Sains
Rahman Abdullah

Jangan Terkecoh Kepraktisannya! Kemasan Sachet Jadi Salah Satu Penyumbang Sampah Terbesar

Jangan Terkecoh Kepraktisannya! Kemasan Sachet Jadi Salah Satu Penyumbang Sampah Terbesar

01 Agustus 2026 | 11:07

Keboncinta.com-- Kemasan sekali pakai telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Produk seperti kopi instan, mi instan, camilan, hingga sampo kini banyak dipasarkan dalam bentuk sachet karena dinilai lebih praktis, mudah dibawa, dan terjangkau bagi berbagai kalangan.

Namun, di balik kemudahan tersebut tersimpan persoalan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Banyak orang mengira sampah selesai ketika dibuang ke tempat sampah, padahal bagi sebagian besar kemasan fleksibel, perjalanan limbah justru dimulai setelah itu.

Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat terbawa ke sungai, laut, dan akhirnya menjadi ancaman serius bagi ekosistem.

Baca Juga: Harga Plastik Terus Naik, Ternyata Ini Peringatan Serius bagi Lingkungan yang Jarang Disadari

Sampah Kemasan Tidak Hilang Setelah Dibuang

Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa persoalan kemasan tidak berakhir di tempat pembuangan sampah.

Menurutnya, limbah hanya berpindah dari lokasi yang terlihat menuju lingkungan yang sering tidak diperhatikan. Pada akhirnya, pencemaran tersebut kembali berdampak kepada manusia melalui kerusakan ekosistem dan menurunnya kualitas lingkungan.

Fenomena ini terjadi hampir setiap hari. Sampah rumah tangga yang tidak tertangani dengan baik dapat terbawa angin maupun aliran air menuju saluran drainase, sungai, hingga akhirnya bermuara ke laut.

Kemasan Fleksibel Menjadi Tantangan Daur Ulang

Salah satu persoalan terbesar berasal dari kemasan fleksibel seperti sachet yang banyak digunakan untuk berbagai produk kebutuhan sehari-hari.

Jenis kemasan ini umumnya tersusun dari beberapa lapisan material berbeda sehingga proses pemisahan dan daur ulang menjadi jauh lebih rumit dibandingkan botol atau wadah plastik biasa.

Selain itu, kemasan sachet memiliki nilai ekonomi yang rendah sehingga kurang diminati oleh pelaku daur ulang. Akibatnya, sebagian besar limbah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir, mencemari sungai, atau terbawa hingga ke kawasan pesisir dan laut.

Baca Juga: Bukan Botol Plastik! Penelitian Internasional Ungkap Puntung Rokok Jadi Ancaman Besar bagi Laut dan Pantai Dunia

Persoalan Sampah Bukan Semata Kesalahan Individu

Para peneliti menilai meningkatnya jumlah sampah kemasan tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan sistem produksi dan konsumsi yang masih bertumpu pada produk sekali pakai.

Banyak kemasan dirancang hanya untuk digunakan dalam waktu singkat, kemudian langsung menjadi limbah tanpa mempertimbangkan bagaimana pengelolaannya setelah dibuang.

Karena itu, persoalan sampah kemasan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kesadaran individu. Diperlukan perubahan sistem yang melibatkan produsen, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan.

Mengganti Material Belum Tentu Menjadi Jawaban

Meningkatnya kesadaran terhadap pencemaran plastik membuat banyak pihak mulai beralih menggunakan bahan alternatif seperti kertas.

Sekilas, pilihan tersebut terlihat lebih ramah lingkungan karena lebih mudah terurai dan memiliki peluang daur ulang yang lebih besar.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa pergantian material saja belum tentu menyelesaikan akar persoalan apabila pola produksi dan konsumsi masih mengandalkan kemasan sekali pakai.

Tanpa sistem pengelolaan limbah yang memadai serta perubahan perilaku masyarakat, material alternatif pun tetap dapat menimbulkan persoalan lingkungan baru.

Baca Juga: Calon Peserta UKPPPG 2026 Wajib Bersiap, Simak Alur Pendaftaran hingga Penilaian Periode 3 Secara Lengkap

Solusi Harus Dimulai Sejak Tahap Produksi

Mengurangi pencemaran dari kemasan sekali pakai membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

Produsen didorong untuk menghadirkan desain kemasan yang lebih mudah didaur ulang, mengurangi penggunaan material berlapis, serta mengembangkan sistem kemasan yang dapat digunakan kembali.

Sementara itu, pemerintah berperan memperkuat regulasi, meningkatkan fasilitas pengelolaan sampah, dan mendorong penerapan ekonomi sirkular.

Di sisi lain, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui kebiasaan sederhana, seperti memilih produk isi ulang, membawa wadah sendiri ketika memungkinkan, serta memilah sampah sebelum dibuang.

Kolaborasi Menjadi Kunci Pengurangan Sampah

Persoalan sampah kemasan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

Kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk membangun sistem pengelolaan kemasan yang lebih berkelanjutan.

Melalui kerja sama tersebut, diharapkan jumlah sampah yang masuk ke lingkungan dapat ditekan sekaligus mendorong terciptanya inovasi kemasan yang lebih aman bagi bumi.

Baca Juga: Digitalisasi Program Makan Bergizi Gratis Hadirkan Kemudahan Akses Informasi bagi Orang Tua Siswa

Kemasan sachet memang memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi di balik kepraktisannya tersimpan persoalan lingkungan yang tidak boleh diabaikan. Material yang sulit didaur ulang menjadikannya salah satu penyumbang utama pencemaran di darat maupun laut.

Karena itu, penyelesaian masalah tidak cukup hanya mengandalkan perubahan perilaku masyarakat. Diperlukan pembenahan sistem produksi, inovasi kemasan yang lebih berkelanjutan, serta penguatan pengelolaan limbah agar dampak pencemaran dapat ditekan.

Dengan langkah yang terintegrasi, kebutuhan masyarakat terhadap kemasan praktis tetap dapat terpenuhi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan bagi generasi yang akan datang.***

Tags:
Sains Mikro Plastik ilmu pengetahuan

Komentar Pengguna