Khazanah
M. Panji Maulana

Contoh Jadwal Murajaah untuk Santri dengan Hafalan Sedikit dan Banyak

Contoh Jadwal Murajaah untuk Santri dengan Hafalan Sedikit dan Banyak

25 Oktober 2026 | 14:19

KebonCinta.com – Menghafal Al-Qur'an merupakan kegiatan yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan pengulangan secara konsisten. Bagi santri yang sedang mengikuti program tahfidz, menjaga hafalan lama tidak kalah penting dibandingkan menambah hafalan baru.

Salah satu cara menjaga hafalan adalah melalui murajaah, yaitu mengulang kembali ayat atau surah yang telah dihafal agar tetap melekat dalam ingatan.

Namun, tidak semua santri memiliki jumlah hafalan yang sama. Sebagian baru menghafal beberapa surah pendek, sementara yang lain sudah memiliki hafalan satu, lima, bahkan puluhan juz.

Perbedaan jumlah hafalan tersebut membuat kebutuhan murajaah setiap santri tidak bisa disamaratakan.

Santri dengan hafalan sedikit membutuhkan pengulangan untuk memperkuat dasar hafalan. Sebaliknya, santri dengan hafalan banyak memerlukan pembagian jadwal yang lebih terstruktur agar hafalan lama tidak terabaikan.

Lantas, bagaimana menyusun jadwal murajaah yang sesuai dengan kemampuan santri?

Mengapa Murajaah Perlu Dilakukan Setiap Hari?

Dalam proses menghafal Al-Qur'an, kemampuan mengingat ayat tidak selalu bertahan dengan tingkat kelancaran yang sama.

Hafalan yang baru diperoleh mungkin masih mudah dibaca karena sering diulang. Namun, ketika santri mulai mempelajari ayat baru, perhatian terhadap hafalan sebelumnya dapat berkurang.

Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, santri mungkin mengalami kesulitan menyambung ayat, tertukar dengan ayat yang memiliki kemiripan, atau lupa urutan surah.

Pentingnya menjaga hafalan juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

Dalam Shahih Al-Bukhari nomor 5033, Nabi Muhammad SAW mengingatkan agar umat Islam senantiasa menjaga dan mengulang bacaan Al-Qur'an, dengan perumpamaan hafalan yang dapat lepas sebagaimana unta dari ikatannya.

Pesan tersebut menunjukkan pentingnya pemeliharaan hafalan secara berkelanjutan.

Karena itu, kegiatan murajaah sebaiknya menjadi kebiasaan harian, bukan hanya dilakukan ketika akan mengikuti ujian atau setoran hafalan.

Bedakan Murajaah dengan Menambah Hafalan Baru

Sebelum menyusun jadwal, santri perlu memahami perbedaan antara murajaah dan ziyadah.

Murajaah berfokus pada pengulangan hafalan yang telah dikuasai. Sementara itu, ziyadah merupakan kegiatan menambah hafalan baru.

Keduanya dapat dilakukan dalam satu hari, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.

Sebagai contoh, seorang santri telah menghafal Surah An-Naba dan mulai menghafal Surah An-Nazi'at.

Ketika mengulang Surah An-Naba, ia sedang melakukan murajaah. Adapun ketika mempelajari ayat baru dari Surah An-Nazi'at, kegiatan tersebut termasuk ziyadah.

Santri tidak sebaiknya terus menambah hafalan apabila hafalan sebelumnya masih banyak mengalami kesalahan.

Guru tahfidz dapat membantu menentukan kapan seorang santri perlu memperbanyak pengulangan dan kapan sudah siap menambah hafalan.

Baca Juga: Tahsin, Tahfidz, dan Murajaah: Perbedaan serta Contoh Jadwal Belajarnya

Contoh Jadwal Murajaah untuk Santri dengan Hafalan Sedikit

Santri yang baru memulai program tahfidz biasanya memiliki jumlah hafalan yang masih terbatas.

Misalnya, seorang santri telah menghafal lima sampai sepuluh surah pendek dari Juz Amma.

Untuk kondisi tersebut, murajaah dapat dilakukan dengan durasi sekitar 20–30 menit sehari.

Berikut contoh pembagian waktunya:

Setelah Subuh — 10 menit

Santri mengulang dua atau tiga surah yang telah dihafal.

Bacaan dilakukan tanpa melihat mushaf terlebih dahulu. Apabila ditemukan bagian yang terlupa, santri dapat melihat mushaf untuk memperbaikinya.

Setelah Ashar — 10 menit

Santri mengulang surah yang berbeda dari sesi pagi.

Jika masih terdapat kesalahan, bagian tersebut diprioritaskan untuk dibaca kembali sampai lebih lancar.

Setelah Magrib — 10 menit

Santri melakukan pengulangan gabungan atau menyetorkan beberapa surah kepada guru maupun teman yang mampu menyimak dengan benar.

Jadwal ini hanya contoh. Durasi dan jumlah surah dapat disesuaikan dengan panjang bacaan, usia, kemampuan, serta kegiatan pesantren.

Santri dengan hafalan sedikit tidak harus mengulang seluruh hafalannya dalam satu waktu apabila pembagiannya membuat bacaan lebih terjaga.

Contoh Jadwal Murajaah Mingguan untuk Pemula

Bagi santri yang memiliki delapan surah hafalan, pembagian mingguan dapat dibuat sebagai berikut:

  • Senin: Murajaah surah 1 dan 2.
  • Selasa: Murajaah surah 3 dan 4.
  • Rabu: Murajaah surah 5 dan 6.
  • Kamis: Murajaah surah 7 dan 8.
  • Jumat: Pengulangan surah 1–4.
  • Sabtu: Pengulangan surah 5–8.
  • Minggu: Setoran gabungan dan evaluasi hafalan.

Nomor surah pada contoh tersebut menunjukkan urutan dalam daftar hafalan santri, bukan nomor surah dalam mushaf.

Apabila ada surah yang belum lancar, guru dapat menjadwalkan pengulangan tambahan tanpa harus menunggu giliran minggu berikutnya.

Dengan cara ini, santri memiliki jadwal yang jelas sekaligus kesempatan memperbaiki kesalahan.

Contoh Jadwal Murajaah untuk Santri dengan Hafalan Banyak

Santri yang sudah memiliki hafalan beberapa juz memerlukan strategi berbeda.

Sebagai contoh, santri dengan hafalan lima juz dapat membagi hafalannya menjadi beberapa kelompok pengulangan.

Apabila kemampuan dan jadwal memungkinkan, santri dapat menargetkan murajaah sekitar setengah juz sampai satu juz per hari.

Namun, target tersebut bukan ketentuan wajib. Santri yang masih sering berhenti, lupa sambungan ayat, atau membutuhkan koreksi tajwid dapat menggunakan target lebih kecil.

Contoh jadwal untuk santri dengan hafalan lima juz:

Senin: Murajaah juz pertama.

Selasa: Murajaah juz kedua.

Rabu: Murajaah juz ketiga.

Kamis: Murajaah juz keempat.

Jumat: Murajaah juz kelima.

Sabtu: Mengulang bagian yang paling sering salah.

Minggu: Evaluasi gabungan dengan guru tahfidz.

Untuk memudahkan pelaksanaan, setiap target harian dapat dibagi menjadi beberapa sesi, misalnya setelah Subuh, setelah Ashar, dan malam hari.

Jika pengulangan satu juz terlalu berat, pembimbing dapat membagi satu juz ke dalam dua atau lebih hari sehingga keseluruhan siklus berlangsung lebih panjang.

Yang terpenting bukan mengejar target sebanyak mungkin, melainkan memastikan setiap bagian benar-benar dibaca dengan baik.

Bagaimana Jika Hafalan Sudah Mencapai Sepuluh Juz atau Lebih?

Santri dengan hafalan sepuluh juz atau lebih biasanya menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara hafalan lama dan tambahan hafalan baru.

Semakin banyak hafalan yang dimiliki, semakin besar kebutuhan pengaturan siklus pengulangan.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan ialah membagi hafalan berdasarkan tingkat kelancaran.

Kelompok pertama: Hafalan sangat lancar.

Bagian ini tetap diulang secara berkala agar tidak mengalami penurunan kualitas.

Kelompok kedua: Hafalan cukup lancar.

Bagian ini membutuhkan pengulangan lebih sering karena masih terdapat kesalahan kecil.

Kelompok ketiga: Hafalan yang sering terlupa.

Bagian ini perlu memperoleh perhatian khusus dan disetorkan kembali kepada guru.

Misalnya, santri yang memiliki sepuluh juz dapat menjadwalkan satu juz per hari sebagai target awal jika kemampuannya memungkinkan, kemudian memberikan waktu tambahan untuk bagian yang masih lemah.

Jika satu juz per hari belum dapat dilakukan dengan baik, target perlu dikurangi. Guru juga dapat menunda ziyadah sampai hafalan lama kembali stabil.

Cara Membagi Murajaah Setelah Subuh, Ashar, dan Magrib

Waktu murajaah dapat menyesuaikan kegiatan sekolah, asrama, dan program tahfidz.

Sebagai contoh, pengelola pesantren dapat menerapkan pembagian berikut:

Setelah Subuh: Mengulang hafalan lama yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Setelah Ashar: Memperbaiki bagian hafalan yang belum lancar atau sering tertukar.

Setelah Magrib: Menyetorkan hafalan kepada guru atau menyimak bacaan teman.

Pembagian tersebut tidak berarti waktu-waktu lainnya tidak baik untuk murajaah.

Santri dapat memilih waktu yang paling memungkinkan untuk membaca dengan tenang dan berkonsentrasi.

Bagi lembaga yang memiliki jadwal padat, sesi pendek tetapi rutin dapat menjadi pilihan yang lebih realistis.

Gunakan Buku Kontrol Murajaah

Agar kegiatan dapat dipantau, guru sebaiknya menyediakan buku kontrol sederhana.

Buku tersebut dapat memuat:

  1. Nama santri dan kelas.
  2. Jumlah hafalan yang telah dimiliki.
  3. Tanggal pelaksanaan murajaah.
  4. Surah atau halaman yang diulang.
  5. Hasil penilaian kelancaran.
  6. Catatan kesalahan tajwid atau sambungan ayat.
  7. Tindak lanjut pada pertemuan berikutnya.

Sebagai contoh, guru dapat menggunakan kategori lancar, cukup lancar, dan perlu pengulangan.

Jika santri masih sering terhenti, bagian tersebut dicatat untuk dijadikan prioritas pada hari selanjutnya.

Penilaian juga sebaiknya mencakup ketepatan makhraj, panjang pendek bacaan, serta penerapan tajwid.

Dengan demikian, pengawasan hafalan tidak hanya didasarkan pada banyaknya halaman yang telah dibaca.

Baca Juga: Perbandingan Metode Iqra, Qiroati, Ummi, dan Tilawati untuk Belajar Membaca Al-Qur'an

Hindari Menyamakan Target Semua Santri

Dalam satu kelompok tahfidz, guru mungkin menemukan santri yang mampu mengulang beberapa halaman dengan lancar, sementara santri lainnya masih kesulitan mengingat sambungan ayat.

Perbedaan tersebut tidak selalu menunjukkan kurangnya kesungguhan.

Kemampuan membaca, pengalaman menghafal, kondisi kesehatan, serta kesempatan latihan dapat memengaruhi perkembangan setiap santri.

Karena itu, target murajaah sebaiknya bersifat bertahap dan dapat dievaluasi.

Guru dapat memberikan tantangan tambahan kepada santri yang sudah lancar tanpa membuat santri lainnya merasa tertinggal.

Sebaliknya, santri yang membutuhkan lebih banyak pengulangan perlu memperoleh bimbingan, bukan sekadar teguran karena belum memenuhi target.

Orang tua juga dapat mendukung kegiatan ini dengan memberikan kesempatan anak mengulang hafalan ketika berada di rumah, tanpa menambah tekanan berlebihan.

Jadwal murajaah yang baik bukanlah jadwal paling padat, melainkan jadwal yang benar-benar dapat dilaksanakan secara konsisten. Dengan pembagian waktu yang sesuai dan evaluasi berkala, santri dapat menjaga hafalan Al-Qur'an sekaligus mengembangkan kualitas bacaan secara bertahap.

Tags:
Murajaah Hafalan Al-Quran Santri Tahfidz Quran Jadwal Mengaji pesantren

Komentar Pengguna