Pendidikan
Rahman Abdullah

Guru Punya Peran Besar di Era AI, Menag Dorong Pendidikan Berbasis Cinta dan Akhlak

Guru Punya Peran Besar di Era AI, Menag Dorong Pendidikan Berbasis Cinta dan Akhlak

19 Agustus 2026 | 19:36

Keboncinta.com-- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi di saat yang sama peserta didik juga menghadapi tantangan baru berupa banjir informasi, perubahan nilai sosial, hingga fenomena post-truth.

Di tengah kondisi tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa tugas guru tidak boleh berhenti pada kegiatan menyampaikan materi pelajaran. Guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni membantu membentuk karakter, akhlak, dan kearifan peserta didik agar mampu menggunakan ilmu secara bertanggung jawab.

Pesan tersebut disampaikan Menag ketika mengukuhkan Pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru Kementerian Agama periode 2026–2030 sekaligus membuka Simposium Organisasi Profesi Guru di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Biaya, Ini Alasan Pelunasan Haji 2027 Diusulkan Lebih Panjang

Guru Diminta Tidak Hanya Fokus pada Materi Pelajaran

Menurut Nasaruddin Umar, peran guru di tengah perubahan zaman semakin penting. Guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan sosok yang ikut membangun karakter generasi masa depan.

Ia menekankan bahwa pendidikan harus mampu menanamkan nilai dalam diri peserta didik sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak hanya menghasilkan kecerdasan, tetapi juga melahirkan tindakan yang bermanfaat.

Karena itu, guru diharapkan mampu menjadi sosok yang membimbing peserta didik secara intelektual sekaligus membangun sisi moral dan spiritualnya.

Menag menggambarkan tugas tersebut sebagai upaya untuk menyalakan "lentera hati" dalam diri anak didik. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari penguasaan materi, tetapi juga dari karakter yang terbentuk.

Tantangan Guru Semakin Besar di Era Post-Truth

Menag juga menyoroti fenomena post-truth, sebuah kondisi ketika fakta dan kebenaran berbasis pengetahuan tidak selalu menjadi pertimbangan utama dalam membentuk pandangan masyarakat.

Menurutnya, kualitas keilmuan yang seharusnya menjadi rujukan dapat menghadapi tantangan ketika informasi diterima masyarakat tanpa melalui proses berpikir yang memadai.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Peserta didik tidak cukup hanya dibekali kemampuan menghafal dan memahami informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memilah informasi serta mempertimbangkan dampak dari pengetahuan yang mereka gunakan.

Di sinilah guru memiliki posisi penting untuk membangun kemampuan berpikir sekaligus menanamkan nilai agar peserta didik tidak mudah terbawa arus informasi.

Baca Juga: Bahasa Asing Mulai Kelas 1 SD, Guru dan Sekolah Harus Siap? Ini yang Sedang Dikaji Pemerintah

Menag Soroti Perkembangan AI

Perkembangan AI menjadi salah satu perhatian khusus dalam pesan Menag kepada para guru. Teknologi kecerdasan buatan dinilai memiliki potensi besar untuk membantu proses pembelajaran dan kehidupan manusia.

Namun, kemajuan teknologi tersebut harus berjalan bersama pembentukan akhlak. Menag mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tanpa landasan moral dapat menimbulkan persoalan baru.

Karena itu, pendidikan agama dan pembentukan karakter tidak boleh dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Menag, ilmu pengetahuan perlu mendapatkan arah dan bimbingan nilai agar kemajuan yang dihasilkan tetap berpihak pada kepentingan manusia.

Belajar dari Baitul Hikmah

Dalam pesannya, Menag juga mengangkat sejarah perkembangan keilmuan pada masa kejayaan Islam melalui Baitul Hikmah di Baghdad.

Ia melihat Baitul Hikmah sebagai salah satu contoh penting mengenai keterhubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan agama.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan sains tidak harus berjalan terpisah dari nilai spiritual. Sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi dalam membentuk peradaban yang maju sekaligus memiliki landasan moral.

Guru Didorong Mengembangkan Ekoteologi

Menag berharap organisasi profesi guru di lingkungan Kementerian Agama dapat melahirkan gagasan dan terobosan baru dalam pendidikan.

Salah satu pendekatan yang didorong adalah pendidikan yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bersama melalui filosofi ekoteologi.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab moral dan nilai agama.

Dengan cara tersebut, pendidikan diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Baca Juga: Deep Learning 2026 Bukan Kurikulum Baru, Ini Perubahan Cara Sekolah Memandang Pembelajaran

Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Perhatian

Selain ekoteologi, Menag kembali menekankan pentingnya pendekatan pendidikan berbasis cinta.

Pendidikan agama, menurutnya, tidak seharusnya menjadi sarana untuk menanamkan kebencian kepada kelompok atau pemeluk agama lain. Sebaliknya, pendidikan perlu membantu anak memahami keberagaman dan membangun sikap saling menghargai.

Melalui kurikulum berbasis cinta, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu hidup berdampingan di tengah masyarakat yang beragam.

Pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter peserta didik agar memiliki pengetahuan, kecerdasan emosional, dan sikap yang bertanggung jawab.

Pendidikan Harus Memadukan Nalar dan Spiritualitas

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amin Suyitno turut menyampaikan bahwa pendidikan yang dikembangkan Kementerian Agama diarahkan pada perpaduan antara kemampuan berpikir rasional dan spiritualitas.

Integrasi tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik mengembangkan potensi secara lebih utuh. Kemampuan intelektual tidak berdiri sendiri, tetapi diarahkan oleh nilai sehingga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.

Di tengah perkembangan AI dan derasnya arus informasi, pendekatan semacam ini menjadi semakin penting. Peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk memahami teknologi sekaligus memiliki prinsip dalam menggunakannya.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Bisa Jadi Penuh Waktu 2027, Menag Beri Sinyal Penting untuk Guru

Dengan demikian, pesan Menag kepada guru menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di era AI bukan hanya bagaimana memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan kemajuan teknologi tetap diiringi karakter, akhlak, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemampuan hidup dalam keberagaman.

Guru pun diharapkan tidak sekadar menjadi pengajar, tetapi menjadi pembimbing yang membantu peserta didik menemukan arah di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.***

Tags:
pendidikan AI Guru

Komentar Pengguna