KebonCinta.com — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyoroti potensi pengembangan perusahaan rintisan berbasis teknologi hasil penelitian atau deep tech untuk menciptakan perusahaan bernilai ekonomi tinggi di Indonesia.
Potensi tersebut dibahas dalam Danantara Technology Innovation & Investment Forum (DTIIF) 2026, yang berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kemdiktisaintek mempublikasikan penjelasan mengenai peluang tersebut pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menilai penguatan teknologi berbasis penelitian dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun perusahaan rintisan dengan daya saing tinggi.
APA ITU STARTUP DEEP TECH?
Deep tech merupakan pendekatan pengembangan usaha yang bertumpu pada hasil penelitian ilmiah, rekayasa teknologi, dan kemampuan inovasi yang mendalam. Pengembangan produknya biasanya membutuhkan proses riset dan pengujian yang berbeda dari usaha digital konvensional.
Teknologi semacam ini berpotensi digunakan dalam berbagai sektor, termasuk energi, pangan, dan kesehatan. Contoh bidang penerapannya meliputi pengembangan material, teknologi industri, serta solusi baru untuk kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Salah satu keunggulan teknologi berbasis riset adalah adanya kemampuan teknis yang tidak mudah ditiru pesaing. Namun, proses pengembangannya juga membutuhkan sumber daya, pendanaan, dan kerja sama yang berkesinambungan.
PELUANG MENJADI PERUSAHAAN UNICORN
Dalam pemaparannya, Fauzan merujuk data PitchBook yang digunakan dalam kajian McKinsey mengenai perkembangan startup deep tech di Eropa.
Data tersebut menunjukkan bahwa perusahaan rintisan deep tech di Eropa rata-rata membutuhkan waktu sekitar lima tahun tujuh bulan untuk mencapai valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS. Sementara itu, perusahaan teknologi konvensional dalam perbandingan tersebut membutuhkan rata-rata tujuh tahun sebelas bulan.
Angka tersebut merupakan gambaran perkembangan perusahaan di Eropa, bukan proyeksi bahwa seluruh startup deep tech Indonesia akan mencapai nilai serupa. Keberhasilan tetap dipengaruhi kondisi pasar, kemampuan bisnis, kesiapan teknologi, serta investasi.
KONTRIBUSI INDUSTRI DALAM RISET MASIH TERBATAS
Kemdiktisaintek juga menyoroti rendahnya kontribusi sektor usaha dalam pembiayaan penelitian dan pengembangan di Indonesia.
Berdasarkan data tahun 2022 yang disampaikan dalam forum, porsi belanja penelitian dan pengembangan oleh sektor usaha di Indonesia mencapai 16,7 persen dari total belanja riset nasional.
Sebagai perbandingan dalam data yang sama, kontribusi sektor usaha di Taiwan mencapai 85,5 persen, Korea Selatan 79,4 persen, China 77,6 persen, dan Jepang 73,1 persen.
Perbedaan tersebut menjadi perhatian karena keterlibatan dunia usaha diperlukan agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi teknologi dan produk bernilai tambah. Perguruan tinggi serta lembaga penelitian juga membutuhkan mitra yang mampu membawa inovasi menuju penerapan industri.
KOLABORASI PERGURUAN TINGGI DAN INDUSTRI
Dalam forum tersebut, Fauzan menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi yang sudah tersedia dan eksplorasi teknologi baru.
Pemanfaatan teknologi bertujuan meningkatkan kinerja proses atau produk yang telah berjalan. Sementara itu, eksplorasi berfokus pada pencarian solusi baru melalui penelitian dan pengembangan.
Kedua pendekatan tersebut perlu berjalan bersama agar perusahaan tetap kompetitif sekaligus memiliki kemampuan menghasilkan inovasi. Kolaborasi dengan peneliti, perguruan tinggi, investor, dan mitra internasional dapat memperkuat proses tersebut.
DTIIF 2026 mempertemukan unsur pemerintah, industri, akademisi, peneliti, serta investor untuk membahas kerja sama pengembangan teknologi dan investasi. Forum ini menjadi ruang pembahasan peluang inovasi, bukan pengumuman bahwa sejumlah startup Indonesia telah resmi mencapai status unicorn baru.
Bagi ekosistem inovasi nasional, tantangan berikutnya adalah menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan industri dan memperluas kapasitas perusahaan dalam mengembangkan teknologi sendiri.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir