Keboncinta.com-- Semua orang pasti pernah merasakan sakit kepala. Rasanya mengganggu, bikin sulit fokus, dan kadang cukup membuat hari terasa berat. Banyak dari kita menganggapnya hal biasa. Tapi bagaimana kalau nyerinya terasa berdenyut di satu sisi kepala, disertai mual dan tidak tahan pantulan cahaya? Nah, di situlah banyak orang mulai bertanya: ini cuma sakit kepala biasa, atau migrain?
Sekilas keduanya memang tampak sama. Sama-sama nyeri di kepala. Sama-sama membuat aktivitas terganggu. Namun sebenarnya, sakit kepala biasa dan migrain adalah dua kondisi yang berbeda, baik dari penyebab, karakter rasa sakit, hingga dampaknya pada tubuh.
Sakit kepala biasa, atau yang sering disebut tension headache, umumnya terasa seperti tekanan atau ikatan di sekitar kepala. Banyak orang menggambarkannya seperti ada tali yang melilit dahi atau bagian belakang kepala. Rasa nyerinya cenderung ringan hingga sedang, tidak berdenyut, dan biasanya muncul akibat stres, kelelahan, kurang tidur, atau terlalu lama menatap layar gadget.
Jenis sakit kepala ini memang tidak nyaman, tetapi biasanya masih memungkinkan seseorang tetap beraktivitas. Ia jarang disertai mual hebat atau gangguan penglihatan. Setelah istirahat cukup atau minum pereda nyeri ringan, keluhan sering kali membaik.
Lain hal nya dengan migrain. Migrain bukan sekadar sakit kepala berat. Ia adalah gangguan neurologis yang melibatkan aktivitas saraf dan perubahan aliran darah di otak. Rasa nyerinya punya khas tersendiri: berdenyut, sering kali hanya di satu sisi kepala, dan intensitasnya bisa sedang hingga sangat berat. Aktivitas fisik ringan seperti naik tangga saja bisa memperparah rasa sakitnya.
Yang membuat migrain terasa lebih dari sekadar pusing adalah gejala penyertanya. Banyak penderita mengalami mual, muntah, serta sensitivitas tinggi terhadap cahaya dan suara. Ruangan terang terasa menyilaukan, suara kecil terdengar mengganggu, bahkan bau tertentu bisa memicu rasa tidak nyaman.
Pada sebagian orang, migrain didahului oleh fase yang disebut aura. Aura bisa berupa gangguan visual seperti kilatan cahaya, garis zig-zag, atau pandangan yang tampak buram. Ada juga yang merasakan kesemutan di tangan atau kesulitan berbicara sesaat sebelum nyeri datang.