KebonCinta.com - Mendidik anak yang memasuki usia remaja menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Perubahan lingkungan sosial, kemudahan akses informasi, hingga kebiasaan menggunakan gawai membuat kehidupan remaja masa kini berbeda dari generasi sebelumnya.
Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan karakter, kepribadian, serta kesehatan mental seseorang ketika beranjak dewasa. Karena itu, pendekatan pengasuhan yang diterapkan orang tua perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak saat ini.
Pakar Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Anita Aisah, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah menghadirkan tantangan baru dalam mendidik remaja. Orang tua pun perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan mendisiplinkan anak tanpa kehilangan nilai-nilai penting dalam keluarga.
Menurut Anita, perubahan zaman bukan berarti orang tua harus meninggalkan prinsip pengasuhan. Sebaliknya, nilai yang ingin ditanamkan tetap perlu dijaga, tetapi penyampaiannya harus disesuaikan dengan kondisi anak.
Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026
Dalam menghadapi perilaku remaja, orang tua perlu menggabungkan tiga unsur utama, yakni kasih sayang, ketegasan, dan konsistensi.
Ketiganya berperan penting dalam membantu anak memahami aturan sekaligus mengembangkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Dengan pendekatan tersebut, remaja dapat belajar mempertahankan prinsip hidup tanpa merasa bahwa pendapat dan perasaannya diabaikan.
Anita menegaskan bahwa menerima perasaan anak tidak sama dengan membenarkan seluruh perilakunya. Remaja tetap perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, termasuk ketika mereka tidak setuju dengan keputusan orang tua.
Meski demikian, kebebasan berpendapat harus berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai batasan perilaku yang dapat diterima.
Artinya, orang tua tidak harus selalu mengalah ketika anak menunjukkan penolakan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana orang tua menyampaikan aturan, menjelaskan konsekuensi, dan membantu anak memahami alasan di balik keputusan tersebut.
Ketika remaja melakukan kesalahan, respons orang tua dapat memengaruhi cara anak memahami masalah yang sedang dihadapi.
Alih-alih langsung membentak atau melontarkan kata-kata yang menyakitkan, orang tua dapat menyampaikan keberatan dengan bahasa yang jelas, tenang, dan tidak merendahkan harga diri anak.
Misalnya, ketika anak terlalu lama bermain gawai hingga mengabaikan kewajiban belajar, orang tua bisa menjelaskan dampaknya dan menetapkan waktu penggunaan perangkat secara tegas.
Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa aturan dibuat untuk alasan tertentu, bukan sekadar sebagai bentuk kekuasaan orang tua.
Remaja sedang belajar mengenali emosi, membangun identitas, serta mengembangkan kemandirian. Dalam proses tersebut, perbedaan pendapat dengan orang tua merupakan hal yang dapat terjadi.
Karena itu, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan rasa kecewa, marah, atau tidak setuju tanpa langsung menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan.
Namun, penerimaan terhadap perasaan tidak berarti semua tindakan harus dibenarkan. Anak tetap perlu memahami bahwa perilaku yang merugikan diri sendiri atau orang lain memiliki batas dan konsekuensi.
Dengan cara ini, orang tua dapat menjaga kedekatan emosional sekaligus menanamkan tanggung jawab.
Salah satu tantangan dalam pengasuhan adalah kecenderungan orang tua mengukur perilaku anak menggunakan pengalaman masa lalu.
Padahal, remaja saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Teknologi digital, media sosial, dan perubahan interaksi sosial turut memengaruhi cara mereka belajar serta membangun hubungan dengan orang lain.
Karena itu, orang tua perlu memahami konteks kehidupan anak sebelum memberikan penilaian.
Perbedaan generasi bukan alasan untuk mengabaikan nilai-nilai keluarga. Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat, dan kedisiplinan tetap dapat ditanamkan dengan cara yang relevan bagi kehidupan remaja saat ini.
Meminta anak menaati aturan tanpa memberikan penjelasan berpotensi membuat mereka hanya patuh ketika berada di bawah pengawasan.
Sebaliknya, ketika orang tua menjelaskan tujuan sebuah aturan, remaja memiliki kesempatan untuk memahami alasan, risiko, dan konsekuensi dari tindakannya.
Contohnya, pembatasan penggunaan ponsel dapat dijelaskan melalui pentingnya waktu istirahat, konsentrasi belajar, serta keseimbangan aktivitas sehari-hari.
Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi mengenai aturan yang diterapkan, selama kesepakatan yang dibuat tetap memperhatikan keselamatan, tanggung jawab, dan kebutuhan keluarga.
Dengan demikian, disiplin tidak hanya menjadi tuntutan dari orang tua, tetapi juga proses belajar bagi anak untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Dalam proses pengasuhan, perilaku orang tua sehari-hari menjadi salah satu hal yang diperhatikan anak.
Anita mengingatkan bahwa anak cenderung memperhatikan tindakan nyata orang tua, bukan hanya mendengarkan nasihat yang disampaikan.
Misalnya, orang tua akan lebih mudah mengajarkan pengendalian penggunaan gawai apabila mereka juga mampu membatasi waktu bermain ponsel ketika sedang bersama keluarga.
Begitu pula ketika mengajarkan kesopanan, pengendalian emosi, dan kedisiplinan. Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah dipahami ketika anak melihat penerapannya secara langsung.
Karena itu, orang tua perlu mengevaluasi kesesuaian antara perkataan dan tindakan agar pesan pengasuhan yang disampaikan tidak bertentangan dengan perilaku sehari-hari.
Mendidik remaja bukan semata-mata tentang mengubah perilaku anak.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir