KebonCinta.com – Bulan mungkin menjadi benda langit yang paling akrab bagi manusia setelah Matahari. Hampir setiap malam, bentuknya terlihat menghiasi langit dengan perubahan yang perlahan dari sabit hingga purnama.
Namun, di balik pemandangan yang tampak sederhana itu, Bulan memiliki sejumlah fakta menarik yang tidak selalu diketahui. Satelit alami Bumi tersebut ternyata terus berputar, mengelilingi planet kita, perlahan menjauh dari Bumi, sekaligus memiliki pengaruh terhadap kondisi di planet tempat manusia tinggal.
NASA mencatat Bulan merupakan satu-satunya satelit alami Bumi dan berada pada jarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer dari planet kita.
Berikut sejumlah fakta tentang Bulan yang menarik untuk diketahui.
Ada anggapan bahwa Bulan tidak berotasi karena manusia dari Bumi selalu melihat sisi yang sama.
Anggapan tersebut tidak tepat.
Bulan memang berputar pada porosnya. Yang menarik, waktu yang dibutuhkan Bulan untuk menyelesaikan satu kali rotasi hampir sama dengan waktu yang diperlukan untuk mengelilingi Bumi.
Kondisi ini disebut rotasi sinkron atau tidal locking. Karena kecepatannya selaras dengan periode orbitnya, sisi yang sama selalu menghadap Bumi.
Itulah sebabnya manusia tidak melihat seluruh permukaan Bulan dari Bumi.
Sisi yang tidak terlihat dari Bumi sering disebut sebagai “sisi gelap Bulan”. Padahal istilah tersebut kurang tepat. Sisi yang jauh dari Bumi tetap mendapatkan cahaya Matahari, sehingga istilah yang lebih sesuai adalah far side atau sisi jauh Bulan.
Saat Bulan purnama terlihat terang, sebenarnya Bulan tidak menghasilkan cahaya sendiri.
Cahaya yang kita lihat merupakan pantulan sinar Matahari dari permukaan Bulan.
Jumlah bagian permukaan Bulan yang terkena cahaya Matahari dan dapat terlihat dari Bumi berubah sepanjang orbitnya. Perubahan inilah yang membuat kita mengenal fase Bulan seperti bulan baru, sabit, perbani, cembung, hingga purnama.
Satu siklus fase Bulan dari satu bulan baru ke bulan baru berikutnya berlangsung sekitar 29,5 hari.
Jadi, perubahan bentuk Bulan yang terlihat dari Bumi bukan karena bentuk Bulan berubah. Yang berubah adalah bagian permukaan yang diterangi Matahari dan dapat kita lihat dari posisi Bumi.
Bulan membutuhkan sekitar 27,3 hari untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi Bumi jika dihitung berdasarkan posisinya terhadap bintang-bintang.
Angka tersebut berbeda dengan sekitar 29,5 hari yang dibutuhkan untuk kembali ke fase Bulan yang sama.
Perbedaan tersebut terjadi karena selama Bulan mengorbit Bumi, Bumi sendiri juga bergerak mengelilingi Matahari. Akibatnya, Bulan membutuhkan waktu tambahan agar posisi Matahari-Bumi-Bulan kembali menghasilkan fase yang sama.
Pergerakan ini berlangsung terus-menerus dan menjadi salah satu alasan mengapa posisi serta bentuk Bulan yang terlihat dari Bumi berubah dari malam ke malam.
Hubungan antara Bumi dan Bulan juga mengalami perubahan secara perlahan.
NASA menyebut Bulan saat ini bergerak menjauh dari Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun. Proses tersebut berkaitan dengan interaksi pasang surut antara Bumi dan Bulan serta perpindahan energi rotasi Bumi ke orbit Bulan.
Angka beberapa sentimeter mungkin terdengar sangat kecil.
Namun, proses tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang. Karena itu, jarak Bumi dan Bulan tidak selalu sama seperti sekarang.
Hubungan gravitasi keduanya terus mengalami perubahan secara perlahan.
Pengaruh Bulan terhadap Bumi tidak hanya terlihat di langit.
Gravitasi Bulan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya pasang surut air laut. Tarikan gravitasi Bulan menyebabkan massa air di Bumi mengalami perubahan posisi sehingga terbentuk tonjolan pasang di wilayah tertentu.
Matahari juga memiliki pengaruh terhadap pasang surut.
Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam konfigurasi tertentu, gaya pasang surut dapat menjadi lebih besar. Kondisi tersebut dikenal sebagai spring tide, yang biasanya terjadi ketika Bulan berada pada fase baru atau purnama.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan gravitasi antara Bumi dan benda-benda langit di sekitarnya.
Permukaan Bulan dipenuhi kawah akibat tumbukan benda-benda langit.
Berbeda dengan Bumi yang memiliki atmosfer, aktivitas geologi, air, dan proses erosi yang terus mengubah permukaannya, Bulan tidak mengalami perubahan permukaan dengan cara yang sama.
Akibatnya, sejumlah jejak tumbukan yang sangat tua masih dapat ditemukan di permukaan Bulan.
NASA menyebut Bulan menyimpan bukti sejarah Tata Surya melalui kawah tumbukan, endapan es kuno, serta bentang alam yang terbentuk dari lava yang telah mendingin.
Kondisi tersebut membuat Bulan menjadi objek penting bagi ilmuwan yang ingin memahami sejarah awal Tata Surya.