.

Kemunculan istilah ini sempat menimbulkan pertanyaan di kalangan guru dan sekolah. Apakah deep learning merupakan kurikulum baru? Apakah sekolah harus mengganti sistem pembelajaran yang selama ini digunakan?

Pemahaman tersebut perlu diluruskan. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran mendalam merupakan pendekatan pedagogis yang bertujuan membuat proses belajar lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Fokusnya bukan sekadar memastikan materi selesai disampaikan, tetapi mendorong peserta didik benar-benar memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan, kemudian merefleksikan pengalaman belajar.

Baca Juga: Arab Saudi Wajibkan Makanan Masuk Paket Umrah, Ini Dampaknya bagi Jemaah dari 4 Negara

Deep Learning Bukan Kurikulum Baru

Hal pertama yang perlu dipahami guru adalah bahwa pembelajaran mendalam bukan pengganti Kurikulum Merdeka maupun kurikulum yang berlaku di sekolah.

Pendekatan ini memiliki landasan dalam Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, yang mulai berlaku pada 5 Januari 2026 dan menggantikan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022.

Istilah deep learning dalam konteks ini juga berbeda dengan teknologi deep learning yang dikenal dalam bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pembelajaran mendalam dalam pendidikan merupakan pendekatan untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar peserta didik. Karena itu, sekolah tidak harus memiliki perangkat teknologi canggih untuk menerapkannya.

Guru tetap dapat menjalankan pendekatan ini dengan memanfaatkan buku, lingkungan sekitar, pengalaman siswa, benda di sekitar kelas, maupun berbagai sumber belajar yang tersedia.

Tiga Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran mendalam dibangun di atas tiga prinsip utama, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Prinsip pertama adalah berkesadaran atau mindful. Peserta didik diarahkan untuk memahami apa yang sedang dipelajari sekaligus mengetahui alasan mengapa materi tersebut penting.

Dengan demikian, siswa tidak hanya mengikuti pembelajaran karena tuntutan tugas, tetapi memiliki kesadaran mengenai tujuan belajar yang sedang dilakukan.

Prinsip kedua adalah bermakna atau meaningful. Materi pembelajaran perlu memiliki keterkaitan dengan pengalaman dan kehidupan nyata peserta didik.

Misalnya, pembelajaran mengenai lingkungan tidak hanya dilakukan melalui membaca buku. Guru dapat mengajak siswa mengamati kondisi lingkungan sekitar sekolah, menemukan persoalan, kemudian menghubungkannya dengan konsep yang sedang dipelajari.

Sementara itu, prinsip ketiga adalah menggembirakan atau joyful. Proses belajar perlu berlangsung dalam suasana yang positif, aman, dan tetap memberikan tantangan.

Lingkungan seperti ini memungkinkan siswa lebih berani menyampaikan pendapat, bertanya, mencoba sesuatu, serta melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

Ketiga prinsip tersebut dapat diterapkan secara terpadu dengan memperhatikan perkembangan peserta didik secara menyeluruh, termasuk olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.

Baca Juga: Bukan Hanya Dokter dan Perawat, Ini Daftar Formasi Petugas Kesehatan Haji 2027

Tiga Tahapan Pengalaman Belajar Murid

Selain tiga prinsip utama, pembelajaran mendalam juga mendorong pengalaman belajar melalui tiga tahapan, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan.

Tahap pertama adalah memahami atau understanding. Pada tahap ini, peserta didik membangun pemahaman terhadap konsep yang sedang dipelajari.

Guru dapat menggunakan pertanyaan, contoh, demonstrasi, diskusi, maupun aktivitas lain yang membantu siswa memahami suatu konsep secara lebih mendalam, bukan sekadar menghafal informasi.

Tahap berikutnya adalah mengaplikasikan atau applying. Setelah memahami konsep, siswa diberikan kesempatan menggunakan pengetahuannya untuk menghadapi persoalan yang berkaitan dengan situasi nyata.

Tahapan terakhir adalah merefleksikan atau reflecting. Peserta didik diajak melihat kembali proses belajar yang telah dilalui, termasuk memahami bagian yang sudah dikuasai dan aspek yang masih perlu diperbaiki.

Ketiga tahapan tersebut tidak harus diselesaikan dalam satu kali pertemuan. Guru dapat menyusunnya secara bertahap sesuai karakteristik materi, tujuan pembelajaran, dan kondisi peserta didik.

Cara Sederhana Guru Menerapkan Deep Learning

Penerapan pembelajaran mendalam tidak berarti guru harus mengubah seluruh perangkat pembelajaran atau membuat kegiatan yang selalu rumit.

Hal terpenting adalah meningkatkan kualitas pengalaman belajar siswa. Guru dapat memulainya dari aktivitas sederhana yang membuat peserta didik lebih aktif berpikir dan menghubungkan materi dengan kehidupan mereka.

Salah satunya dengan menggunakan masalah kontekstual sebagai pembuka pembelajaran. Guru dapat mengambil persoalan yang benar-benar ditemukan siswa di lingkungan sekitar.

Baca Juga: Mau Jadi Petugas Kesehatan Haji 2027? Cek Dulu Batas Usia dan Pengalaman Kerjanya

Contohnya, ketika mengajarkan materi pencemaran lingkungan, pembelajaran dapat diawali dengan kondisi sungai, saluran air, atau lingkungan di sekitar sekolah. Siswa kemudian diajak mengamati, mengidentifikasi masalah, dan menghubungkannya dengan konsep pelajaran.

Guru juga dapat menggunakan pertanyaan pemantik yang mendorong siswa menganalisis suatu persoalan. Pertanyaan terbuka dapat memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan alasan, pendapat, atau solusi, bukan hanya memberikan jawaban hafalan.

Cara berikutnya adalah memberikan kesempatan praktik atau pengalaman langsung. Siswa dapat diajak melakukan pengamatan, pengukuran, percobaan, simulasi, atau aktivitas lain sesuai karakteristik mata pelajaran.

Setelah kegiatan selesai, guru dapat menyediakan waktu untuk refleksi.

Tags:
pendidikan Deep Learning kurikulum

Komentar Pengguna