Sungai terus menerima tambahan air dari hujan, mata air, dan limpasan daratan. Airnya juga terus bergerak menuju muara, sehingga mineral yang terlarut tidak terkumpul dalam kondisi yang sama seperti di laut.
Sebaliknya, laut merupakan tempat penampungan akhir bagi banyak aliran sungai. Air laut mengalami penguapan, sedangkan sebagian besar garam terlarut tertinggal.
Perbedaan inilah yang membuat air laut rata-rata memiliki salinitas sekitar 35 bagian per seribu atau 35 gram garam terlarut per kilogram air laut. Angka tersebut merupakan nilai rata-rata, bukan ukuran yang berlaku sama di seluruh lautan.
Walaupun laut dikenal asin, kadar garamnya dapat berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh curah hujan, tingkat penguapan, aliran sungai, pencairan es, serta pergerakan massa air laut.
Di daerah dengan penguapan tinggi dan sedikit hujan, kadar garam cenderung meningkat karena air lebih banyak menghilang sebagai uap. Sebaliknya, wilayah dengan curah hujan tinggi atau banyak menerima aliran air tawar dapat memiliki salinitas lebih rendah.
Pencairan es juga dapat mengencerkan air laut di wilayah kutub. Sementara itu, pembentukan es laut dapat meningkatkan kadar garam di air sekitarnya karena sebagian besar garam tidak ikut masuk ke dalam kristal es.
Oleh sebab itu, tingkat keasinan laut tidak selalu sama. Kondisi iklim dan pergerakan air membuat setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda.
Jika sungai terus membawa mineral ke laut dan penguapan membuat garam tertinggal, muncul pertanyaan lain: mengapa air laut tidak menjadi semakin asin dari waktu ke waktu?
Salah satu alasannya adalah adanya proses alami yang mengimbangi penambahan garam. Ion-ion terlarut dapat digunakan oleh organisme laut untuk membentuk cangkang atau kerangka, bereaksi dengan mineral, serta tersimpan dalam sedimen di dasar laut.
Selain itu, interaksi kimia antara air dan batuan dapat menghilangkan sebagian ion dari air laut. Proses geologi dalam skala panjang juga memengaruhi perpindahan zat antara lautan, kerak Bumi, dan sedimen.
Keseimbangan tersebut tidak selalu tetap. Salinitas laut dapat berubah sepanjang sejarah Bumi, tetapi tingkat keasinan yang diamati saat ini merupakan hasil interaksi banyak proses selama waktu yang sangat panjang.
Baca Juga: Sering Makan Melon? Ini Beragam Manfaatnya yang Perlu Diketahui
Rasa asin air laut bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Mineral dari pelapukan batuan di daratan, aktivitas geologi di dasar laut, dan penguapan menjadi bagian penting dari proses yang membentuk salinitas lautan.
Air yang menguap akan kembali ke atmosfer sebagai bagian dari siklus air, sedangkan sebagian besar garam tetap berada di laut. Dalam jangka panjang, proses tersebut membantu menjelaskan mengapa air laut lebih asin daripada air sungai.
Fenomena sederhana yang dapat dirasakan ketika berenang di pantai ini ternyata menyimpan kisah panjang tentang hubungan antara atmosfer, daratan, lautan, dan bagian dalam Bumi. Memahami penyebab air laut asin juga membantu kita mengenali bagaimana proses alam menjaga perubahan dan keseimbangan lingkungan planet ini.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir