KebonCinta.com – Sebelum memulai materi baru, guru perlu mengetahui kemampuan yang sudah dikuasai siswa dan bagian yang masih membutuhkan bantuan. Salah satu cara praktis ialah menggunakan asesmen diagnostik atau asesmen awal pembelajaran melalui soal singkat, pengamatan, dan percakapan.
Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 dari Kemendikdasmen menempatkan asesmen awal sebagai bagian dari asesmen formatif. Hasilnya digunakan untuk merancang pembelajaran, bukan menentukan nilai rapor, kenaikan kelas, atau kelulusan.
Instrumen sederhana sebaiknya memuat tujuan pembelajaran, kemampuan prasyarat yang ingin diperiksa, pertanyaan atau tugas, kunci atau indikator jawaban, lembar observasi, dan rencana tindak lanjut.
Guru tidak harus membuat tes panjang. Dua atau tiga pertanyaan yang tepat dapat memberi informasi awal, lalu diperkaya dengan pengamatan ketika siswa mengerjakan.
Materi tujuan: Memahami pecahan sederhana. Kemampuan prasyarat: operasi bilangan dan konsep bagian dari keseluruhan.
Perhatikan apakah siswa dapat menjelaskan langkah membagi, bukan hanya menebak hasil. Siswa yang belum memahami pembagian dapat berlatih menggunakan benda konkret sebelum mempelajari pecahan lebih lanjut.
Materi tujuan: Menemukan gagasan utama dan informasi pendukung dalam teks.
Bacalah: “Sekolah menyediakan tempat pengisian ulang air minum. Siswa dianjurkan membawa botol sendiri agar sampah plastik berkurang.”
Guru dapat membedakan siswa yang sudah memahami isi bacaan dari siswa yang baru menyalin kalimat tanpa menjelaskan maknanya.
Baca Juga: Apa Itu Asesmen Diagnostik? Pengertian, Tujuan, dan Contoh Penerapannya di Sekolah
Materi tujuan: Membaca data dan membuat kesimpulan berdasarkan bukti.
Data peminjaman buku perpustakaan: 2024 sebanyak 40 buku dan 2025 sebanyak 60 buku.
Pertanyaan kedua membantu guru melihat apakah siswa mampu membedakan angka yang tersedia dari dugaan penyebab.
Saat siswa mengerjakan, guru dapat mencatat tiga indikator: memahami instruksi, menunjukkan strategi atau alasan, dan meminta bantuan ketika mengalami kesulitan. Gunakan catatan singkat seperti “mandiri”, “perlu petunjuk”, atau “belum teramati”, disertai contoh perilaku yang terlihat.
Observasi tidak digunakan untuk memberi label kecerdasan, kepribadian, ataupun diagnosis psikologis. Simpan catatan individual secara terbatas agar privasi siswa terjaga.
Baca Juga: Asesmen Sumatif Bukan Sekadar Nilai, Ini Perannya dalam Pembelajaran
Guru dapat menggunakan contoh rubrik 0–2 poin per pertanyaan: 0 jika belum menunjukkan pemahaman, 1 jika sebagian langkah benar, dan 2 jika jawaban beserta alasannya tepat. Dua pertanyaan menghasilkan skor maksimal empat.
Sebagai panduan ilustratif, bukan standar nasional, skor 0–1 menunjukkan kebutuhan penguatan prasyarat, 2–3 memerlukan latihan terarah, dan 4 dapat dilanjutkan dengan tantangan. Jangan menentukan kebutuhan belajar hanya dari satu skor; periksa juga catatan observasi dan diskusi dengan siswa.
Siswa yang membutuhkan dukungan dapat memperoleh contoh konkret dan latihan bertahap. Siswa yang mulai memahami materi diberi soal bervariasi, sedangkan siswa yang sudah siap dapat mengerjakan tugas penerapan lebih menantang.
Kelompok belajar hendaknya fleksibel dan dapat berubah setelah guru melakukan pengecekan ulang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir