Pendidikan
Rahman Abdullah

Pesantren Kebon Cinta Cirebon Buka-Bukaan Soal Biaya Pendidikan, Ini Konsep yang Ditawarkan

Pesantren Kebon Cinta Cirebon Buka-Bukaan Soal Biaya Pendidikan, Ini Konsep yang Ditawarkan

05 Oktober 2026 | 21:17

KebonCinta.com-- Menjelang Tahun Ajaran 2026-2027, orangtua mulai disibukkan dengan pilihan sekolah maupun pesantren terbaik untuk pendidikan putra-putrinya. Berbagai lembaga pendidikan pun berlomba memperkenalkan fasilitas, program unggulan, hingga prestasi yang dimiliki.

Di tengah maraknya promosi pendidikan melalui media sosial, persoalan biaya masih menjadi pertimbangan penting bagi banyak keluarga. Tidak sedikit lembaga yang menampilkan berbagai keunggulan, tetapi tidak secara terbuka mencantumkan keseluruhan biaya yang harus disiapkan orangtua.

Kondisi tersebut membuat sebagian orangtua baru mengetahui besarnya biaya setelah mencari informasi lebih jauh. Bahkan, ada yang akhirnya mengurungkan niat setelah mengetahui biaya pendidikan yang harus dikeluarkan.

Namun, pola berbeda ditawarkan Pesantren Kebon Cinta yang berada di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 18, Desa Ciwaringin, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Baca Juga: Persiapan TKA 2026, Ini Cakupan Materi Pendidikan Pancasila yang Perlu Dipelajari 

Kebon Cinta memilih konsep pendidikan yang sederhana

Pesantren Kebon Cinta resmi berdiri pada pertengahan 2018. Sejak awal, lembaga ini memilih pendekatan yang berbeda dalam pembiayaan pendidikan dan pengasuhan santri.

Alih-alih membebankan berbagai biaya tambahan kepada orangtua, Kebon Cinta berupaya memusatkan pembiayaan pada kebutuhan yang berkaitan langsung dengan proses pendidikan dan kehidupan santri.

Di pesantren ini, orangtua tidak dibebani uang gedung. Tidak ada pula biaya daftar ulang, uang infak, maupun uang pengembangan lembaga yang harus dibayarkan oleh santri.

Jika terdapat kebutuhan pengembangan lembaga, pembiayaannya tidak dibebankan kepada santri maupun orangtua mereka.

Pendidikan formal diberikan secara gratis

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah biaya pendidikan formal di Kebon Cinta. Pihak pesantren menyebut pendidikan formal bagi seluruh santri atau siswa diberikan secara gratis 100 persen.

Fitri, salah satu anggota tim manajemen Pesantren Kebon Cinta, membenarkan kebijakan tersebut ketika dikonfirmasi.

Menurutnya, tidak sedikit orangtua yang justru merasa terkejut ketika mengetahui biaya pendidikan di Kebon Cinta. Terutama mereka yang sebelumnya mempunyai pengalaman menyekolahkan atau memondokkan anak di lembaga pendidikan lain.

Namun, rasa kaget tersebut bukan muncul karena biaya yang tinggi. Sebaliknya, orangtua terkejut karena biaya yang ditawarkan Kebon Cinta dinilai jauh lebih murah dan bersahabat.

Baca Juga: Anak Sulit Belajar Bukan Berarti Tidak Pintar, Ini 7 Cara Orang Tua Membantunya Berkembang 

Tidak ingin pendidikan hanya terlihat bagus di media sosial

Biaya pendidikan yang terjangkau terkadang menimbulkan anggapan bahwa kualitas lembaga pendidikan juga rendah. Pertanyaan mengenai hal tersebut pun disampaikan kepada Fitri.

Ia memberikan pandangan bahwa Kebon Cinta tidak menempatkan pendidikan dan pengasuhan sebagai sebuah produk yang sekadar dijual kepada orangtua.

Menurutnya, keberadaan Kebon Cinta lebih diarahkan untuk membantu orangtua yang memahami bahwa pendidikan merupakan amanah besar dalam kehidupan.

"Kebon Cinta ini tidak menjual pendidikan dan pengasuhan, tapi membantu para orangtua yang mengerti dan memahami hakikat pendidikan dalam menjalankan amanah terbesar dalam hidupnya," ujar Fitri.

Santri tampil berdasarkan kemampuan sebenarnya

Fitri juga menjelaskan bahwa Kebon Cinta berusaha menghadirkan proses pendidikan yang apa adanya. Salah satu contohnya terlihat dalam kegiatan hafalan yang ditampilkan para santri.

Ia membandingkan dengan praktik di sejumlah lembaga yang terkadang mempersiapkan penampilan peserta dalam waktu lama agar terlihat maksimal ketika acara berlangsung.

Di Kebon Cinta, menurut Fitri, santri yang tampil merupakan mereka yang memang menguasai hafalan sebagai hasil dari proses belajar sehari-hari.

Dengan demikian, orangtua dapat melihat kemampuan santri berdasarkan kondisi sebenarnya, bukan semata-mata sebuah pertunjukan yang telah dipersiapkan secara khusus.

"Kebon Cinta memberikan sesuatu yang riil bagi para orangtua. Di Kebon Cinta tidak ada prosesi hataman yang sebelum para peserta tampil dilatih dulu berbulan-bulan hanya untuk menampilkan hapalan satu surat pendek," katanya.

"Di Kebon Cinta para santri yang tampil adalah mereka yang benar-benar hapal karena proses pembelajaran. Mereka tampil apa adanya. Dan orangtua melihat sebuah realita. Bukan penampilan yang dibalut dengan aksesoris yang menelan banyak biaya."

Baca Juga: Tahun Ajaran 2026/2027, Pesantren Kebon Cinta Cirebon Buka Pendidikan Formal Gratis 

Konten media sosial diklaim menggambarkan kondisi sebenarnya

Hal serupa, lanjut Fitri, juga diterapkan dalam penggunaan media sosial. Konten yang dipublikasikan Kebon Cinta diklaim berusaha menampilkan aktivitas nyata yang berlangsung di lingkungan pesantren.

Ia menegaskan bahwa foto maupun video yang dibagikan melalui berbagai platform media sosial bukan semata-mata dibuat dengan konsep sinematik dan penyuntingan berlebihan untuk membujuk orangtua agar memilih Kebon Cinta.

"Kalau ada video atau foto yang ditampilkan oleh Kebon Cinta di berbagai platform media sosial itu juga sebuah realita, bukan video cinematic yang sudah diedit banyak untuk menarik dan merayu para pemirsa agar memilih Kebon Cinta," tutur Fitri.

Menurutnya, pendekatan tersebut sekaligus menjadi cara Kebon Cinta memperkenalkan lingkungan pendidikan kepada calon santri dan orangtua secara lebih terbuka.

Kebon Cinta memiliki segmen orangtua tersendiri

Fitri menyadari bahwa konsep pendidikan dengan biaya terjangkau dan pendekatan sederhana tidak selalu cocok bagi semua keluarga.

Karena itu, apabila ada orangtua yang kemudian menilai Kebon Cinta sebagai lembaga yang murah dan tidak berkualitas hanya berdasarkan besaran biayanya, pihak pesantren memiliki pandangan tersendiri.

Bagi Kebon Cinta, setiap keluarga mempunyai pertimbangan dan standar masing-masing ketika memilih lembaga pendidikan untuk anak.

"Kalau setelah semua itu lalu para orangtua menganggap Kebon Cinta murahan dan tidak berkualitas, maksud kami di Kebon Cinta menganggap bahwa mereka bukan berada pada segmen Kebon Cinta," jelas Fitri.

Pada akhirnya, pilihan lembaga pendidikan bukan hanya mengenai seberapa banyak fasilitas yang ditawarkan atau seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan. Bagi sebagian orangtua, transparansi pembiayaan, proses pendidikan yang nyata, serta pola pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan anak juga menjadi pertimbangan penting.

Kebon Cinta memilih berada pada jalur tersebut dengan menawarkan konsep pendidikan dan pengasuhan yang menitikberatkan pada kebutuhan santri sekaligus berupaya meringankan beban pembiayaan keluarga.***

Tags:
Pesantren Kebon Cinta pendidikan Cirebon

Komentar Pengguna