News
M. Fadhli Dzil Ikram

Harga Emas Pekan Ini Jadi Sorotan, Pemilu Paruh Waktu AS Bisa Pengaruhi Pergerakan Pasar

Harga Emas Pekan Ini Jadi Sorotan, Pemilu Paruh Waktu AS Bisa Pengaruhi Pergerakan Pasar

02 November 2026 | 07:58

Keboncinta.com — Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan pertama November 2026. Pelemahan harga logam mulia tersebut terjadi setelah emas gagal mempertahankan posisinya di atas US$ 3.900 per troy ounce. Kondisi ini membuat sejumlah analis Wall Street mulai mengurangi optimisme terhadap prospek emas dalam waktu dekat.

Berdasarkan survei mingguan Kitco News, mayoritas analis pasar memperkirakan harga emas berpotensi melanjutkan penurunan. Sentimen tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perkembangan politik Amerika Serikat (AS), kebijakan suku bunga bank sentral, pergerakan harga minyak, hingga rilis data ekonomi penting.

Menariknya, pandangan investor ritel justru berbeda dengan mayoritas analis profesional. Meskipun harga emas mengalami tekanan cukup besar, sebagian besar investor individu masih berharap logam mulia tersebut mampu kembali menguat.
Survei Kitco News: Mayoritas Analis Prediksi Harga Emas Turun
Survei Emas Mingguan Kitco News yang melibatkan 16 analis Wall Street menunjukkan perubahan sentimen cukup signifikan. Kegagalan harga emas bertahan di atas US$ 3.900 membuat keyakinan terhadap potensi kenaikan harga semakin berkurang.

Dari total responden, hanya satu analis atau sekitar 6 persen yang memperkirakan harga emas akan mengalami penguatan pada pekan ini. Sebaliknya, sebanyak 10 analis atau 63 persen memprediksi harga emas masih berpotensi melemah.

Sementara itu, lima analis lainnya atau sekitar 31 persen memilih bersikap netral. Mereka memperkirakan harga emas bergerak mendatar atau belum menunjukkan arah pergerakan yang jelas.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar profesional mulai lebih berhati-hati dalam menghadapi pergerakan emas. Penurunan harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai menjadi sinyal bahwa tren kenaikan sebelumnya sedang menghadapi tantangan.

Berbeda dengan analis profesional, investor ritel masih menunjukkan optimisme meskipun tidak terlalu kuat. Dalam jajak pendapat yang diikuti 184 responden, sebanyak 98 investor atau 53 persen memperkirakan harga emas akan kembali menguat.

Sebanyak 56 investor atau 30 persen memperkirakan harga emas masih akan mengalami penurunan. Adapun 30 responden lainnya atau sekitar 16 persen memperkirakan harga bergerak stabil dalam periode perdagangan pekan ini.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor individu masih melihat emas sebagai instrumen investasi yang memiliki prospek jangka panjang, meskipun kondisi pasar saat ini sedang mengalami tekanan.
Analis Memperingatkan Potensi Harga Emas Turun ke US$ 3.750

Baca Juga: Cara Menyiapkan Bukti Kondisi Ekonomi untuk KIP Kuliah: Dokumen dan Konsistensi Data Keluarga 


Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, menilai daya tarik emas mulai mengalami penurunan setelah sebelumnya mencatatkan harga yang jauh lebih tinggi.

Menurutnya, emas sempat diperdagangkan mendekati US$ 4.700 pada akhir Agustus. Namun, perkembangan harga terbaru memperlihatkan perubahan tren yang perlu diperhatikan investor.

Secara teknikal, posisi emas bahkan telah bergerak di bawah batas bawah Bollinger Bands. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat dibandingkan rata-rata pergerakan harga dalam 20 hari terakhir.

Meski demikian, Chandler belum melihat adanya indikasi aksi jual besar-besaran yang benar-benar tidak terkendali. Ia memperingatkan bahwa apabila harga emas terus melemah hingga mencatatkan level terendah baru tahun ini, kemungkinan penurunan menuju kisaran US$ 3.750 hingga US$ 3.850 perlu diwaspadai.

Prediksi pelemahan juga disampaikan Head of Currency Strategy InvestingLive, Adam Button. Ia menilai pekan ini menjadi periode penting bagi pasar keuangan karena terdapat sejumlah perkembangan politik dan geopolitik yang berpotensi memengaruhi keputusan investor.

Salah satu perhatian utama adalah pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat. Selain itu, potensi meningkatnya ketegangan konflik yang melibatkan Iran juga dapat memicu perubahan sentimen di pasar global.

Button menilai respons politik Amerika Serikat terhadap perkembangan geopolitik dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Situasi tersebut berpotensi mendorong investor mengurangi risiko dalam portofolio mereka.


Penembusan Level US$ 4.000 Jadi Sinyal Tekanan Teknikal
Pandangan negatif terhadap prospek emas juga disampaikan Chief Market Strategist SIA Wealth Management. Ia menilai penurunan harga emas hingga menembus level US$ 4.000 merupakan perkembangan teknikal yang cukup penting.

Level tersebut sebelumnya menjadi salah satu area psikologis yang diperhatikan pelaku pasar. Ketika harga berhasil bergerak di bawahnya, tekanan jual berpotensi semakin besar karena investor mulai mempertimbangkan kembali strategi investasinya.

Analis FxPro, Alex Kuptsikevich, juga memperkirakan harga emas masih akan bergerak dalam tren penurunan. Menurut pengamatannya, emas telah mengalami tekanan selama hampir dua setengah bulan dengan pola pembentukan titik tertinggi yang semakin rendah.

Pada perdagangan Jumat pekan sebelumnya, harga emas spot tercatat turun hingga sekitar US$ 3.940 per troy ounce.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:

Komentar Pengguna