Keboncinta.com – Generasi Z atau Gen Z kerap menjadi bahan perbincangan. Mereka sering disebut sebagai generasi yang sangat dekat dengan teknologi, cepat memperoleh informasi, berani menyampaikan pendapat, tetapi pada saat bersamaan juga kerap mendapat label mudah menyerah, kurang tahan tekanan hingga terlalu bergantung pada dunia digital.
Namun, menilai seluruh Gen Z memiliki kelemahan yang sama tentu tidak tepat.
Setiap individu memiliki karakter, lingkungan keluarga, pendidikan dan pengalaman yang berbeda. Sejumlah karakteristik yang terlihat pada generasi muda juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial dan teknologi tempat mereka tumbuh.
Gen Z menjalani masa remaja dan memasuki usia dewasa ketika internet, media sosial dan telepon pintar telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lantas, apa saja tantangan yang banyak dikaitkan dengan generasi ini?
Salah satu karakteristik yang paling mudah terlihat adalah kedekatan Gen Z dengan teknologi.
Internet memberikan berbagai keuntungan. Informasi dapat diperoleh dengan cepat, komunikasi menjadi mudah dan kesempatan belajar maupun bekerja semakin terbuka.
Namun, kehidupan digital juga membawa tantangan.
Arus informasi yang sangat cepat dapat membuat seseorang terus berpindah dari satu konten ke konten lainnya. Media sosial juga membuka ruang untuk terus melihat kehidupan dan pencapaian orang lain.
Dalam konteks dunia kerja, penelitian yang dibahas American Psychological Association (APA) menunjukkan penggunaan media sosial dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain dapat berkaitan dengan kecemasan mengenai pekerjaan pada kelompok lulusan perguruan tinggi.
Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan mengatur waktu dan menyaring informasi.
Persoalan kesehatan mental menjadi salah satu isu yang cukup menonjol ketika membicarakan Gen Z.
Survei APA sebelumnya menemukan kelompok Gen Z melaporkan tingkat stres yang tinggi dibanding sejumlah generasi lainnya.
Pada survei Stress in America 2020, misalnya, Gen Z dewasa melaporkan rata-rata tingkat stres 6,1 dari skala 10, sedangkan rata-rata seluruh orang dewasa berada pada angka 5,0.
Namun, tingginya laporan masalah kesehatan mental tidak serta-merta membuktikan bahwa Gen Z lebih lemah.
APA juga mencatat keterbukaan generasi muda membicarakan kesehatan mental dapat menunjukkan kesadaran dan penerimaan yang lebih tinggi terhadap persoalan tersebut.
Dengan kata lain, generasi yang lebih terbuka mengatakan sedang mengalami tekanan belum tentu lebih lemah daripada generasi yang memilih menyimpannya.
Gen Z tumbuh ketika banyak kebutuhan dapat diperoleh dalam waktu relatif singkat.
Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, informasi ditemukan melalui mesin pencari, makanan dipesan melalui aplikasi dan hiburan tersedia kapan saja melalui layanan digital.
Lingkungan seperti ini dapat menciptakan ekspektasi terhadap kecepatan.
Tantangan muncul ketika pola tersebut dibawa ke dunia pendidikan dan pekerjaan, karena tidak semua pencapaian dapat diperoleh secara instan.
Membangun karier, menguasai keterampilan, mengembangkan usaha atau mencapai kemampuan akademik tertentu membutuhkan proses panjang.
Karena itu, kesabaran, konsistensi dan kemampuan menghadapi kegagalan tetap menjadi keterampilan penting bagi generasi muda.
Cara Gen Z melihat pekerjaan juga menjadi perhatian.
Banyak pekerja muda tidak hanya mencari gaji. Mereka juga mempertimbangkan fleksibilitas, kesehatan mental, lingkungan kerja dan apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan nilai yang mereka yakini.
APA mencatat adanya perubahan ekspektasi mengenai hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi pada generasi muda. Sebagian Gen Z juga menginginkan perhatian lebih besar terhadap kesehatan mental di lingkungan kerja.
Bagi sebagian perusahaan, tuntutan tersebut mungkin dianggap sebagai kelemahan atau kurangnya loyalitas.
Namun, dari sisi lain, tuntutan mengenai lingkungan kerja yang sehat dapat mendorong perubahan positif yang juga bermanfaat bagi pekerja dari generasi lainnya.
Karena itu, perbedaan pandangan tersebut lebih tepat dilihat sebagai tantangan antargenerasi daripada sekadar menyalahkan kelompok usia tertentu.
Komunikasi Gen Z banyak berlangsung melalui pesan teks, media sosial dan berbagai platform digital.
Kemampuan tersebut menjadi keunggulan dalam lingkungan yang semakin terhubung.
Namun, komunikasi tatap muka tetap dibutuhkan.
Kemampuan berbicara secara langsung, menyampaikan gagasan, menerima kritik, berdiskusi ketika berbeda pendapat hingga menyelesaikan konflik menjadi keterampilan penting di sekolah maupun dunia kerja.
Teknologi sebaiknya menjadi pelengkap komunikasi manusia, bukan sepenuhnya menggantikannya.
Media sosial memungkinkan seseorang melihat pencapaian orang lain hampir setiap saat.
Masalahnya, apa yang tampil di layar sering kali hanya bagian tertentu dari kehidupan seseorang.
Pengguna dapat melihat teman mendapatkan pekerjaan, membeli kendaraan, menikah, berlibur atau mencapai keberhasilan tertentu tanpa mengetahui seluruh proses dan persoalan di baliknya.
Jika terus membandingkan diri, seseorang dapat merasa tertinggal meskipun sebenarnya sedang menjalani proses kehidupan yang berbeda.
Penelitian yang dibahas APA menunjukkan upward social comparison melalui media sosial dapat berkaitan dengan kecemasan pekerjaan pada lulusan muda.
Literasi digital karena itu tidak hanya mengenai kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga memahami bagaimana konten digital dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Karakteristik Gen Z tidak semuanya harus dilihat sebagai kelemahan.
Salah satu perubahan yang cukup terlihat adalah keberanian generasi muda membicarakan kesehatan mental.
Dalam konteks dunia kerja, ahli yang diwawancarai APA menilai Gen Z ikut membantu mengurangi stigma pembicaraan mengenai kesehatan mental di tempat kerja.
Generasi sebelumnya mungkin terbiasa memisahkan persoalan pribadi dari pekerjaan, sedangkan pekerja muda lebih terbuka meminta dukungan.
Perubahan tersebut dapat menciptakan tantangan bagi organisasi, tetapi juga membuka kesempatan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat.
Membicarakan tantangan Gen Z perlu diimbangi dengan melihat potensi yang mereka miliki.
Kedekatan dengan teknologi membuat banyak anak muda mampu mempelajari perangkat baru dengan cepat.
Akses informasi juga membuka kesempatan untuk mempelajari keterampilan secara mandiri, membangun usaha digital, menghasilkan karya dan terhubung dengan orang dari berbagai daerah bahkan negara.
Gen Z juga dikenal lebih terbuka membicarakan sejumlah isu yang sebelumnya dianggap tabu.
Dalam dunia kerja, perbedaan cara pandang antargenerasi bahkan dapat menjadi kekuatan apabila organisasi mampu mengelolanya dengan baik. Para peneliti menilai kebutuhan dasar seperti merasa dihargai dan terhubung sebenarnya tetap dimiliki pekerja lintas generasi, meskipun cara mereka memenuhi kebutuhan tersebut dapat berbeda.
Setiap generasi tumbuh menghadapi tantangan yang berbeda.
Generasi sebelumnya menjalani masa muda ketika teknologi digital belum berkembang seperti sekarang. Gen Z menghadapi dunia dengan arus informasi yang sangat cepat, media sosial, perubahan pola kerja hingga perkembangan kecerdasan buatan.
Karena itu, membandingkan generasi hanya berdasarkan siapa yang paling kuat atau paling lemah dapat menyederhanakan persoalan.
Tantangan bagi Gen Z adalah memanfaatkan keunggulan teknologi tanpa kehilangan kemampuan dasar seperti disiplin, komunikasi, kesabaran, ketahanan menghadapi kegagalan dan kemampuan membangun hubungan di dunia nyata.
Sementara bagi orang tua, guru dan lingkungan kerja, tantangannya adalah memahami perubahan tersebut tanpa terburu-buru memberikan stereotip.
Gen Z bukan generasi tanpa kelemahan. Namun, mereka juga bukan generasi yang dapat disimpulkan hanya dengan label “lemah” atau “manja”.
Seperti generasi lainnya, mereka memiliki tantangan sekaligus kekuatan yang akan berkembang sesuai lingkungan, pengalaman dan kesempatan yang diperoleh.