Akan tetapi, mengganti gula pasir dengan gula merah tidak otomatis membuat makanan menjadi lebih sehat. Keduanya tetap menyumbang gula dan kalori sehingga jumlah pemakaian perlu diperhatikan.
Pertanyaan ini cukup sering muncul karena gula merah dianggap lebih alami dan memiliki kandungan mineral. Memang, sebagian produk gula merah masih mempertahankan sejumlah komponen dari bahan bakunya.
Namun, dari sisi kesehatan, gula merah dan gula putih sama-sama merupakan sumber gula. Kandungan mineral yang terdapat dalam gula merah tidak cukup untuk menjadikannya pengganti makanan bergizi.
Dampak konsumsi keduanya bergantung pada jumlah yang dikonsumsi, pola makan secara keseluruhan, dan kondisi kesehatan seseorang. Oleh karena itu, gula merah sebaiknya tidak dipromosikan sebagai pemanis yang bebas risiko atau pasti lebih baik daripada gula putih.
Jika ingin mengurangi asupan gula, langkah yang lebih efektif adalah membatasi jumlah pemanis yang ditambahkan, apa pun jenisnya.
Walaupun sering digunakan dalam makanan tradisional, gula merah tetap perlu dikonsumsi secara wajar. Asupan gula berlebihan yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko sejumlah masalah kesehatan.
Gula merah menyumbang energi, tetapi tidak menyediakan protein atau serat dalam jumlah berarti. Jika digunakan berlebihan tanpa diimbangi kebutuhan energi, asupan kalori harian dapat meningkat dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
Gula dalam gula merah dapat meningkatkan kadar glukosa darah setelah dikonsumsi. Orang yang memiliki diabetes atau perlu mengendalikan gula darah sebaiknya memperhatikan jumlah konsumsinya dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Mengganti gula putih dengan gula merah tanpa mengurangi jumlahnya bukan strategi yang dapat diandalkan untuk mengendalikan gula darah.
Konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan atau terlalu sering dapat meningkatkan risiko gigi berlubang. Bakteri di dalam mulut memanfaatkan gula dan menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan gigi.
Menjaga kebersihan gigi, menggunakan pasta gigi berfluorida, dan membatasi frekuensi konsumsi makanan manis dapat membantu mengurangi risiko tersebut.
Gula merah tidak harus sepenuhnya dihindari oleh semua orang. Hal yang lebih penting adalah mengatur jumlahnya dan menjadikannya bagian kecil dari pola makan seimbang.
Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
Membiasakan lidah dengan rasa manis yang tidak terlalu kuat juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pemanis tambahan secara bertahap.
Selain jumlah konsumsi, kualitas bahan pangan juga perlu diperhatikan. Pilih gula merah yang kemasannya bersih, tidak menunjukkan tanda kerusakan, serta memiliki informasi produsen yang jelas jika tersedia.
Warna gula merah dapat berbeda menurut bahan baku dan proses pembuatan. Karena itu, warna saja tidak cukup untuk menentukan kualitas atau keaslian suatu produk.
Setelah dibeli, simpan gula merah dalam wadah bersih dan tertutup rapat di tempat yang kering serta tidak terkena panas berlebihan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir