KebonCinta.com - Mengajak murid belajar coding dan kecerdasan artifisial atau AI membutuhkan lebih dari kemampuan mengoperasikan komputer. Guru juga perlu mampu menjelaskan cara kerja teknologi, merancang kegiatan yang sesuai usia, serta membimbing murid menggunakannya secara bertanggung jawab.
Laman resmi kurikulum Kemendikdasmen menjelaskan bahwa Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan mata pelajaran pilihan yang dapat disediakan sekolah sesuai sumber daya dan dipilih murid berdasarkan minat. Kesiapan pendidik menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.
Lantas, kemampuan apa yang perlu diperkuat guru agar pembelajaran coding dan AI dapat berjalan dengan bermakna?
Guru perlu memahami bagaimana sebuah persoalan diuraikan menjadi bagian kecil, dikenali polanya, lalu diselesaikan melalui langkah yang teratur. Kemampuan ini menjadi dasar berpikir komputasional.
Baca Juga: Bukan Hanya Guru BK, Mengapa Semua Guru Perlu Kemampuan Mendampingi Murid?
Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial dari BSKAP Kemendikdasmen menempatkan berpikir komputasional sebagai bagian penting pembelajaran, termasuk penguraian masalah, pengenalan pola, abstraksi, dan penyusunan algoritma.
Sebagai contoh kegiatan, guru dapat meminta murid menyusun petunjuk menuju perpustakaan. Ketika instruksinya belum jelas, murid diajak memperbaiki urutan tersebut. Dari aktivitas sederhana ini, guru dapat mengarahkan diskusi tentang pentingnya perintah yang runtut dan mudah dipahami.
Penguasaan materi perlu diikuti kemampuan memilih cara mengajar. Guru harus mempertimbangkan pengalaman belajar murid, tingkat kesulitan kegiatan, dan fasilitas yang tersedia.
Kemendikdasmen menyediakan beberapa strategi pembelajaran, mulai dari aktivitas tanpa perangkat digital, penggunaan perangkat, hingga kegiatan berbasis internet. Artinya, guru perlu mampu menyesuaikan pendekatan dengan kondisi kelas.
Misalnya, permainan menyusun kartu instruksi dapat digunakan sebagai pengantar sebelum murid mencoba pemrograman berbasis blok. Guru kemudian bisa mengamati bagian yang sudah dipahami dan bagian yang masih membutuhkan penjelasan.
Dalam pembelajaran AI, guru perlu memahami keterbatasan teknologi sekaligus mampu menjelaskannya dengan bahasa sederhana.
Naskah akademik BSKAP menyebut bahwa kompetensi guru SD terkait kecerdasan artifisial mencakup kemampuan membimbing murid memahami dampak AI, perlindungan data pribadi, serta kenyataan bahwa keluaran AI tidak selalu benar.
Penerapannya dapat berupa latihan memeriksa jawaban AI menggunakan buku pelajaran. Guru juga bisa memakai data rekaan saat memberikan contoh agar identitas pribadi murid tetap terlindungi.
Guru dapat merancang penilaian yang memperhatikan cara murid menyusun solusi, menjelaskan pilihan, dan memperbaiki kesalahan.
Sebagai contoh, ketika program sederhana belum berjalan, murid diminta menunjukkan langkah yang sudah dicoba. Penjelasan tersebut membantu guru mengetahui pemahamannya.
Dengan persiapan seperti ini, kompetensi guru coding dan AI berkembang melalui perpaduan penguasaan konsep, keterampilan mengajar, serta kemampuan mendampingi penggunaan teknologi. Kegiatan belajar pun memiliki tujuan yang jelas dan sesuai kebutuhan murid.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir