KebonCinta.com-- Penggunaan gawai sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Ponsel, televisi, komputer, hingga permainan digital dapat menjadi sarana hiburan sekaligus membantu proses belajar. Namun, jika digunakan secara berlebihan tanpa pengawasan, kebiasaan tersebut berisiko mengganggu tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun mental.
Masalahnya, anak sering kali belum mampu mengatur waktu penggunaan gawai secara mandiri. Ketika sudah terbiasa menghabiskan banyak waktu di depan layar, mereka bisa merasa gelisah saat tidak memegang ponsel atau kehilangan minat terhadap kegiatan lain di sekitarnya.
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa membatasi penggunaan gawai bukan sekadar melarang anak bermain ponsel. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan, membangun kebiasaan yang baik, serta mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.
Baca Juga: Cara Menyusun RPP Seni Budaya Kelas 8 Kurikulum Merdeka Lengkap dengan Langkah Pembelajaran
Salah satu dampak penggunaan gawai secara berlebihan adalah terganggunya pola tidur. Anak yang terbiasa bermain ponsel hingga malam hari berisiko tidur lebih larut dan tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kebugaran dan kesiapan anak dalam mengikuti kegiatan belajar.
Penggunaan layar dalam waktu lama juga bisa membuat mata lelah, kering, atau terasa tidak nyaman. Selain itu, kebiasaan duduk terlalu lama sambil bermain gawai dapat mengurangi aktivitas fisik yang sebenarnya dibutuhkan anak untuk tumbuh secara optimal.
Dari sisi pendidikan, anak yang terlalu fokus pada permainan atau tontonan digital berpotensi mengalami kesulitan mengalihkan perhatian ketika harus belajar. Konsentrasi dapat terganggu, terutama apabila penggunaan gawai sudah mengurangi waktu untuk membaca, mengerjakan tugas, atau berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Dampaknya juga dapat terlihat dalam kehidupan sosial. Anak yang lebih sering menghabiskan waktu dengan perangkat digital daripada bermain bersama teman atau keluarga bisa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami perasaan orang lain.
Meski demikian, dampak tersebut tidak selalu muncul pada setiap anak. Risiko yang dialami bergantung pada durasi penggunaan, jenis konten, kebiasaan sehari-hari, serta keseimbangan antara aktivitas digital dan kegiatan lainnya.
Mencegah kecanduan gawai sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga. Anak tidak hanya belajar dari aturan yang diberikan orang tua, tetapi juga meniru kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.
Jika orang tua ingin anak mengurangi waktu bermain ponsel, mereka juga perlu menunjukkan penggunaan gawai secara bijak. Misalnya, menghindari bermain ponsel ketika makan bersama, menyimpan perangkat saat mengobrol dengan anak, serta menyediakan waktu khusus untuk melakukan kegiatan bersama.
Mengutip imbauan yang dimuat dalam situs Kementerian Kesehatan RI, orang tua perlu membimbing anak agar menggunakan gawai secara bijaksana dan memperhatikan durasi penggunaannya.
Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah mengatur screen time atau waktu yang dihabiskan untuk menatap layar perangkat elektronik, seperti ponsel, komputer, televisi, dan bermain gim video.
Aturan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan usia anak, kebutuhan belajar, serta aktivitas hariannya. Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi agar mereka memahami alasan di balik pembatasan tersebut, bukan sekadar merasa dilarang.
Baca Juga: Contoh RPP Seni Budaya Kelas 8 Semester 2 Kurikulum Merdeka, Lengkap dengan Langkah Pembelajaran
Batas waktu penggunaan layar perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Berikut gambaran rekomendasi yang dicantumkan dalam materi awal artikel ini:
Perlu diperhatikan, angka tersebut bukan patokan universal untuk semua anak. Pedoman kesehatan dapat berbeda menurut kelompok usia dan tujuan penggunaan layar. Waktu untuk belajar juga perlu dibedakan dari hiburan digital. Untuk anak usia dini, misalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan waktu layar sedentari tidak lebih dari satu jam sehari bagi anak usia 2 tahun serta usia 3–4 tahun, dengan durasi yang lebih sedikit lebih baik.
Orang tua sebaiknya tidak hanya menghitung berapa lama anak menggunakan gawai, tetapi juga memperhatikan apa yang ditonton, kapan perangkat digunakan, dan apakah kebiasaan tersebut mengganggu tidur, aktivitas fisik, maupun hubungan sosial.
Jika anak sudah terbiasa bermain gawai dalam waktu lama, orang tua dapat mengurangi durasinya secara bertahap. Perubahan yang dilakukan secara konsisten biasanya lebih mudah diterapkan daripada larangan mendadak tanpa penjelasan.
Orang tua bisa menetapkan jadwal penggunaan gawai, misalnya setelah tugas sekolah selesai dan tidak menjelang waktu tidur. Selain itu, perangkat sebaiknya tidak menjadi teman utama anak ketika merasa bosan.
Ajak anak melakukan kegiatan alternatif yang menyenangkan, seperti bermain di luar rumah, membaca buku, menggambar, berolahraga, membantu pekerjaan ringan, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir