Selain memberikan apresiasi, kalimat tersebut membuka ruang diskusi. Murid juga mendapat kesempatan untuk menjelaskan proses berpikirnya.
Ketika murid mengembalikan buku ke tempatnya, menyelesaikan tugas sesuai kesepakatan, atau merapikan perlengkapan setelah digunakan, guru bisa mengatakan:
“Kamu mengembalikan buku ke tempat semula setelah membacanya. Itu menunjukkan bahwa kamu mulai bertanggung jawab terhadap barang yang digunakan.”
Pujian seperti ini membantu murid mengenali hubungan antara tindakan sehari-hari dan nilai tanggung jawab.
Baca Juga: Sering Sulit Fokus dan Mudah Lupa? 3 Makanan Ini Bisa Mendukung Kesehatan Otak, Yuk Disimak
Supaya pujian benar-benar diterima sebagai bentuk apresiasi, guru dapat memperhatikan beberapa hal berikut.
Sebutkan perilaku yang terlihat. Jelaskan tindakan konkret yang dilakukan murid, seperti menyelesaikan tugas dengan teliti atau membantu teman yang kesulitan.
Gunakan bahasa yang alami. Guru tidak harus memakai kalimat panjang atau terlalu formal. Ucapan sederhana yang tulus sering kali lebih mudah dipahami anak.
Berikan apresiasi secara proporsional. Tidak semua tindakan harus mendapat pujian besar. Sesuaikan respons dengan situasi dan perkembangan murid.
Hindari membandingkan anak. Kalimat seperti “Kamu lebih pintar daripada temanmu” dapat memunculkan persaingan yang tidak perlu. Lebih baik fokus pada usaha dan kemajuan masing-masing anak.
Berikan ruang untuk refleksi. Sesekali, guru dapat bertanya kepada murid tentang bagian yang menurut mereka paling sulit atau hal yang membuat mereka bangga. Cara ini membantu anak mengenali perkembangan dirinya sendiri.
Dalam kegiatan pembelajaran, nilai ujian dan hasil tugas memang penting. Namun, keduanya bukan satu-satunya ukuran perkembangan murid.
Anak yang belum memperoleh nilai tinggi mungkin sudah menunjukkan kemajuan, misalnya lebih tekun berlatih, berani bertanya, atau mulai mampu mengatur waktu belajar. Perubahan semacam ini juga patut diperhatikan.
Ketika guru hanya memuji murid yang memperoleh nilai tertinggi, anak lain bisa merasa bahwa usaha mereka tidak berarti. Sebaliknya, apresiasi yang memperhatikan proses dapat membantu murid melihat bahwa kemampuan bisa dikembangkan melalui latihan dan perbaikan.
Meski begitu, pujian tetap perlu jujur. Guru tidak perlu mengatakan bahwa semua pekerjaan sudah bagus jika masih ada bagian yang harus diperbaiki. Apresiasi dapat disertai arahan yang membangun, misalnya dengan mengakui usaha murid sekaligus menunjukkan langkah berikutnya.
Kebiasaan memberikan pujian yang spesifik dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Murid merasa tindakannya diperhatikan, sedangkan guru memiliki kesempatan untuk memperkuat nilai seperti kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan ketekunan.
Pujian juga bukan satu-satunya cara untuk memotivasi murid. Anak tetap membutuhkan umpan balik yang jelas, kesempatan belajar, pendampingan, dan ruang untuk melakukan kesalahan tanpa merasa dipermalukan.
Pada akhirnya, kualitas pujian tidak ditentukan oleh seberapa meriah kata-kata yang diucapkan, tetapi oleh ketulusan dan kejelasan pesan di baliknya.
Dengan mengapresiasi tindakan nyata dan proses perkembangan murid, guru dapat membantu anak memahami kelebihan yang dimiliki sekaligus mengetahui hal-hal yang masih perlu ditingkatkan. Langkah sederhana ini bisa menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri dan kebiasaan positif di sekolah.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir