KebonCinta.com - Mengenal seseorang tidak cukup hanya dengan melihat bagaimana mereka berbicara atau memperlakukan kita pada pertemuan pertama. Sebab, karakter seseorang biasanya terlihat melalui kebiasaan, cara mengambil keputusan, hingga bagaimana mereka menghadapi perbedaan pendapat.
Hal ini sering menjadi tantangan ketika menjalin pertemanan baru, memasuki lingkungan kerja, atau sedang berada dalam fase pendekatan dengan seseorang.
Menariknya, ada sebuah pertanyaan sederhana yang bisa digunakan untuk membuka percakapan sekaligus memberikan gambaran mengenai cara seseorang memandang kehidupan.
Pertanyaan tersebut diperkenalkan oleh Laura Eiman, seorang pelatih kepercayaan diri yang membagikan pengalamannya melalui akun TikTok @confidencecoachforwomen.
Lantas, apa pertanyaan yang dimaksud dan mengapa jawabannya bisa menarik untuk diperhatikan?
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Menguak Hubungan Asam Lemak Omega-6 dan Jerawat
Laura Eiman membagikan satu pertanyaan yang menurutnya dapat membantu mengenali kecenderungan karakter seseorang. Pertanyaan tersebut berbunyi:
"Apakah kamu ingin menjadi orang yang selalu benar atau ingin selalu merasa bahagia?"
Sekilas, pertanyaan ini terdengar seperti pilihan sederhana. Namun, jawabannya dapat membuka pembicaraan mengenai cara seseorang menghadapi konflik, mempertahankan pendapat, dan menyikapi perbedaan.
Menurut Eiman, ia cenderung berhati-hati terhadap orang yang selalu ingin merasa benar. Sebab, keinginan untuk memenangkan setiap perdebatan bisa membuat seseorang mengabaikan perasaan orang lain.
Dalam hubungan sosial, sikap tersebut berpotensi menimbulkan persoalan apabila seseorang tidak bersedia mengakui kesalahan atau menerima sudut pandang yang berbeda.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam hubungan antarmanusia. Namun, konflik bisa semakin rumit ketika salah satu pihak lebih mengutamakan kemenangan daripada mencari penyelesaian.
Mengutip pandangan konselor profesional Jamie Cannon, MS, LPC, yang dimuat Psychology Today, menghadapi seseorang yang gemar menyalahkan orang lain dapat menjadi pengalaman yang melelahkan.
Orang dengan pola perilaku tersebut mungkin kesulitan mengakui kontribusi dirinya dalam sebuah masalah. Bahkan, mereka bisa mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain ketika terjadi konflik.
Karena itu, kemampuan mengamati cara seseorang merespons perbedaan pendapat menjadi salah satu hal penting dalam membangun hubungan.
Ketika mengajukan pertanyaan tersebut, jangan hanya berfokus pada pilihan jawaban yang diberikan.
Perhatikan juga bagaimana seseorang menjelaskan alasannya. Apakah mereka bersedia mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya keliru? Apakah mereka mampu mendengarkan pendapat berbeda tanpa merendahkan lawan bicara?
Respons semacam ini bisa memberikan gambaran lebih luas tentang cara seseorang berkomunikasi.
Seseorang yang memilih kebahagiaan belum tentu selalu mampu mengelola konflik dengan baik. Begitu pula orang yang ingin mempertahankan kebenaran belum tentu memiliki karakter buruk, karena bisa saja mereka sedang membicarakan prinsip atau nilai yang dianggap penting.
Meskipun menarik untuk dicoba, pertanyaan ini tidak bisa dijadikan ukuran mutlak untuk menilai kepribadian seseorang.
Karakter manusia terbentuk melalui berbagai pengalaman dan dapat terlihat berbeda dalam situasi tertentu. Jawaban spontan juga belum tentu mencerminkan perilaku seseorang ketika menghadapi persoalan nyata.
Karena itu, gunakan pertanyaan tersebut sebagai pembuka percakapan, bukan sebagai dasar untuk langsung memberikan label kepada orang lain.
Pada akhirnya, mengenal seseorang membutuhkan waktu dan pengamatan yang konsisten. Perhatikan bagaimana mereka memperlakukan orang lain, bertanggung jawab atas perkataan, serta menyelesaikan konflik. Sebab, karakter lebih terlihat melalui tindakan daripada sekadar jawaban dalam sebuah percakapan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir