Berita
Hilmi An Naufal

Kemdiktisaintek dan Pertamina Jajaki Bioetanol dari Limbah Sawit, Pilot Plant Skala Kecil Dikaji

Kemdiktisaintek dan Pertamina Jajaki Bioetanol dari Limbah Sawit, Pilot Plant Skala Kecil Dikaji

22 Agustus 2026 | 19:49

JAKARTA, Keboncinta.com — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama PT Pertamina tengah menjajaki pengembangan bioetanol generasi kedua dengan memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku.

Pengembangan tersebut direncanakan dimulai melalui pembangunan fasilitas percontohan atau pilot plant dalam skala kecil. Tahap awal digunakan untuk mempelajari karakteristik tandan kosong kelapa sawit Indonesia sekaligus menguji kelayakan teknologi sebelum dikembangkan ke tingkat industri.

Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersama Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

Dalam pertemuan itu, Kemdiktisaintek membawa hasil penjajakan dengan Praj Industries dari India. Perusahaan tersebut menawarkan teknologi pengolahan dan opsi pembangunan fasilitas percontohan.

Teknologi yang ditawarkan masih harus dikaji dari aspek teknis, kebutuhan investasi, biaya produksi, kelayakan ekonomi, serta kesesuaiannya dengan kondisi bahan baku di Indonesia.

Memanfaatkan Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tandan kosong kelapa sawit merupakan hasil samping yang muncul setelah buah sawit dipisahkan dan diolah di pabrik.

Material tersebut mengandung lignoselulosa yang dapat diproses menjadi sumber gula, kemudian difermentasi untuk menghasilkan bioetanol. Namun, prosesnya lebih rumit dibandingkan pembuatan etanol dari bahan yang mengandung gula atau pati.

Secara umum, tandan kosong harus melewati tahap perlakuan awal atau pre-treatment. Tahap tersebut diperlukan untuk membuka struktur material dan memisahkan komponen yang menghambat pengolahan.

Selulosa selanjutnya diuraikan menjadi gula melalui proses hidrolisis. Gula yang dihasilkan kemudian difermentasi untuk memperoleh etanol sebelum melalui tahap pemurnian sesuai kebutuhan penggunaannya.

Pertamina menyampaikan telah memiliki pengalaman riset dalam pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit bersama sejumlah mitra. Penelitian tersebut antara lain mencakup pengembangan teknologi pre-treatment dan penggunaan enzim.

Efektivitas kedua proses itu menjadi bagian penting karena dapat memengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan, kebutuhan energi, biaya produksi, dan kelayakan proyek secara keseluruhan.

Berbeda dengan Bioetanol Generasi Pertama

Bioetanol yang sedang dijajaki merupakan bioetanol generasi kedua atau 2G. Bahan bakunya berasal dari residu biomassa berlignoselulosa, bukan langsung dari bahan pangan yang kaya gula atau pati.

Pendekatan tersebut menawarkan peluang untuk menghasilkan energi dari hasil samping industri yang sudah tersedia. Pemanfaatannya juga dinilai tidak memerlukan pembukaan lahan baru khusus untuk menanam bahan baku bioetanol.

Meskipun demikian, penggunaan limbah sebagai bahan baku tidak otomatis membuat suatu produk sepenuhnya bebas dampak lingkungan.

Energi yang digunakan selama pengumpulan, pengangkutan, perlakuan awal, fermentasi, dan pemurnian perlu dihitung. Pengelolaan air, bahan kimia, dan sisa proses juga harus diperhatikan.

Penilaian menyeluruh diperlukan untuk memastikan energi yang dihasilkan lebih besar dibandingkan energi yang digunakan dan menghasilkan manfaat lingkungan yang nyata.

Masih Tahap Penjajakan

Pemerintah dan Pertamina belum mengumumkan pembangunan pabrik bioetanol komersial dari tandan kosong kelapa sawit.

Informasi yang disampaikan saat ini masih berupa penjajakan teknologi dan opsi pembangunan fasilitas percontohan skala kecil. Kapasitas produksi, lokasi pilot plant, nilai investasi, jadwal pembangunan, serta target mulai beroperasi juga belum dipublikasikan.

Karena itu, rencana tersebut tidak dapat diartikan bahwa bioetanol dari tandan kosong sawit akan segera tersedia dalam jumlah besar di pasar.

Pilot plant berfungsi menguji apakah teknologi dapat bekerja secara stabil menggunakan bahan baku dari Indonesia. Hasil pengujian akan menjadi dasar untuk menentukan apakah pengembangan layak dilanjutkan, perlu diperbaiki, atau harus menggunakan teknologi berbeda.

Menteri Brian Yuliarto menilai pengujian skala kecil penting agar peneliti memahami parameter tandan kosong kelapa sawit di Indonesia dan memastikan teknologi yang digunakan benar-benar menghasilkan nilai tambah.

Logistik Bahan Baku Menjadi Tantangan

Potensi bahan baku tandan kosong kelapa sawit tersebar di berbagai wilayah sentra perkebunan. Sebagian berasal dari perkebunan dan pabrik yang berlokasi jauh dari pusat industri maupun fasilitas energi.

Kondisi tersebut membuat pengumpulan dan pengangkutan menjadi salah satu tantangan. Biaya logistik dapat meningkat apabila bahan baku harus dibawa dalam jarak jauh menuju pabrik pengolahan.

Kemdiktisaintek dan Pertamina menilai mekanisme pengumpulan, penentuan harga, distribusi, serta kesinambungan pasokan perlu dirancang sejak awal.

Pengembangan industri juga harus mempertimbangkan kepentingan petani, pabrik kelapa sawit, pengelola transportasi, dan masyarakat di sekitar wilayah produksi.

Tandan kosong tidak boleh hanya dianggap sebagai bahan baku murah tanpa nilai. Model usaha perlu memberikan manfaat yang adil kepada pihak yang mengumpulkan dan menyediakan material tersebut.

Perguruan Tinggi Bisa Terlibat

Rencana pengembangan membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset. Kampus dapat terlibat dalam pengembangan teknologi, pengujian bahan baku, perancangan enzim, analisis dampak lingkungan, hingga penyusunan model bisnis dan logistik.

Keterlibatan kampus diharapkan mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan industri. Banyak inovasi energi berhenti pada skala laboratorium karena belum memperoleh kesempatan diuji pada fasilitas yang lebih besar.

Pilot plant dapat menjadi penghubung antara eksperimen laboratorium dengan penerapan industri. Peneliti dapat mengetahui masalah yang baru muncul ketika teknologi dijalankan secara berkelanjutan dan menggunakan volume bahan baku lebih besar.

Kolaborasi juga dapat memberikan ruang belajar bagi mahasiswa, khususnya pada bidang teknik kimia, bioteknologi, pertanian, energi, ekonomi, dan pengelolaan lingkungan.

Namun, keterlibatan perguruan tinggi harus tetap menghasilkan penelitian yang transparan dan dapat dievaluasi. Keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari beroperasinya fasilitas, tetapi juga efisiensi, keselamatan, biaya produksi, dan dampaknya terhadap lingkungan.

Belum Menjadi Pengganti Penuh Bahan Bakar Fosil

Bioetanol dapat digunakan sebagai komponen campuran bahan bakar sesuai standar dan kebijakan yang berlaku. Namun, teknologi yang sedang dikaji belum dapat dianggap sebagai pengganti penuh bahan bakar fosil.

Kemampuan produksinya baru dapat diketahui setelah proses pengujian selesai.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna