Gaya Hidup
Rahman Abdullah

Kenapa Banyak Gen Z Resign? Ini 5 Alasan yang Membuat Karyawan Muda Memilih Keluar

Kenapa Banyak Gen Z Resign? Ini 5 Alasan yang Membuat Karyawan Muda Memilih Keluar

16 Oktober 2026 | 15:19

KebonCinta.com-- Generasi Z atau Gen Z mulai mengambil peran penting dalam dunia kerja. Kehadiran mereka membawa perubahan terhadap cara perusahaan membangun lingkungan kerja, mengelola karyawan, hingga mempertahankan tenaga kerja muda yang memiliki potensi besar.

Berbeda dari anggapan bahwa pekerjaan hanya berkaitan dengan penghasilan, banyak pekerja muda juga mempertimbangkan kenyamanan, kesempatan belajar, hubungan dengan atasan, serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ketika sejumlah kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, keputusan untuk mencari pekerjaan baru bisa menjadi pilihan.

Fenomena karyawan muda yang memilih mengundurkan diri, termasuk dari perusahaan besar, menjadi pengingat bahwa besarnya nama perusahaan belum tentu menjamin karyawan akan bertahan lama. Ada berbagai pertimbangan yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk meninggalkan tempat kerja.

Bagi perusahaan, memahami faktor-faktor tersebut penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang mampu menarik sekaligus mempertahankan talenta terbaik. Lantas, apa saja alasan yang membuat Gen Z memilih resign?

Baca Juga: Kayu Manis Disebut Bisa Menurunkan Kolesterol, Ini Fakta Penelitian dan Batas Aman Konsumsinya 

1. Jam Kerja Mengganggu Kehidupan Pribadi

Salah satu hal yang menjadi perhatian pekerja Gen Z adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance. Mereka ingin menyelesaikan tanggung jawab profesional tanpa harus mengorbankan waktu istirahat, keluarga, pertemanan, maupun kebutuhan pribadi lainnya.

Budaya kerja yang mengharuskan karyawan terus lembur, menerima pesan pekerjaan hingga larut malam, atau selalu siap dihubungi saat libur dapat menimbulkan tekanan berkepanjangan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi memicu kelelahan dan menurunkan motivasi kerja.

Bagi sebagian pekerja muda, situasi seperti ini menjadi alasan untuk mempertimbangkan pengunduran diri. Mereka cenderung mencari tempat kerja yang memiliki batasan jam kerja lebih jelas dan menghargai waktu pribadi karyawan.

Artinya, perusahaan tidak cukup hanya menuntut produktivitas tinggi. Pengaturan beban kerja yang wajar dan penghormatan terhadap waktu istirahat juga menjadi bagian penting dalam membangun loyalitas karyawan.

2. Sistem Kerja Digital Terasa Lambat dan Tidak Efisien

Gen Z tumbuh ketika internet, aplikasi digital, dan berbagai perangkat teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, mereka umumnya terbiasa dengan proses yang cepat, praktis, dan mudah diakses.

Ketika memasuki dunia kerja, sebagian karyawan muda mungkin harus menghadapi sistem administrasi yang berbelit-belit, perangkat lunak yang sudah usang, atau proses kerja manual yang sebenarnya bisa disederhanakan dengan teknologi.

Hambatan tersebut dapat mengurangi produktivitas dan membuat pekerjaan terasa lebih melelahkan. Karyawan juga bisa merasa kesulitan mengembangkan kemampuan apabila perusahaan tidak menyediakan sarana kerja yang mendukung.

Meski demikian, teknologi yang tertinggal bukan berarti otomatis membuat semua pekerja Gen Z ingin resign. Faktor tersebut biasanya menjadi pertimbangan ketika berdampak langsung terhadap efektivitas kerja dan kesempatan berkembang.

Perusahaan dapat merespons tantangan ini dengan memperbarui perangkat kerja, menyederhanakan proses administrasi, serta membuka kesempatan bagi karyawan untuk memberikan masukan mengenai sistem yang digunakan.

Baca Juga: Kolesterol Tinggi Perlu Diwaspadai, Coba 5 Resep Jus Sayuran Ini di Rumah 

3. Kurangnya Masukan dan Arahan dari Atasan

Bekerja tanpa mengetahui apakah hasil pekerjaan sudah sesuai harapan dapat membuat karyawan merasa berjalan tanpa arah. Situasi ini menjadi tantangan bagi pekerja muda yang sedang membangun pengalaman dan ingin memahami kemampuan profesional mereka.

Umpan balik atau feedback berperan penting untuk membantu karyawan mengenali kelebihan, memperbaiki kekurangan, dan menentukan langkah pengembangan karier berikutnya.

Jika komunikasi dengan atasan hanya terjadi ketika penilaian tahunan atau saat muncul kesalahan, karyawan bisa kesulitan mengetahui perkembangan dirinya. Sebaliknya, arahan yang diberikan secara berkala dapat membantu mereka bekerja lebih terarah.

Gen Z juga dapat merasa kurang dihargai ketika ide atau hasil kerjanya tidak pernah mendapatkan tanggapan yang jelas. Dalam kondisi tertentu, kurangnya komunikasi tersebut bisa mendorong mereka mencari perusahaan yang menawarkan bimbingan dan peluang belajar lebih baik.

Karena itu, atasan perlu membangun komunikasi dua arah, memberikan evaluasi yang konstruktif, serta menyediakan ruang bagi karyawan untuk menyampaikan pertanyaan maupun gagasan.

4. Budaya Perusahaan Terlalu Kaku dan Tidak Terbuka

Lingkungan kerja turut memengaruhi kenyamanan karyawan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Perusahaan yang menerapkan aturan terlalu kaku, membatasi komunikasi, atau kurang memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dapat membuat sebagian pekerja muda merasa sulit menyesuaikan diri.

Bagi banyak karyawan, suasana kerja yang sehat tidak hanya ditentukan oleh fasilitas kantor.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Gen Z Resign karakteristik gen z Dunia Kerja

Komentar Pengguna