KebonCinta.com - Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) kini semakin sering dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi hingga menjadi tempat mencurahkan isi hati. Kemampuannya merespons pesan dengan cepat membuat sebagian orang merasa memiliki teman bicara yang selalu tersedia.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: jawaban chatbot AI tidak selalu dapat menggantikan dukungan emosional dari manusia, terlebih ketika seseorang sedang menghadapi persoalan kesehatan mental.
Spesialis kesehatan jiwa, Dr. dr. Hervita Diatri, SpKJ, SubspKom(K), mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya mengandalkan ChatGPT untuk mendapatkan pendampingan psikologis.
Baca Juga: Rumah Terasa Sempit Padahal Luas? Bisa Jadi 6 Kebiasaan Ini Bikin Barang Menumpuk
Menurutnya, meskipun chatbot dapat memberikan respons yang terasa menenangkan, teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan dalam memahami kondisi seseorang secara menyeluruh.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan ChatGPT untuk bercerita adalah kecenderungannya memberikan afirmasi positif.
Artinya, chatbot dapat memberikan tanggapan yang membuat pengguna merasa didukung atau dibenarkan atas cerita yang disampaikan.
Sekilas, respons seperti ini memang terasa menyenangkan. Seseorang yang sedang menghadapi masalah mungkin merasa lebih tenang ketika mendapatkan jawaban yang tidak menghakimi.
Namun, dukungan emosional tidak selalu berarti membenarkan seluruh tindakan atau pemikiran seseorang.
Dalam beberapa situasi, seseorang justru membutuhkan masukan yang jujur, termasuk ketika ada keputusan atau perilaku yang perlu dievaluasi.
Hervita menjelaskan bahwa sahabat yang baik bukan hanya menyampaikan hal-hal menyenangkan, tetapi juga berani mengingatkan ketika terdapat sesuatu yang kurang baik.
Tujuannya bukan untuk menyalahkan, melainkan membantu seseorang memahami persoalan dan menentukan langkah yang lebih baik ke depannya.
Keterbatasan lainnya terletak pada kemampuan AI dalam memahami manusia.
ChatGPT dapat mengolah informasi berdasarkan percakapan yang diberikan pengguna. Namun, hal tersebut tidak sama dengan mengenal seseorang melalui interaksi dan hubungan sosial secara langsung.
Ketika seseorang menceritakan masalahnya, ada berbagai aspek yang mungkin tidak sepenuhnya tergambarkan melalui teks. Misalnya, situasi kehidupan, hubungan dengan orang sekitar, pengalaman sebelumnya, hingga kebutuhan emosional yang lebih kompleks.
Hervita menegaskan bahwa chatbot tetaplah mesin sehingga tidak bisa memberikan bentuk pendampingan sebagaimana manusia.
Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa pengguna perlu berhati-hati dalam menjadikan AI sebagai satu-satunya tempat mencari dukungan ketika menghadapi persoalan psikologis.
Meski memiliki keterbatasan, penggunaan ChatGPT sebagai tempat bercerita tetap dapat dipahami.
Hervita menyebut ada beberapa faktor yang membuat masyarakat merasa nyaman menggunakan chatbot, salah satunya kemudahan akses.
Pengguna tidak perlu menunggu jadwal konsultasi atau memastikan apakah tenaga kesehatan sedang membuka praktik. Chatbot dapat diakses kapan pun ketika dibutuhkan.
Faktor privasi juga berpengaruh. Sebagian orang merasa lebih aman menceritakan persoalan pribadi kepada AI karena tidak harus berhadapan langsung dengan orang lain.
Kekhawatiran mengenai kemungkinan cerita pribadi diketahui pihak lain juga menjadi salah satu alasan chatbot dianggap sebagai ruang aman.
Meski demikian, persepsi bahwa percakapan dengan AI sepenuhnya rahasia tidak boleh langsung dianggap sebagai jaminan. Pengguna tetap perlu memperhatikan kebijakan privasi layanan dan berhati-hati ketika membagikan informasi pribadi yang sensitif.
Menggunakan chatbot untuk menyusun pikiran atau mengungkapkan perasaan bisa menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi. Namun, ketika persoalan yang dihadapi terasa berat atau membutuhkan pendampingan lebih mendalam, bantuan profesional tetap diperlukan.
Hervita menyarankan masyarakat untuk mengakses tenaga kesehatan profesional apabila percakapan dengan ChatGPT belum mampu memenuhi kebutuhan komunikasi dan umpan balik secara langsung.
Konsultasi dengan psikolog atau psikiater memungkinkan seseorang mendapatkan penilaian dan pendampingan berdasarkan kondisi yang dialaminya.
Hal ini penting karena setiap individu memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda. Penanganan masalah kesehatan mental pun tidak bisa hanya bergantung pada jawaban umum dari sebuah chatbot.
Teknologi AI memang menawarkan kemudahan, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya sandaran ketika seseorang membutuhkan bantuan.
Pesan penting dari Hervita adalah bahwa manusia tetap membutuhkan manusia lain. Kehadiran, pemahaman, dan pendampingan secara langsung merupakan bagian penting yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh mesin.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir