KebonCinta.com - Indonesia memiliki daya tarik tersendiri sebagai destinasi pendidikan tinggi bagi mahasiswa internasional. Biaya pendidikan yang relatif terjangkau dan kekayaan budaya menjadi dua keunggulan yang membuat Indonesia diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. Namun, daya tarik tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan persepsi positif mengenai peluang kerja setelah lulus.
Gambaran tersebut terungkap dalam laporan Student Mobility and Motivation: ASEAN 2026 yang dirilis pada 2 November 2026. Laporan ini mengolah sekitar 500.000 respons calon mahasiswa internasional dari basis data QS International Student Survey (ISS) dan QS Global Student Flows selama lima tahun terakhir.
Baca Juga: Dari Tiger Cup 1996 hingga FIFA ASEAN Cup 2026, Begini Sejarah Sepak Bola ASEAN
Khusus edisi 2026, survei melibatkan 42.115 responden dari 191 lokasi. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui platform Qualtrics pada 5 Januari hingga 6 April 2026.
Hasil survei memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki modal kompetitif dalam menarik mahasiswa asing. Meski demikian, persaingan dengan negara-negara ASEAN lainnya semakin ditentukan oleh kualitas hidup, prospek karier, dan manfaat pendidikan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Garuda Juara! Timnas Indonesia Taklukkan Thailand lewat Penalti 4-2, Raih Trofi FIFA ASEAN Cup 2026
Dari aspek keterjangkauan biaya pendidikan, sebanyak 47 persen responden menilai Indonesia sebagai negara yang menawarkan biaya kuliah relatif terjangkau. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Singapura yang memperoleh 19 persen dan Filipina sebesar 46 persen.
Namun, Indonesia masih berada di bawah Malaysia dengan 54 persen dan Thailand sebesar 49 persen. Data ini menunjukkan bahwa meskipun biaya pendidikan menjadi salah satu keunggulan Indonesia, negara tetangga juga memiliki daya tarik serupa.
Baca Juga: John Herdman Cadangkan Rizky Ridho di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Thom Haye Langsung Starter
Selain persoalan biaya, kekayaan budaya menjadi nilai tambah yang cukup menonjol. Sebanyak 45 persen responden menganggap Indonesia sebagai negara tujuan studi dengan kekayaan budaya. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan Thailand sebesar 43 persen, Malaysia 40 persen, Filipina 38 persen, dan Singapura 35 persen.
Keunggulan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman pendidikan di Indonesia tidak hanya dipandang dari aspek akademik, tetapi juga kesempatan mengenal keragaman sosial, tradisi, dan kebudayaan.
Meski demikian, persepsi mengenai kualitas hidup masih menjadi tantangan. Singapura menempati posisi teratas dengan 54 persen responden yang menilai negara tersebut memiliki kualitas hidup baik. Malaysia memperoleh 46 persen, Thailand 44 persen, sedangkan Indonesia hanya 32 persen dan Filipina 29 persen.
Persoalan yang lebih menonjol terlihat pada persepsi mengenai kesempatan kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Dari lima negara ASEAN yang dibandingkan, Indonesia menempati posisi terbawah dalam penilaian peluang kerja bagi lulusan.
Singapura menjadi negara dengan persepsi peluang kerja terbaik sebesar 54 persen. Thailand menyusul dengan 37 persen, Malaysia 30 persen, dan Filipina 29 persen. Sementara itu, Indonesia hanya memperoleh 28 persen.
Rendahnya penilaian tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi dan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan daya saing pendidikan internasional.
Sebab, calon mahasiswa asing tidak lagi hanya mempertimbangkan biaya pendidikan ketika menentukan negara tujuan studi. Mereka juga memperhatikan kemungkinan memperoleh pekerjaan, mengembangkan karier, serta mendapatkan manfaat ekonomi setelah menyelesaikan pendidikan.
Dalam survei QS ISS 2026, peluang kerja bagi lulusan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi calon mahasiswa internasional dengan persentase 41 persen. Faktor ini memiliki tingkat kepentingan yang setara dengan keterjangkauan biaya studi.
Bahkan, peluang kerja setelah menyelesaikan pendidikan atau post-study work opportunities memperoleh perhatian lebih tinggi, yakni 42 persen.
Perubahan pertimbangan calon mahasiswa internasional menunjukkan bahwa keputusan memilih negara tujuan pendidikan semakin kompleks. Pendidikan berkualitas tetap menjadi kebutuhan utama, tetapi prospek pekerjaan dan keberlanjutan karier turut menentukan daya tarik suatu negara.
Dalam laporan tersebut, sebanyak 48 persen responden mempertimbangkan keterbukaan negara terhadap mahasiswa internasional. Sementara itu, 45 persen memperhatikan kualitas pendidikan dan 40 persen mempertimbangkan reputasi negara sebagai destinasi studi.
Adapun faktor lain yang menjadi pertimbangan meliputi biaya hidup terjangkau sebesar 39 persen, kedekatan dengan negara asal sebesar 14 persen, serta rekomendasi orang lain sebesar 12 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa faktor ekonomi tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan membayar biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir