Keboncinta.com - Hewan tidak selalu membutuhkan pasangan untuk menghasilkan keturunan. Sejumlah jenis hewan mampu berkembang biak secara aseksual, yakni menghasilkan individu baru tanpa melalui peleburan sel kelamin jantan dan betina.
Pada reproduksi aseksual, satu individu dapat menghasilkan keturunan tanpa proses fertilisasi. Keturunan yang terbentuk umumnya memiliki susunan genetik yang sangat mirip dengan induknya. Cara reproduksi ini ditemukan pada sejumlah hewan, terutama kelompok invertebrata.
Ada beberapa bentuk perkembangbiakan aseksual pada hewan yang perlu diketahui, antara lain pembelahan atau fisi, pertunasan, fragmentasi, hingga partenogenesis.
Fisi merupakan proses ketika tubuh organisme terbagi menjadi dua bagian dan masing-masing bagian kemudian berkembang atau meregenerasi bagian yang hilang hingga menjadi individu lengkap.
Salah satu contohnya dapat ditemukan pada sejumlah jenis planaria. Cacing pipih ini dapat membagi tubuhnya menjadi bagian kepala dan ekor. Setelah terpisah, masing-masing bagian dapat meregenerasi struktur tubuh yang hilang sehingga terbentuk dua individu.
Kemampuan serupa juga ditemukan pada beberapa jenis anemon laut dan teripang. Setelah tubuh terbagi, bagian-bagian tersebut dapat melakukan regenerasi untuk melengkapi struktur yang hilang.
Jenis perkembangbiakan aseksual berikutnya adalah pertunasan atau budding.
Pada proses ini, individu baru tumbuh sebagai tonjolan atau tunas kecil pada tubuh induknya. Tunas tersebut terus berkembang hingga mempunyai struktur tubuh yang lengkap, kemudian dapat melepaskan diri dan hidup sebagai individu baru.
Contoh yang paling dikenal adalah Hydra. Hewan air berukuran kecil ini dapat membentuk tunas pada bagian tubuhnya. Tunas kemudian membesar, membentuk mulut dan tentakel, lalu melepaskan diri dari induknya setelah cukup berkembang.
Selain Hydra, proses pertunasan juga dapat ditemukan pada sejumlah jenis karang.
Fragmentasi sekilas terlihat mirip dengan fisi, tetapi prosesnya terjadi ketika tubuh organisme terpecah menjadi beberapa bagian dan fragmen yang memenuhi kondisi tertentu mampu tumbuh menjadi individu baru.
Kemampuan ini ditemukan pada sejumlah spons, cnidaria, cacing pipih, annelida, serta echinodermata.
Salah satu contoh menarik adalah beberapa jenis bintang laut. Pada spesies tertentu, bagian lengan yang terlepas bersama bagian cakram pusat dapat melakukan regenerasi hingga berkembang menjadi bintang laut baru.
Namun, bukan berarti setiap lengan bintang laut yang terpotong otomatis menjadi individu baru. Kemampuan tersebut bergantung pada spesies dan bagian tubuh yang masih terdapat pada fragmen tersebut.
Cara lain yang cukup unik adalah partenogenesis.
Partenogenesis merupakan proses ketika sel telur berkembang menjadi individu baru tanpa mengalami pembuahan oleh sperma. Keturunan yang dihasilkan dapat bersifat haploid maupun diploid tergantung mekanisme reproduksi spesies tersebut.
Fenomena ini dapat ditemukan pada hewan seperti kutu air, rotifera, kutu daun, serangga tongkat, semut, tawon, dan lebah.
Pada lebah, semut, dan tawon, telur yang tidak dibuahi dapat berkembang menjadi individu jantan haploid. Sementara individu betina umumnya berasal dari telur yang telah mengalami pembuahan.
Partenogenesis bahkan pernah diamati pada sejumlah hewan vertebrata. Beberapa reptil, amfibi, dan ikan diketahui memiliki kemampuan tersebut dalam kondisi tertentu.
Perkembangbiakan aseksual mempunyai sejumlah keuntungan. Seekor hewan tidak perlu mencari pasangan untuk menghasilkan keturunan sehingga proses reproduksi dapat berlangsung lebih cepat dalam kondisi lingkungan yang mendukung.
Satu individu juga dapat menghasilkan banyak keturunan dalam waktu relatif singkat.