keboncinta.com- Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) merupakan bagian penting dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar. Keduanya membantu guru menentukan kompetensi yang akan dicapai peserta didik serta urutan pembelajaran yang sesuai.
Namun, masih terdapat kebingungan dalam membedakan Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, dan Alur Tujuan Pembelajaran.
Padahal, pemahaman terhadap ketiga komponen tersebut membantu guru menyusun perangkat ajar yang lebih sistematis.
Berikut panduan menyusun TP dan ATP berdasarkan penjelasan resmi dalam Ruang GTK dan panduan kurikulum.
Capaian Pembelajaran atau CP merupakan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai peserta didik pada akhir suatu fase pembelajaran.
CP menjadi acuan utama bagi pendidik dalam menentukan arah pembelajaran.
Setiap fase mempunyai cakupan kompetensi sesuai tahap perkembangan dan jenjang pendidikan.
Guru perlu memahami CP terlebih dahulu sebelum menyusun tujuan pembelajaran.
Hal tersebut penting karena TP tidak seharusnya dibuat tanpa memperhatikan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.
Baca Juga: Contoh Modul Ajar Pembelajaran Berdiferensiasi untuk SD Lengkap dengan Langkah Penyusunan
Tujuan Pembelajaran merupakan rumusan kompetensi yang perlu dicapai peserta didik dalam satu atau beberapa kegiatan pembelajaran.
Menurut panduan resmi Ruang GTK, penulisan TP sebaiknya memuat dua komponen utama.
Pertama, kompetensi, yaitu kemampuan yang perlu ditunjukkan peserta didik.
Kedua, lingkup materi, yaitu konsep atau konten utama yang dipelajari.
Sebagai contoh, guru dapat merumuskan tujuan berikut:
"Peserta didik mampu mengidentifikasi informasi penting dalam teks narasi sederhana."
Rumusan tersebut menunjukkan kemampuan yang harus dilakukan siswa serta materi pembelajaran yang menjadi fokus.
Alur Tujuan Pembelajaran adalah rangkaian TP yang disusun secara sistematis dan logis dalam satu fase.
ATP membantu guru menentukan urutan kemampuan yang perlu dipelajari peserta didik.
Sebagai contoh, siswa terlebih dahulu belajar mengenali informasi dalam teks sebelum melakukan kegiatan analisis yang lebih kompleks.
ATP bukan sekadar daftar materi, tetapi susunan tujuan yang saling berkaitan untuk mendukung pencapaian CP.
Baca Juga: Mengenal Pembelajaran Mendalam, Pendekatan Belajar yang Mengasah Nalar Kritis dan Kreativitas
Langkah pertama adalah membaca dan memahami CP mata pelajaran yang akan diajarkan.
Identifikasi kemampuan utama yang harus dicapai peserta didik pada akhir fase.
Guru kemudian dapat menemukan kata kunci yang berkaitan dengan kompetensi dan lingkup materi.
Sebagai contoh, CP yang menekankan pemahaman teks memerlukan tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan membaca, mengidentifikasi, dan menjelaskan informasi.
Setelah memahami CP, guru mulai menyusun TP yang lebih operasional.
Gunakan kata kerja yang menunjukkan kemampuan yang dapat diamati atau dinilai.
Contoh:
Rumusan tujuan perlu sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan perkembangan siswa.
Hindari penggunaan kalimat terlalu umum seperti "siswa memahami semua materi dengan baik" tanpa kejelasan kemampuan yang ingin dicapai.
Setelah TP dirumuskan, guru menyusunnya menjadi urutan yang mendukung perkembangan kemampuan.
Sebagai contoh, untuk materi membaca teks sederhana:
TP 1: Mengidentifikasi informasi yang tersurat dalam teks.
TP 2: Menjelaskan hubungan antarbagian informasi.
TP 3: Menyampaikan kembali isi teks dengan bahasa sendiri.
TP 4: Membandingkan informasi dari dua bacaan sederhana.
Urutan tersebut merupakan contoh ilustratif yang perlu disesuaikan dengan CP resmi.
Guru dapat menyusun alur dari kemampuan sederhana menuju kemampuan yang lebih kompleks.
ATP perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan peserta didik.
Guru dapat memperhatikan hasil asesmen, pengalaman belajar sebelumnya, serta tingkat kesiapan siswa.
Apabila siswa belum menguasai kemampuan dasar, pembelajaran dapat diberikan dengan dukungan tambahan.
Namun, penyesuaian strategi pembelajaran tidak berarti tujuan akhir fase dapat diabaikan begitu saja.
Perencanaan tetap harus memperhatikan ketercapaian kompetensi yang ditetapkan.
Tujuan pembelajaran akan lebih bermanfaat apabila dapat digunakan sebagai dasar penilaian.
Misalnya, jika tujuan pembelajaran adalah mengidentifikasi informasi penting, guru perlu menyediakan kegiatan asesmen yang meminta siswa menunjukkan kemampuan tersebut.
Bentuk asesmen dapat berupa pertanyaan lisan, tugas tertulis, pengamatan, atau hasil karya.
Pilih metode penilaian yang benar-benar menghasilkan bukti ketercapaian tujuan.
Pemerintah menyediakan contoh perangkat pembelajaran yang dapat digunakan atau dikembangkan guru.
Namun, contoh tersebut tidak selalu harus digunakan tanpa perubahan.
Guru dapat menyesuaikan dengan karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik, serta kondisi pembelajaran.
Dalam panduan Ruang GTK, pendidik dapat menyusun ATP sendiri, memodifikasi contoh, atau menggunakan contoh yang tersedia.
Beberapa kesalahan dalam penyusunan TP dan ATP meliputi:
Dengan memahami hubungan CP, TP, dan ATP, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih terarah serta memastikan kegiatan dan asesmen mendukung pencapaian kompetensi peserta didik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir