KebonCinta.com – Indonesia dan Tiongkok semakin serius membicarakan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari kerja sama ekonomi dan teknologi.
Pada Maret 2025, pembicaraan tersebut bahkan mencapai satu gagasan besar: membangun pusat kerja sama dan inovasi AI Tiongkok–ASEAN di Indonesia.
Gagasan itu muncul ketika Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menerima Sekretaris Partai Kota Nanning, Provinsi Guangxi, Nong Shengwen, di Jakarta pada 25 Maret 2025. Pertemuan tersebut membahas pengembangan AI, smart city, pertanian cerdas, infrastruktur digital, hingga peningkatan talenta digital Indonesia.
Namun lebih dari satu tahun setelah pertemuan tersebut, perkembangan regionalnya mengambil bentuk yang sedikit berbeda.
China-ASEAN AI Application Cooperation Center justru mulai dibangun di Nanning, Tiongkok, pada September 2025. Pada Maret 2026, KBRI Beijing menyatakan pusat tersebut telah didirikan dan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemitraan AI Tiongkok dengan Indonesia serta negara ASEAN lainnya.
Artinya, gagasan kerja sama AI regional tetap berkembang, tetapi lokasi pusat yang telah terkonfirmasi secara resmi sejauh ini berada di Nanning.
Pertemuan pada Maret 2025 berangkat dari hubungan digital Indonesia dan Tiongkok yang sudah cukup luas.
Dalam pertemuan tersebut, Meutya Hafid menyatakan kerja sama infrastruktur digital dengan Tiongkok telah berkontribusi terhadap pengembangan konektivitas di Indonesia, termasuk melalui jaringan 4G dan 5G. Pemerintah kemudian ingin memperluas kerja sama ke teknologi AI.
Indonesia melihat Nanning sebagai salah satu kota yang menarik untuk dipelajari.
Kota tersebut berada di Guangxi dan selama bertahun-tahun menjadi salah satu pintu penting hubungan ekonomi Tiongkok dengan negara-negara ASEAN. Nanning juga menjadi lokasi penyelenggaraan China-ASEAN Expo.
Dalam pertemuan dengan Komdigi, delegasi Nanning menawarkan dukungan kebijakan dan fasilitas kepada perusahaan Indonesia yang ingin mengembangkan teknologi bersama di kota tersebut.
Nong Shengwen kemudian menyampaikan harapan agar pusat kerja sama dan inovasi AI antara Tiongkok dan ASEAN dapat dibangun di Indonesia dengan dukungan Komdigi.
Saat itu statusnya masih penjajakan dan usulan, bukan proyek yang sudah ditetapkan.
Perbedaan ini penting.
Pertemuan diplomatik dapat menghasilkan gagasan dan arah kerja sama, tetapi belum otomatis berarti bangunan, lembaga, anggaran, maupun struktur organisasi sudah terbentuk.
Perkembangannya menjadi lebih konkret pada September 2025.
Pemerintah Tiongkok mengumumkan dimulainya pembangunan China-ASEAN AI Application Cooperation Center di Nanning pada 18 September 2025.
Menurut pemerintah Tiongkok, pusat tersebut diarahkan untuk membangun infrastruktur AI, menyediakan platform open-source, mengembangkan talenta, serta membantu penerapan AI secara praktis di kawasan.
Pada saat yang sama, Tiongkok dan negara-negara ASEAN juga meluncurkan dialog tingkat menteri pertama mengenai kecerdasan artifisial.
Forum tersebut menciptakan mekanisme baru untuk membicarakan kerja sama AI secara lebih terstruktur antara Tiongkok dan ASEAN.
Jadi proyek tersebut berkembang dari sekadar kolaborasi antarkota atau bilateral menuju pendekatan regional.
Lokasi pusat berada di Nanning bukan berarti Indonesia keluar dari pembicaraan.
Pada Maret 2026, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing kembali membahas penguatan kerja sama dengan Guangxi di bidang AI, pertanian cerdas, dan pendidikan.
KBRI Beijing secara khusus menyebut Pusat Aplikasi AI ASEAN–Tiongkok telah didirikan di Nanning dan dapat digunakan untuk memperkuat kemitraan AI dengan Indonesia maupun ASEAN secara lebih luas.
Ini memperlihatkan bentuk kerja samanya mulai berubah.
Tidak harus seluruh infrastruktur berada di Indonesia agar perusahaan, universitas, startup, atau lembaga Indonesia dapat memperoleh manfaat dari pusat tersebut.
Kolaborasi dapat berbentuk riset bersama, pertukaran talenta, pengembangan aplikasi, pengujian teknologi, sampai kerja sama komersial.
AI sering dibicarakan dalam konteks chatbot atau pembuatan gambar.
Namun pemerintah Indonesia juga melihat potensinya di sektor yang jauh lebih dekat dengan kebutuhan dasar masyarakat: pertanian.
Dalam pertemuan Maret 2025, Meutya Hafid menyebut pengembangan AI diarahkan antara lain untuk mendukung pertanian dan ketahanan pangan.
Penerapannya bisa sangat luas.
AI dapat digunakan untuk menganalisis citra tanaman, membantu mendeteksi penyakit, memperkirakan kebutuhan air, membaca kondisi tanah, memprediksi hasil panen, atau membantu penggunaan pupuk dan pestisida secara lebih presisi.
Namun manfaat tersebut tidak terjadi hanya dengan membeli perangkat lunak.
AI pertanian tetap membutuhkan data lokal, sensor, konektivitas, kemampuan petani menggunakan teknologi, dan model yang memahami kondisi pertanian Indonesia.
Karena itu, transfer pengetahuan menjadi sama pentingnya dengan transfer teknologi.
Bidang lain adalah smart city.
Komdigi melihat pengalaman Nanning sebagai salah satu contoh yang bisa dipelajari Indonesia dalam memanfaatkan AI untuk pengelolaan perkotaan.
Konsep smart city dapat mencakup banyak hal.
AI dapat membantu mengoptimalkan lalu lintas, memantau transportasi, menganalisis penggunaan energi, memperkirakan kebutuhan layanan publik, sampai membantu pemerintah mengolah data kota dalam jumlah sangat besar.
Namun istilah “smart” tidak otomatis berarti suatu kota menjadi lebih baik.
Teknologi semacam pengenalan wajah, kamera pintar, atau analisis data penduduk juga membawa pertanyaan mengenai privasi, keamanan data, dan batas penggunaan sistem pengawasan.
Karena itu, kerja sama teknologi perlu berjalan bersama standar tata kelola yang jelas.
Teknologi AI membutuhkan orang yang mampu membangun sekaligus menggunakannya.
Dalam pertemuan dengan Nanning pada 2025, Meutya Hafid menyampaikan target Indonesia untuk menciptakan 9 juta talenta digital berkapabilitas tinggi, termasuk dalam bidang AI, hingga 2030.
Tantangannya bukan hanya menghasilkan programmer.
Ekosistem AI membutuhkan banyak kemampuan berbeda.
Ada data engineer.
Peneliti machine learning.
Ahli keamanan.
UI/UX designer.
Cloud engineer.
Ahli hukum dan kebijakan.
Sampai orang yang memahami sektor tertentu seperti pertanian, pendidikan, manufaktur, kesehatan, dan pemerintahan.
AI akan jauh lebih berguna jika dikembangkan bersama orang yang benar-benar memahami masalah yang ingin diselesaikan.
Pusat AI di Nanning juga dirancang menyediakan dukungan terhadap platform open-source.
Bagi negara berkembang, pendekatan tersebut cukup menarik.
Model AI open-source atau open-weight tertentu dapat menurunkan hambatan bagi universitas, startup, dan perusahaan yang tidak mempunyai modal sebesar perusahaan teknologi global.
Mereka dapat menguji sistem, menyesuaikan teknologi untuk bahasa atau kebutuhan lokal, dan membangun aplikasi tanpa selalu harus menciptakan model besar sejak awal.
Tetapi murah di awal belum tentu berarti tanpa biaya.
Menjalankan model AI tetap membutuhkan server, GPU, listrik, penyimpanan data, serta SDM.
Karena itu, pusat regional yang menyediakan infrastruktur dan akses komputasi berpotensi mempunyai nilai penting apabila benar-benar dapat dimanfaatkan secara luas.
Perkembangan pusat di Nanning ternyata bukan proyek yang berdiri sendirian.
ASEAN dan Tiongkok telah memasukkan kerja sama digital dan AI secara khusus dalam Plan of Action ASEAN-China Comprehensive Strategic Partnership 2026–2030.
Dokumen tersebut mendorong dialog kebijakan digital, implementasi kerja sama teknologi komunikasi, pengembangan ekonomi digital, e-commerce, transformasi industri, smart manufacturing, serta penguatan kapasitas.
Dengan kata lain, AI mulai ditempatkan sebagai bagian dari hubungan strategis regional.
Bukan lagi sekadar proyek satu startup atau satu kementerian.
Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.
Kerja sama AI Indonesia tidak bersifat eksklusif dengan Tiongkok.
Pada 2026, Indonesia juga mempunyai sejumlah kerja sama digital dan AI dengan mitra lain. Dalam catatan perjanjian internasional Kementerian Luar Negeri, misalnya, Indonesia dan Korea Selatan menandatangani kerja sama mengenai pengembangan digital, serta kerja sama AI dan pemerintahan digital pada 2026.
ASEAN pun menggelar dialog AI dengan Amerika Serikat pada Mei 2026 untuk membahas pengembangan, tata kelola, riset, infrastruktur komputasi, serta keamanan teknologi.
Ini penting karena ekosistem AI dunia sedang mengalami persaingan besar.
Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Eropa, Jepang, dan banyak negara lain mempunyai pendekatan, teknologi, dan perusahaan masing-masing.
Indonesia mempunyai kepentingan untuk mendapatkan akses teknologi tanpa terlalu bergantung pada satu sumber.
Semakin besar kerja sama AI, semakin besar pula kebutuhan data.
Di sinilah persoalan menjadi sensitif.
Sistem kecerdasan artifisial dapat memerlukan data pengguna, data perusahaan, data industri, atau data layanan publik dalam jumlah besar.
Karena itu, proyek bersama dengan perusahaan atau lembaga asing harus mempertimbangkan di mana data disimpan, siapa yang dapat mengakses, untuk tujuan apa data diproses, dan bagaimana data dilindungi.
Indonesia telah mempunyai Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, sementara tata kelola AI nasional juga terus dikembangkan.
Kerja sama internasional idealnya tidak membuat perlindungan tersebut menjadi lebih lemah.
Pusat inovasi AI seharusnya tidak hanya menjadi tempat membangun teknologi.
Ia juga harus menjadi tempat membangun kepercayaan.
Ini bagian yang penting agar pembaca tidak mendapatkan kesan yang keliru.
Pada Maret 2025, pihak Nanning memang menyampaikan harapan agar pusat kerja sama dan inovasi AI Tiongkok–ASEAN dapat dibangun di Indonesia.
Namun berdasarkan sumber resmi yang dapat diverifikasi hingga 13 Agustus 2026, saya belum menemukan pengumuman pemerintah Indonesia yang menyatakan pusat tersebut kemudian resmi didirikan di Indonesia.
Sebaliknya, proyek yang terkonfirmasi secara resmi adalah China-ASEAN AI Application Cooperation Center di Nanning, yang pembangunan resminya dimulai pada September 2025 dan pada Maret 2026 disebut KBRI Beijing telah berdiri.
Jadi kalimat paling tepat bukan:
“Indonesia sudah memiliki pusat inovasi AI Tiongkok–ASEAN.”
Melainkan:
“Indonesia pernah menjadi lokasi yang diusulkan dalam penjajakan kerja sama, sementara pusat regional yang kemudian terkonfirmasi dibangun berada di Nanning.”
Lokasi fisik sebuah pusat bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Yang jauh lebih penting adalah apakah talenta, startup, universitas, industri, dan pemerintah Indonesia benar-benar memperoleh akses terhadap programnya.
Apakah ada riset bersama?
Apakah mahasiswa Indonesia mendapatkan pelatihan?
Apakah startup dapat mengakses infrastruktur komputasi?
Apakah teknologi yang dikembangkan bisa digunakan untuk masalah lokal?
Dan apakah Indonesia hanya menjadi pasar, atau ikut membangun teknologi?
Pertanyaan terakhir mungkin yang paling penting.
Indonesia mempunyai jumlah pengguna digital yang sangat besar dan pasar yang menarik.
Tetapi dalam ekonomi AI, menjadi pengguna saja tidak cukup.
Nilai terbesar berada pada kemampuan membangun model, mengelola data, menciptakan aplikasi, mempunyai infrastruktur, dan menghasilkan talenta.
Karena itu, kerja sama Indonesia dengan Tiongkok maupun mitra lainnya akan jauh lebih berarti jika menghasilkan transfer pengetahuan dan kemampuan teknologi, bukan hanya penggunaan produk asing.
Pusat AI ASEAN–Tiongkok di Nanning membuka satu pintu.
Tantangan Indonesia sekarang adalah memastikan ketika pintu tersebut terbuka, kita masuk bukan sekadar sebagai pembeli teknologi, tetapi sebagai mitra yang ikut menciptakannya.