Pendidikan
Dewi Safitri

Dampak Siswa Menyontek di Sekolah, Bisa Hambat Kemampuan Belajar dan Pembentukan Karakter

Dampak Siswa Menyontek di Sekolah, Bisa Hambat Kemampuan Belajar dan Pembentukan Karakter

10 Oktober 2026 | 01:52

KebonCinta.com - Kebiasaan menyontek di sekolah bukan sekadar pelanggaran tata tertib saat ujian. Perilaku tersebut dapat memengaruhi pembentukan karakter, kemandirian belajar, serta cara siswa memandang kejujuran dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan ini kembali menjadi perhatian setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis hasil Survei Penilaian Integritas Pendidikan (SPI) 2026. 

Dalam temuan tersebut, sebanyak 26 persen peserta didik tingkat pendidikan dasar dan menengah dilaporkan masih menyontek saat ujian. Praktik tersebut ditemukan di 51 persen satuan pendidikan pada jenjang terkait.

Baca Juga: Menag RI Soroti Budaya Menyontek, Pendidikan Antikorupsi Harus Dimulai dari Keteladanan 

Data itu menunjukkan bahwa kecurangan akademik masih menjadi tantangan dalam membangun budaya integritas di sekolah. Apalagi, survei tersebut juga menemukan kecenderungan sebagian siswa mengikuti perilaku menyontek ketika banyak teman mereka melakukan hal serupa.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa perilaku tidak jujur dapat berkembang bukan hanya karena pilihan individu, melainkan juga karena pengaruh lingkungan pertemanan dan kebiasaan yang terbentuk di sekolah.

Baca Juga: Survei KPK: 26 Persen Siswa dan 50 Persen Mahasiswa Masih Menyontek Saat Ujian 

Menyontek dapat menghambat proses belajar

Dampak pertama dari kebiasaan menyontek adalah berkurangnya kesempatan siswa untuk mengetahui kemampuan dirinya secara objektif. Hasil ujian seharusnya menggambarkan sejauh mana materi telah dipahami dan kompetensi telah dikuasai.

Ketika siswa memperoleh nilai melalui kecurangan, hasil penilaian tidak lagi mencerminkan kemampuan sebenarnya. 

Akibatnya, siswa dapat kesulitan mengenali materi yang belum dipahami dan menentukan aspek yang perlu diperbaiki.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berpotensi melemahkan kemandirian belajar. 

Baca Juga: Mengumpulkan HP Saat Ulangan: Efektifkah Mencegah Siswa Menyontek? 

Siswa mungkin lebih berorientasi pada pencapaian nilai daripada proses memahami materi, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.

Padahal, evaluasi akademik semestinya menjadi sarana untuk mengukur perkembangan pembelajaran, bukan hanya menentukan angka pada rapor.

Menyontek juga berpotensi memengaruhi cara siswa memahami nilai kejujuran. Jika kecurangan terus dilakukan tanpa konsekuensi yang jelas, siswa dapat menganggap tindakan tersebut sebagai jalan pintas yang dapat diterima untuk mencapai tujuan.

Risiko ini semakin besar ketika perilaku menyontek dilakukan secara berkelompok atau menjadi kebiasaan di lingkungan pertemanan. 

Siswa yang semula enggan melakukan kecurangan dapat terdorong mengikuti teman karena takut memperoleh nilai lebih rendah atau dianggap tidak kompak.

Temuan KPK mengenai kecenderungan siswa mengikuti praktik menyontek di lingkungannya memperlihatkan pentingnya budaya sekolah yang mendukung kejujuran.

 Lingkungan pendidikan perlu memastikan bahwa siswa tidak merasa harus melakukan kecurangan demi menyesuaikan diri dengan kelompoknya.

Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut berpotensi melemahkan pemahaman tentang tanggung jawab pribadi dan pentingnya memperoleh hasil melalui usaha yang sah.

Dampaknya dapat terbawa ke dunia kerja

Nilai yang diperoleh melalui kecurangan tidak selalu mencerminkan kompetensi yang sesungguhnya.

Ketika pola tersebut terus berulang, siswa berisiko memasuki jenjang pendidikan berikutnya dengan pemahaman yang belum memadai.

Dalam konteks yang lebih luas, kebiasaan mengabaikan kejujuran juga dapat menjadi persoalan ketika seseorang menghadapi tanggung jawab di perguruan tinggi maupun dunia kerja. 

Misalnya, ketika harus menyelesaikan tugas secara mandiri, menyampaikan laporan yang akurat, atau mempertanggungjawabkan keputusan.

Meski demikian, kebiasaan menyontek tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi tidak jujur ketika dewasa. 

Dampaknya bergantung pada berbagai faktor, termasuk pembinaan karakter, lingkungan sosial, serta kesempatan untuk memperbaiki perilaku.

Karena itu, penanganan kecurangan akademik sebaiknya tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada upaya membangun pemahaman tentang konsekuensi dan tanggung jawab.

Sekolah perlu membangun budaya integritas

Pencegahan menyontek membutuhkan keterlibatan guru, orang tua, siswa, dan pihak sekolah.

 Guru dapat merancang evaluasi yang mendorong pemahaman, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menerapkan aturan secara konsisten tanpa membeda-bedakan peserta didik.

Orang tua juga dapat mendukung pembentukan karakter dengan menghargai proses belajar anak, bukan hanya mengejar nilai tinggi.

 Sementara itu, siswa perlu dibiasakan memahami bahwa mengakui kekurangan dan memperbaiki kesalahan merupakan bagian dari proses pendidikan.

Temuan SPI Pendidikan 2026 yang dirilis KPK menjadi pengingat bahwa integritas tidak cukup diajarkan melalui teori atau slogan. 

Nilai kejujuran perlu diterapkan dalam praktik pembelajaran dan dicontohkan oleh seluruh ekosistem pendidikan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya nilai ujian.

 Pendidikan juga perlu membentuk individu yang mampu berpikir mandiri, bertanggung jawab, dan memperoleh keberhasilan tanpa mengorbankan kejujuran.

Tags:
menyontek survei integritas pendidikan pendidikan menengah Pendidikan Dasar

Komentar Pengguna