KebonCinta.com — Seorang guru SMK Telkom Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi jaringan untuk memberikan kesempatan praktik yang lebih merata kepada seluruh siswa.
Inovasi tersebut bernama PORTENET STEM atau Portable Network Teaching Kit, yang dikembangkan Agus Prianto sebagai media pembelajaran praktik jaringan komputer.
Berdasarkan publikasi resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Kamis, 5 November 2026, inovasi tersebut telah digunakan untuk memberikan pengalaman praktik secara langsung kepada 118 siswa.
BERAWAL DARI KETERBATASAN ALAT PRAKTIK
Baca Juga: PGRI Kuningan Siapkan HUT ke-81, Ada Pembinaan 700 Pengurus dan Edukasi Anti-Bullying untuk Guru
Agus Prianto mengembangkan PORTENET STEM setelah melihat kendala dalam pelaksanaan pembelajaran praktik di sekolah.
Jumlah siswa yang cukup banyak, kebutuhan berpindah ruang kelas, dan berbagai peralatan praktik membuat kegiatan pembelajaran membutuhkan persiapan yang tidak sedikit.
Sebelumnya, kesempatan praktik menggunakan perangkat tertentu lebih banyak diperoleh siswa yang mengikuti pembinaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
Agus ingin menghadirkan media yang memungkinkan siswa lainnya memperoleh pengalaman belajar serupa.
Menurutnya, seluruh siswa seharusnya mempunyai kesempatan mengembangkan keterampilan melalui praktik langsung.
MEMANFAATKAN MATERIAL BEKAS YANG MASIH LAYAK
Salah satu hal menarik dari pengembangan PORTENET STEM adalah pemanfaatan bahan bekas kegiatan praktik dan lomba.
Agus menggunakan material seperti papan tripleks, kabel fiber optik, serta konektor yang masih dapat digunakan.
Bahan tersebut dirakit menjadi perangkat praktik jaringan yang lebih ringkas dan mudah dipindahkan.
Dengan cara itu, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan tanpa harus menyiapkan seluruh perlengkapan besar dari awal.
Pemanfaatan bahan yang tersedia juga menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu memerlukan pengadaan peralatan baru dengan biaya besar.
PORTENET STEM MEMADUKAN TEORI DAN PRAKTIK
PORTENET STEM dikembangkan menggunakan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics atau STEM.
Pendekatan ini menghubungkan pengetahuan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dalam satu pengalaman belajar.
Dalam kegiatan praktik jaringan komputer, siswa diajak memahami cara kerja sambungan kabel fiber optik dan melakukan pengukuran.
Mereka juga belajar mengidentifikasi persoalan ketika proses praktik belum berjalan sesuai harapan.
Kegiatan tersebut membantu siswa menggunakan pengetahuan yang diperoleh di kelas untuk menyelesaikan persoalan secara langsung.
DILENGKAPI MODUL DAN LEMBAR KERJA
Agus tidak hanya menyediakan perangkat praktik.
Ia juga menyiapkan modul dan lembar kerja peserta didik untuk membantu proses pembelajaran.
Materi disusun agar siswa dapat mengikuti tahapan kegiatan secara lebih terarah.
Dalam proses pembelajaran, peserta didik diajak bekerja secara berkelompok, melakukan pengamatan, mencoba perangkat, serta menganalisis hasil.
Pendekatan berbasis proyek digunakan agar siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami bagaimana suatu sistem bekerja.
118 SISWA MENDAPAT KESEMPATAN PRAKTIK
Inovasi tersebut diterapkan dalam tiga kali pertemuan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.
Sebanyak 118 siswa memperoleh kesempatan terlibat langsung dalam kegiatan praktik.
Menurut publikasi Kemendikdasmen, siswa menunjukkan perubahan dalam keterlibatan pembelajaran, dari yang sebelumnya lebih banyak mengamati menjadi melakukan kegiatan teknis sendiri.
Pengalaman praktik tersebut menjadi salah satu tujuan utama inovasi yang dikembangkan Agus.
HASIL BELAJAR MENINGKAT
Kemendikdasmen melaporkan adanya peningkatan hasil asesmen setelah penggunaan PORTENET STEM.
Capaian kompetensi pada asesmen awal dilaporkan sebesar 46 persen, kemudian meningkat menjadi 87,98 pada hasil setelah penerapan inovasi.
Dari 118 peserta, sebanyak 117 siswa mencapai ketuntasan belajar.
Jumlah tersebut setara dengan 99,15 persen dari keseluruhan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan perangkat tersebut.
Hasil ini merupakan capaian yang dilaporkan dari penerapan inovasi pada kelompok siswa terkait, bukan bukti bahwa metode yang sama pasti menghasilkan persentase identik di seluruh sekolah.
PENERIMAAN SISWA DAN PENILAIAN GURU JUGA DIUKUR
Dalam pengembangan pembelajaran, Agus turut mengumpulkan umpan balik dari peserta didik dan guru pengamat.
Angket terhadap 80 siswa menunjukkan nilai penerimaan dan kebermanfaatan sebesar 78,36 persen.
Sementara itu, tiga guru pengamat memberikan penilaian rata-rata 83,33 persen dengan kategori sangat baik.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai respons terhadap kegiatan pembelajaran yang telah diterapkan.
Namun, hasil penilaian belum dapat disimpulkan sebagai penelitian nasional mengenai efektivitas seluruh media pembelajaran STEM.
INOVASI GURU DAPAT DISESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN SEKOLAH
Pengalaman Agus menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas dapat menjadi dorongan untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang kreatif.
Guru dapat mengevaluasi kebutuhan siswa dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia selama peralatan aman digunakan.
Dalam bidang teknik komputer dan jaringan, kegiatan praktik juga harus mengikuti prosedur keselamatan serta standar pembelajaran yang berlaku.
Pemanfaatan alat hasil modifikasi memerlukan pemeriksaan agar tidak membahayakan peserta didik.
PEMBELAJARAN BERMAKNA TIDAK HARUS MAHAL
Melalui PORTENET STEM, Agus berupaya menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencoba, menemukan kesalahan, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah.
Kegiatan tersebut diharapkan memperkuat rasa percaya diri sekaligus kemampuan teknis peserta didik.
Kemendikdasmen menjadikan pengalaman guru SMK Telkom Purwokerto sebagai contoh praktik baik pembelajaran yang memberikan kesempatan lebih merata.
Informasi lengkap mengenai inovasi tersebut dapat dibaca melalui situs resmi https://www.kemendikdasmen.go.id.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pengembangan media sederhana, apabila disertai perencanaan yang baik, dapat membantu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pendidikan kejuruan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir