Keboncinta.com-- Di sela jadwal kuliah yang padat, ada hal yang diluar kendali: pikiran yang tidak pernah benar-benar berhenti, tugas belum selesai, deadline semakin dekat, dan di saat yang sama muncul pertanyaan yang lebih besar“Aku mau jadi apa nanti?” Semua bercampur menjadi satu, membuat kepala terasa penuh tanpa jeda.
Overthinking di bangku kuliah bukan hal yang jarang terjadi. Hal itu tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa. Kita bisa duduk di kelas, tetapi pikiran melayang ke banyak kemungkinan. Kita mengerjakan tugas, tetapi terus memikirkan hasilnya. Bahkan saat istirahat, pikiran tetap aktif, seolah tidak memberi ruang untuk benar-benar tenang.
Dalam psikologi, kondisi ini sering berkaitan dengan pola berpikir berulang yang sulit dihentikan. Susan Nolen-Hoeksema menjelaskan bahwa rumination membuat seseorang terus memikirkan hal yang sama tanpa menemukan solusi yang jelas. Akibatnya, bukan hanya pikiran yang lelah, tetapi juga emosi ikut terpengaruh.
Di dunia perkuliahan, pemicu overthinking datang dari berbagai arah. Tugas akademik adalah salah satunya. Deadline yang berdekatan sering membuat kita merasa dikejar waktu. Ketika satu tugas belum selesai, pikiran sudah beralih ke tugas berikutnya.
Namun, tekanan tidak berhenti di situ. Ada juga kecemasan tentang masa depan. Jurusan yang diambil, karier yang akan dijalani, dan pertanyaan tentang apakah kita sudah berada di jalur yang tepat. Hal-hal ini sering muncul tanpa jawaban pasti, membuat pikiran semakin berputar.
Di sisi lain, tekanan dari diri sendiri juga tidak kalah kuat. Kita ingin menjadi versi terbaik, ingin berprestasi, dan tidak ingin tertinggal. Tanpa sadar, standar yang kita buat sendiri bisa menjadi beban tambahan. Pengaruh lingkungan digital semakin memperkuat kondisi ini. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri dan merasa belum cukup.
Namun, overthinking bukan sesuatu yang harus dibiarkan begitu saja. Langkah pertama adalah menyadari kapan kita mulai terjebak dalam pikiran yang berulang. Tidak semua hal harus dipikirkan sekaligus. Memisahkan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang belum memiliki jawaban bisa membantu mengurangi beban.
Memberi jeda juga penting. Pikiran yang terus dipaksa bekerja justru semakin sulit menemukan solusi.