Keboncinta.com — Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang muslim tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga melatih keikhlasan, mengendalikan kecintaan terhadap harta, dan memperkuat kepedulian sosial.
Keutamaan sedekah tidak selalu ditentukan oleh besarnya nominal yang diberikan. Ada kalanya pemberian dalam jumlah kecil memiliki nilai yang sangat besar karena dilakukan dengan pengorbanan dan ketulusan yang tinggi.
Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan berbagai keadaan yang menjadikan sedekah memiliki keutamaan istimewa. Di antaranya adalah memberikan bantuan kepada kerabat yang memusuhi, bersedekah ketika masih sehat dan mencintai harta, serta berbagi meskipun sedang mengalami kekurangan.
Berikut tiga bentuk sedekah yang memiliki keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi SAW.
Baca Juga: 5 Keutamaan Sholat Dhuha yang Sayang Dilewatkan, dari Sedekah hingga Ganjaran Surga
Memberikan bantuan kepada orang yang berbuat baik kepada kita mungkin terasa mudah. Namun, memberikan sedekah kepada kerabat dekat yang pernah menyakiti, membenci, atau memusuhi merupakan bentuk pengorbanan yang membutuhkan keikhlasan lebih besar.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya sedekah paling utama adalah yang diberikan kepada kerabat yang memusuhi." (HR. Ahmad, Thabrani, dan Abu Dawud).
Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam buku Akhlak Islam menjelaskan bahwa sedekah kepada kerabat yang memusuhi memiliki keistimewaan karena menggabungkan dua nilai kebaikan.
Pertama, penerima sedekah merupakan kerabat dekat. Memberikan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan memiliki keutamaan tersendiri dibandingkan memberikan bantuan kepada orang lain, selama kebutuhan dan hak-hak yang harus dipenuhi telah diperhatikan.
Kedua, adanya permusuhan membuat pemberian tersebut membutuhkan keikhlasan yang lebih besar. Orang yang tetap bersedia membantu kerabat yang membencinya menunjukkan bahwa ia tidak semata-mata mengharapkan pujian, simpati, atau balasan kasih sayang dari manusia.
Sedekah seperti ini juga dapat menjadi jalan untuk meredakan perselisihan dan memperbaiki hubungan keluarga. Islam sendiri memberikan peringatan keras terhadap perbuatan memutus silaturahmi.
Allah SWT berfirman dalam surah Muhammad ayat 22–23:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ ٢٣
Artinya:
"Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka."
Keutamaan sedekah kepada kerabat juga dijelaskan dalam hadis riwayat An-Nasa'i. Rasulullah SAW menerangkan bahwa sedekah kepada orang miskin bernilai satu kebaikan, sedangkan sedekah kepada kerabat mengandung dua nilai, yaitu sedekah dan menyambung silaturahmi.
Dengan demikian, membantu keluarga yang membutuhkan bukan hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sarana menjaga hubungan persaudaraan.
Jenis sedekah berikutnya adalah memberikan sebagian harta ketika seseorang masih sehat, memiliki keinginan untuk mengumpulkan kekayaan, dan khawatir jatuh miskin.
Mengutip buku 77 Pesan Abadi Nabi untuk Wanita karya Muhammad Khalil Itani, Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai sedekah yang paling utama.
Rasulullah SAW menjawab:
"Kamu bersedekah ketika kamu dalam keadaan sehat, sangat menginginkan harta (pelit), berharap kaya dan takut fakir, dan janganlah menunda-nunda hingga nyawa mencapai kerongkongan." (HR. Bukhari).
Hadis tersebut menjelaskan bahwa sedekah memiliki nilai istimewa ketika diberikan pada saat seseorang masih membutuhkan dan mencintai hartanya.
Dalam kondisi sehat, manusia biasanya memiliki banyak keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup, menabung, dan mempersiapkan masa depan. Tidak jarang, keinginan tersebut membuat seseorang enggan mengeluarkan hartanya untuk membantu orang lain.
Karena itu, bersedekah ketika masih memiliki keinginan kuat untuk mempertahankan kekayaan menjadi bentuk latihan mengendalikan sifat kikir.
Prinsip tersebut juga ditegaskan Allah SWT dalam surah Ali 'Imran ayat 92:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
Artinya:
"Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya."
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu bentuk pengorbanan dalam beramal adalah mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya kita sukai dan butuhkan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar umat Islam tidak menunda sedekah hingga ajal mendekat. Sebab, ketika seseorang telah berada dalam keadaan menjelang kematian, kesempatan untuk beramal tidak lagi sama seperti ketika masih sehat dan memiliki keleluasaan.
Sedekah tidak hanya menjadi amalan bagi orang kaya atau mereka yang memiliki harta berlimpah. Orang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi juga memiliki kesempatan memperoleh keutamaan melalui pemberian sesuai kemampuannya.
Dalam buku Akhlak Islam, Syekh Yusuf al-Qaradhawi mengutip sabda Rasulullah SAW:
"Sedekah paling utama adalah yang dilakukan susah payah oleh orang yang berkekurangan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir