ASN & Karier
Hilmi An Naufal

Cambridge Rilis 8 Prinsip Penggunaan AI di Sekolah, Guru Harus Dilibatkan dan Siswa Diajar Berpikir Kritis

Cambridge Rilis 8 Prinsip Penggunaan AI di Sekolah, Guru Harus Dilibatkan dan Siswa Diajar Berpikir Kritis

07 November 2026 | 18:52

KebonCinta.com — Cambridge University Press & Assessment merilis laporan terbaru mengenai penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan, terutama pembelajaran Bahasa Inggris.

Laporan tersebut menekankan bahwa guru perlu dilibatkan dalam penyusunan kebijakan penggunaan AI agar teknologi dapat membantu proses belajar secara bertanggung jawab.

Informasi itu disampaikan melalui publikasi yang diberitakan ANTARA pada Jumat, 6 November 2026.

Cambridge merumuskan delapan prinsip yang dapat menjadi pertimbangan bagi pembuat kebijakan, sekolah, dan tenaga pendidik dalam menggunakan AI generatif.

GURU HARUS DILIBATKAN SEJAK AWAL

Baca Juga: Cengkeh Punya Banyak Manfaat, Kenali Kandungan Eugenol dan Cara Menggunakannya dengan Aman 

Menurut Cambridge, penggunaan teknologi AI di sekolah sering berkembang lebih cepat dibandingkan penyusunan aturan dan pedoman pembelajaran.

Akibatnya, guru dapat menghadapi kesulitan ketika harus menentukan penggunaan teknologi yang sesuai di ruang kelas.

Karena itu, laporan tersebut merekomendasikan agar guru dan siswa dilibatkan sejak tahap perencanaan, pemilihan perangkat, penerapan, hingga evaluasi teknologi AI.

Keterlibatan tersebut bertujuan memastikan kebijakan mempertimbangkan kebutuhan nyata dalam kegiatan pembelajaran.

DELAPAN PRINSIP PEMANFAATAN AI

Laporan bertajuk Shaping AI Policy and Practice in English Language Teaching memuat delapan prinsip utama.

Prinsip pertama adalah melibatkan guru dan peserta didik dalam tata kelola AI.

Kedua, meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan melalui pendampingan dan pengembangan profesional.

Ketiga, memasukkan pemahaman kritis mengenai AI ke dalam kurikulum.

Keempat, memperbarui pendekatan pembelajaran dan penilaian agar tidak hanya berfokus pada hasil akhir tugas.

Kelima, mengutamakan tujuan pendidikan yang berpusat pada kemampuan manusia.

Keenam, membangun kepercayaan melalui penggunaan AI yang etis, termasuk perlindungan privasi dan transparansi.

Ketujuh, menjaga kewenangan profesional guru dalam menentukan penggunaan teknologi.

Kedelapan, memastikan akses perangkat yang berkualitas tersedia secara adil bagi peserta didik dengan kebutuhan dan kondisi berbeda.

SISWA PERLU BELAJAR MEMERIKSA HASIL AI

Cambridge menyoroti pentingnya kemampuan berpikir kritis ketika peserta didik menggunakan AI generatif.

Teknologi dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan meskipun informasinya belum tentu benar.

Karena itu, siswa perlu dilatih memeriksa fakta, membandingkan sumber, dan memahami keterbatasan teknologi.

Dalam kegiatan pembelajaran, AI sebaiknya digunakan untuk membantu proses berpikir, bukan menggantikan usaha memahami materi.

Siswa juga perlu mengetahui kapan penggunaan AI tidak sesuai dengan tujuan suatu tugas.

PENILAIAN TIDAK BOLEH HANYA MELIHAT HASIL AKHIR

Laporan Cambridge mengusulkan agar sistem penilaian memperhatikan proses pembelajaran.

Guru dapat mempertimbangkan bagaimana siswa menyusun gagasan, memanfaatkan umpan balik, merevisi pekerjaan, dan melakukan refleksi.

Pendekatan tersebut penting karena teknologi generatif dapat membantu membuat teks dan berbagai bentuk jawaban.

Jika penilaian hanya melihat hasil akhir, guru mungkin kesulitan mengetahui kemampuan yang benar-benar dikuasai peserta didik.

Namun, rekomendasi tersebut bukan pengumuman bahwa seluruh ujian sekolah harus diubah mulai November 2026.

KEMAMPUAN MANUSIA TETAP MENJADI PRIORITAS

Cambridge menilai bahwa perkembangan AI justru meningkatkan pentingnya keterampilan yang berpusat pada manusia.

Kemampuan tersebut mencakup berpikir kritis, komunikasi, kemandirian, kecerdasan emosional, serta tanggung jawab sosial.

Sekolah diharapkan tidak hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi AI.

Peserta didik juga perlu memahami bagaimana teknologi memengaruhi keputusan, informasi, dan kehidupan masyarakat.

Dengan begitu, penguasaan teknologi dapat berjalan bersama pengembangan karakter serta kemampuan berpikir mandiri.

PERLINDUNGAN DATA SISWA HARUS DIPERHATIKAN

Pemanfaatan AI generatif juga berkaitan dengan privasi dan keamanan data.

Guru dan sekolah perlu berhati-hati ketika menggunakan perangkat yang meminta informasi pribadi peserta didik.

Cambridge mengingatkan pentingnya kebijakan mengenai transparansi, akuntabilitas, penggunaan sesuai usia, dan aksesibilitas.

Satuan pendidikan perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi tidak menimbulkan risiko yang tidak perlu bagi anak.

Kebijakan juga harus memperhatikan kemungkinan bias dalam jawaban yang dihasilkan sistem AI.

GURU MEMBUTUHKAN PELATIHAN BERKELANJUTAN

Direktur Riset Bahasa Inggris Cambridge University Press & Assessment, Evelina Galaczi, menekankan bahwa guru sering menghadapi perubahan teknologi tanpa pedoman yang memadai.

Karena itu, pengembangan profesional perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Guru membutuhkan kesempatan mempelajari kemampuan, keterbatasan, dan cara mengevaluasi perangkat AI sebelum menggunakannya dalam kegiatan mengajar.

Pelatihan sebaiknya tidak hanya berfokus pada langkah teknis menjalankan aplikasi, tetapi juga mempertimbangkan tujuan pembelajaran dan tanggung jawab pendidikan.

AKSES TEKNOLOGI HARUS ADIL

Cambridge juga mengingatkan bahwa kondisi fasilitas sekolah tidak selalu sama.

Sebagian satuan pendidikan memiliki perangkat dan jaringan internet yang memadai, sedangkan sekolah lainnya masih menghadapi keterbatasan.

Kebijakan penggunaan AI perlu mempertimbangkan perbedaan kondisi tersebut agar teknologi tidak memperlebar kesenjangan pendidikan.

Kebutuhan bahasa, aksesibilitas, dan kondisi lokal juga harus diperhatikan ketika memilih perangkat pembelajaran.

BUKAN PERATURAN WAJIB DARI KEMENDIKDASMEN

Delapan prinsip yang dipublikasikan Cambridge merupakan rekomendasi penelitian dan kebijakan.

Prinsip tersebut bukan peraturan baru Pemerintah Indonesia yang secara otomatis mewajibkan seluruh sekolah menggunakan AI generatif.

Setiap satuan pendidikan tetap perlu mengikuti ketentuan nasional mengenai kurikulum, pembelajaran, perlindungan anak, dan penggunaan teknologi.

Meski demikian, laporan ini dapat menjadi bahan diskusi bagi pendidik dan pengambil kebijakan.

Melalui pemanfaatan yang bijaksana, AI diharapkan membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan berpikir mandiri peserta didik.

Informasi mengenai laporan dan penelitian Cambridge dapat diperiksa melalui situs resmi Cambridge University Press & Assessment.

Tags:
AI untuk guru kecerdasan buatan di sekolah Cambridge AI education teknologi pendidikan 2026 Ai Generatif etika AI siswa pembelajaran Bahasa Inggris kompetensi guru digital.

Komentar Pengguna