KebonCinta.com-- Menjelang tahun ajaran baru, media sosial menjadi etalase bagi banyak lembaga pendidikan. Beragam fasilitas, prestasi, kegiatan siswa, hingga program unggulan ditampilkan untuk menarik perhatian calon peserta didik dan orang tua.
Namun, apa yang terlihat di layar belum tentu menjadi satu-satunya pertimbangan keluarga. Setelah mengetahui keseluruhan biaya dan sistem pendidikan yang ditawarkan, orang tua bisa kembali mempertimbangkan pilihannya.
Pesantren Kebon Cinta di Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, memilih pendekatan yang berbeda. Lembaga yang berdiri sejak pertengahan 2018 ini tidak menjadikan kemewahan fasilitas sebagai pusat promosi. Pendidikan dan pengasuhan santri justru ditempatkan sebagai bagian utama.
Pesantren Kebon Cinta yang beralamat di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 18, Desa Ciwaringin, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, menerapkan sistem pembiayaan yang berupaya menjaga kebutuhan keluarga tetap ringan.
Saat mendaftarkan anak, orang tua tidak dibebankan uang gedung. Selain itu, tidak terdapat biaya daftar ulang, infak wajib, maupun pungutan untuk pengembangan pendidikan.
Yang menjadi salah satu ciri utama konsep tersebut adalah pendidikan formal bagi santri diberikan tanpa biaya sekolah.
Dengan sistem itu, keluarga dapat mengalokasikan biaya pendidikan sesuai kebutuhan lain yang berkaitan dengan kehidupan santri selama mengikuti pembelajaran dan pengasuhan di pesantren.
Fitri, anggota tim manajemen Pesantren Kebon Cinta, mengatakan bahwa sejumlah calon wali santri justru menunjukkan rasa kaget ketika mengetahui sistem pembiayaan yang diterapkan.
Kejutan tersebut terutama dialami keluarga yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman menyekolahkan atau memondokkan anak di lembaga lain.
Mereka awalnya mungkin memperkirakan kebutuhan biaya pesantren akan cukup besar. Namun setelah mendapatkan penjelasan mengenai komponen pembiayaan di Kebon Cinta, perkiraan tersebut berubah.
Perbedaan sistem biaya akhirnya menjadi salah satu hal yang membuat calon wali santri tertarik mengenal konsep pendidikan yang diterapkan lebih jauh.
Baca Juga: MAS Kebon Cinta Cirebon Tawarkan Sekolah Gratis, Cek Biaya Pesantren dan Konsep Pendidikannya
Bagi Kebon Cinta, pendidikan bukan sekadar sesuatu yang perlu dikemas agar terlihat menarik di hadapan masyarakat.
Fitri menjelaskan bahwa pesantren memandang pendidikan dan pengasuhan sebagai bentuk pendampingan terhadap orang tua dalam menjalankan tanggung jawab mendidik anak.
Karena itu, kemampuan yang ditampilkan kepada masyarakat diharapkan merupakan hasil dari pembelajaran yang memang berlangsung secara rutin.
Salah satu contohnya adalah hafalan Al-Qur'an. Santri yang tampil dalam kegiatan bukan anak yang dipersiapkan secara khusus dalam waktu tertentu hanya agar mampu tampil di sebuah acara.
Kemampuan tersebut merupakan hasil dari proses belajar yang mereka jalani sehari-hari. Dengan demikian, apa yang diperlihatkan kepada masyarakat diharapkan menggambarkan perkembangan santri secara nyata.
Kebon Cinta tetap menggunakan media sosial untuk memperkenalkan aktivitas pesantren kepada masyarakat. Namun, konten yang dibagikan lebih diarahkan sebagai dokumentasi kegiatan sehari-hari.
Foto dan video yang diunggah berusaha memperlihatkan bagaimana santri menjalani aktivitas di lingkungan pesantren tanpa terlalu mengandalkan kemasan visual yang berlebihan.
Pendekatan ini membuat media sosial tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga menjadi jendela bagi calon wali santri untuk melihat gambaran kehidupan di pesantren.
Dengan begitu, orang tua dapat memperoleh informasi yang lebih realistis sebelum memutuskan apakah konsep pendidikan tersebut sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarga.
Baca Juga: Pesantren Kebon Cinta Cirebon Buka-Bukaan Soal Biaya Pendidikan, Ini Konsep yang Ditawarkan
Kebon Cinta memahami bahwa setiap keluarga memiliki standar dan prioritas berbeda ketika memilih lembaga pendidikan.
Ada orang tua yang menganggap fasilitas sebagai faktor utama. Sebagian lainnya lebih memperhatikan biaya, pola pengasuhan, pembentukan karakter, atau proses belajar anak.
Karena itu, konsep biaya terjangkau tidak selalu harus dipandang sebagai gambaran rendahnya kualitas pendidikan. Bisa saja sebuah lembaga memang sejak awal memilih model pendidikan yang berbeda dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani.
Kebon Cinta memilih mempertahankan karakter tersebut dengan menjadikan pendidikan, pengasuhan, dan hasil belajar sebagai perhatian utama.
Pendekatan mengenai pembiayaan dan pendidikan tersebut bukan kebijakan yang baru muncul menjelang penerimaan santri baru.
Menurut Fitri, konsep tersebut telah menjadi bagian dari Pesantren Kebon Cinta sejak awal berdiri pada 2018.
Artinya, pesantren tidak baru mengubah pola pendidikannya demi menarik perhatian calon santri. Prinsip mengenai pendidikan yang sederhana dan pembiayaan yang lebih ringan memang telah menjadi bagian dari karakter lembaga.
Pada akhirnya, pilihan pendidikan tidak selalu harus ditentukan oleh seberapa mewah fasilitas atau seberapa menarik materi promosi di media sosial.
Bagi keluarga, hal yang tidak kalah penting adalah memahami bagaimana anak akan belajar, diasuh, dibina, dan berkembang setiap hari. Pendekatan inilah yang ingin ditunjukkan Pesantren Kebon Cinta kepada masyarakat melalui proses pendidikan dan aktivitas santri yang dijalankan secara nyata.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir