KebonCinta.com — Hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mengakibatkan kerusakan sejumlah fasilitas pendidikan, termasuk bangunan SMP Negeri 1 Luragung.
Berdasarkan laporan Kuningan Mass yang diterbitkan pada Rabu, 4 November 2026, sebanyak 14 ruangan di SMPN 1 Luragung terdampak kerusakan, terutama pada bagian atap dan plafon.
Dari jumlah tersebut, tujuh ruang kelas menjadi perhatian utama pihak sekolah. Lima ruang di antaranya dinilai sudah tidak aman digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai keselamatan peserta didik dan keberlangsungan kegiatan pembelajaran.
14 RUANGAN TERDAMPAK KERUSAKAN
Baca Juga: Kemenkes Ungkap 43 Ribu Fasilitas Kesehatan Terhubung SATUSEHAT, 11 Inovator AI Unjuk Teknologi Baru
Kepala SMPN 1 Luragung, Dadang Sutisna, menjelaskan kondisi bangunan saat ditemui wartawan pada Selasa, 3 November 2026.
Menurutnya, cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan pada belasan ruangan di lingkungan sekolah.
Persoalan yang paling terlihat berada pada bagian plafon dan konstruksi atap.
Selain itu, terdapat perubahan pada bagian struktur bangunan yang perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi tersebut memerlukan perhatian karena kerusakan atap dapat menimbulkan risiko tambahan ketika terjadi hujan dan angin kencang.
Sekolah harus mempertimbangkan keselamatan seluruh warga sebelum menggunakan kembali ruangan yang mengalami kerusakan.
LIMA KELAS DINILAI TIDAK LAYAK DIGUNAKAN
Dari 14 ruangan terdampak, pihak sekolah menyoroti tujuh ruang kelas yang membutuhkan penanganan.
Lima ruang di antaranya dinilai tidak layak digunakan karena kondisi kayu penyangga atap yang mengkhawatirkan.
Perlu dibedakan bahwa angka 14 menunjukkan keseluruhan ruangan yang terdampak, sementara angka lima merujuk pada kelas yang dinilai tidak aman untuk kegiatan pembelajaran.
Pihak sekolah belum mengumumkan laporan pemeriksaan teknis terperinci yang dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan perbaikan seluruh bangunan.
Oleh karena itu, keputusan penggunaan ruangan harus mengutamakan keselamatan dan mempertimbangkan penilaian petugas yang berwenang.
SEKOLAH SIAPKAN LANGKAH DARURAT
SMPN 1 Luragung mulai mempertimbangkan sejumlah alternatif untuk menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Pilihan yang sedang dibahas mencakup penggabungan kelas serta pembelajaran daring apabila diperlukan.
Pengaturan kegiatan juga dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan keselamatan ruangan.
Namun, alternatif tersebut masih berupa langkah yang dipertimbangkan sekolah, bukan keputusan bahwa seluruh siswa sudah melaksanakan pembelajaran secara daring.
Pihak sekolah perlu menyesuaikan kegiatan dengan ketersediaan ruang yang aman serta kebutuhan peserta didik.
KOMITE SEKOLAH MINTA PENANGANAN SEGERA
Ketua Komite SMPN 1 Luragung, Yayan Irman Suyana, meminta agar kerusakan sekolah mendapatkan perhatian pemerintah.
Menurutnya, persoalan pada bangunan telah menjadi keluhan sebelum kejadian hujan badai.
Komite sekolah sebelumnya juga telah mengusulkan perbaikan karena bagian atap kayu bangunan sudah tua dan mengalami pelapukan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran ketika hujan turun.
Yayan berharap pemerintah daerah dapat segera membantu penanganan sehingga peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan secara aman.
CUACA EKSTREM MELANDA LIMA KECAMATAN
Kerusakan fasilitas SMPN 1 Luragung terjadi dalam rangkaian cuaca ekstrem yang juga berdampak pada wilayah lain di Kabupaten Kuningan.
Berdasarkan laporan terkait yang mengutip Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, hujan deras dan angin kencang pada 2 November melanda sejumlah desa di lima kecamatan.
Wilayah yang terdampak mencakup Luragung, Cidahu, Ciwaru, Cilimus, dan Cimahi.
BPBD melakukan penanganan darurat serta pendataan kerusakan setelah kejadian.
Petugas juga menangani material pohon tumbang dan gangguan pada sejumlah fasilitas umum.
Namun, data kerusakan di lima kecamatan tersebut tidak boleh disamakan dengan jumlah ruangan rusak di SMPN 1 Luragung.
KESELAMATAN PESERTA DIDIK MENJADI PRIORITAS
Kerusakan bangunan sekolah dapat memengaruhi proses pembelajaran, terutama jika terjadi pada ruang kelas yang digunakan setiap hari.
Karena itu, penanganan awal perlu berfokus pada pengamanan lokasi dan pencegahan penggunaan fasilitas yang tidak aman.
Sekolah juga perlu menyampaikan informasi yang jelas kepada orang tua mengenai pengaturan kegiatan belajar.
Apabila diperlukan perubahan lokasi pembelajaran, keputusan tersebut sebaiknya memperhatikan akses dan kebutuhan peserta didik.
Upaya perbaikan bangunan juga memerlukan koordinasi antara satuan pendidikan, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah.
BELUM ADA JADWAL PERBAIKAN YANG DIPASTIKAN
Hingga laporan yang diterbitkan pada 4 November 2026, belum terdapat kepastian tanggal dimulainya perbaikan seluruh ruang yang rusak di SMPN 1 Luragung.
Besaran anggaran maupun jangka waktu penyelesaian pekerjaan juga belum diumumkan secara terperinci.
Karena itu, masyarakat perlu menunggu informasi resmi sebelum menyimpulkan bahwa renovasi telah dimulai atau rampung.
Sekolah dan komite berharap pemerintah dapat memberikan penanganan sesuai tingkat kerusakan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keamanan gedung sekolah merupakan bagian penting dalam menjamin keberlangsungan hak belajar peserta didik di Kabupaten Kuningan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir