KebonCinta.com — Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence di sekolah terus berkembang dan mulai menjadi bagian dari keseharian guru maupun siswa.
Namun Cambridge University Press & Assessment mengingatkan bahwa penerapan AI dalam pendidikan membutuhkan aturan dan pendekatan yang jelas.
Guru dinilai harus terlibat langsung dalam penyusunan kebijakan penggunaan AI di sekolah.
Siswa juga perlu dilibatkan mulai dari proses perancangan hingga evaluasi penggunaan perangkat AI generatif.
Rekomendasi tersebut tercantum dalam laporan Shaping AI Policy and Practice in English Language Teaching.
Laporan disusun berdasarkan penelitian dan pengalaman para guru di berbagai negara yang sudah menggunakan teknologi AI.
Cambridge menemukan banyak guru telah mencoba memanfaatkan AI.
Namun penerapan di lapangan sering berjalan tanpa pedoman yang seragam.
“Kebijakan sering kali kesulitan mengikuti pesatnya perkembangan teknologi, sementara guru dituntut untuk terus beradaptasi,” ujar Director of Research English Cambridge University Press & Assessment Dr Evelina Galaczi.
Baca Juga: Yayasan Guru Belajar Raih UNESCO-Hamdan Prize 2026, Programnya Sudah Menjangkau 61.717 Guru
Ia menjelaskan kondisi tersebut dapat menciptakan kesenjangan pengetahuan dan pendekatan yang tidak konsisten dalam pendidikan.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah bagaimana siswa menggunakan AI.
Teknologi memang dapat membantu menjelaskan materi, mencari ide dan memberikan contoh.
Namun AI juga dapat berubah menjadi jalan pintas ketika siswa hanya mengambil jawaban tanpa memahami prosesnya.
Karena itu, literasi AI kritis dianggap semakin penting.
Siswa perlu dilatih mempertanyakan hasil yang diberikan AI.
Mereka perlu memeriksa apakah informasi tersebut benar, memahami kemungkinan bias serta mengetahui kapan teknologi tidak dapat dipercaya.
Guru mempunyai peran penting dalam proses tersebut.
Cambridge merekomendasikan investasi pada pengembangan profesional guru secara berkelanjutan.
Pelatihan tidak cukup hanya menjelaskan cara mengoperasikan aplikasi.
Guru juga perlu memahami aspek etika, akurasi, perlindungan data dan dampak AI terhadap proses belajar.
Cambridge merumuskan delapan prinsip untuk penggunaan AI di lingkungan pendidikan.
Di antaranya melibatkan guru dan murid dalam pengambilan keputusan serta memasukkan literasi AI kritis ke dalam kurikulum.
Prinsip lainnya adalah menjaga hasil pendidikan tetap berpusat pada manusia.
Otonomi dan penilaian profesional guru juga harus dilindungi.
Sekolah perlu memastikan penggunaan AI berlangsung secara etis dengan perlindungan yang kuat.
Akses terhadap teknologi berkualitas juga perlu dibuat lebih adil agar penggunaan AI tidak memperlebar kesenjangan pendidikan.
“Guru yang telah berhasil bereksperimen dengan AI di ruang kelas mereka memprioritaskan pertimbangan profesional,” kata Evelina.
Menurutnya, pendekatan yang berpusat pada manusia dan literasi AI kritis membuat teknologi lebih bermanfaat bagi pembelajaran.
Pesan pentingnya adalah AI sebaiknya menjadi alat bantu guru dan siswa.
Teknologi tidak seharusnya menggantikan proses berpikir, rasa ingin tahu maupun hubungan manusia yang menjadi inti pendidikan.
Di tengah semakin mudahnya siswa mengakses chatbot AI, tantangan sekolah bukan lagi hanya melarang atau mengizinkan.
Sekolah juga perlu mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi tersebut secara cerdas dan bertanggung jawab.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir