KebonCinta.com – Istilah kimia hijau mungkin terdengar seperti sesuatu yang hanya berkaitan dengan lingkungan. Padahal, konsep ini menyentuh banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari proses produksi, bahan yang digunakan, konsumsi energi, hingga cara sebuah produk dirancang agar tidak menimbulkan masalah baru setelah digunakan.
Kimia hijau atau green chemistry merupakan pendekatan dalam ilmu kimia yang berusaha mencegah atau mengurangi penggunaan serta pembentukan zat berbahaya sejak awal proses. Jadi, bukan sekadar membersihkan limbah setelah pencemaran terjadi, melainkan berusaha agar limbah dan bahaya tersebut tidak muncul sebanyak mungkin.
Konsep ini menjadi semakin relevan ketika industri dituntut menghasilkan produk dalam jumlah besar tanpa mengabaikan kesehatan manusia dan kondisi lingkungan.
Ada anggapan bahwa kimia hijau berarti menggunakan bahan alami atau membuat produk yang diberi label ramah lingkungan.
Pengertiannya jauh lebih luas.
Menurut U.S. Environmental Protection Agency (EPA), kimia hijau diterapkan pada desain produk dan proses kimia dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan penggunaan maupun pembentukan zat berbahaya. Pendekatan tersebut dapat diterapkan sepanjang siklus hidup suatu produk, mulai dari tahap perancangan, produksi, penggunaan hingga pembuangan.
Artinya, seorang ilmuwan tidak hanya bertanya apakah sebuah reaksi kimia berhasil menghasilkan produk yang diinginkan.
Ada pertanyaan lain yang juga perlu dipikirkan: Berapa banyak limbah yang dihasilkan? Apakah bahan yang digunakan berbahaya? Apakah prosesnya membutuhkan energi terlalu besar? Apakah produknya aman setelah digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadi bagian dari cara berpikir kimia hijau.
Industri kimia memberikan banyak manfaat bagi kehidupan modern. Obat-obatan, bahan pangan, pakaian, kosmetik, elektronik hingga berbagai material konstruksi tidak lepas dari proses kimia.
Namun, proses tersebut juga dapat menghasilkan limbah dan menggunakan bahan yang berisiko terhadap manusia maupun lingkungan.
Karena itu, mencegah pencemaran sejak sumbernya menjadi salah satu gagasan utama kimia hijau.
EPA menyebut pendekatan ini sebagai upaya mengurangi pencemaran pada tingkat molekuler. Dampaknya dapat mencakup pengurangan limbah, penggunaan energi dan sumber daya yang lebih efisien, serta pengembangan produk yang lebih aman.
Pendekatan tersebut berbeda dengan pola lama yang baru menangani limbah setelah proses produksi selesai.
Jika suatu proses sejak awal dirancang menghasilkan lebih sedikit limbah, kebutuhan untuk mengolah atau membuang limbah tersebut juga dapat berkurang.
Kimia hijau memiliki 12 prinsip yang menjadi pedoman dalam merancang proses dan produk kimia yang lebih aman serta berkelanjutan. Prinsip tersebut dikembangkan oleh Paul Anastas dan John Warner dan dipublikasikan pada 1998.
Beberapa prinsip yang paling mudah dipahami antara lain mencegah terbentuknya limbah, menggunakan bahan yang lebih aman, menghemat energi, memanfaatkan bahan baku terbarukan dan menggunakan katalis untuk meningkatkan efisiensi reaksi.
Prinsip lainnya mendorong para ilmuwan agar merancang bahan kimia yang tetap berfungsi dengan baik tetapi memiliki tingkat bahaya lebih rendah.
Ada pula prinsip yang mendorong agar produk setelah selesai digunakan dapat terurai menjadi zat yang tidak berbahaya dan tidak terus menumpuk di lingkungan.
Dengan kata lain, perhatian tidak berhenti ketika produk berhasil dibuat.
Salah satu gagasan utama kimia hijau adalah pencegahan.
Bayangkan sebuah pabrik menghasilkan produk tertentu sekaligus menghasilkan sejumlah besar limbah kimia. Ada dua pilihan yang dapat dilakukan.
Pilihan pertama adalah tetap menggunakan proses tersebut lalu mengolah limbah yang muncul.
Pilihan kedua adalah mencari cara untuk mengubah proses produksinya sehingga jumlah limbah yang terbentuk sejak awal bisa dikurangi.
Kimia hijau lebih dekat dengan pilihan kedua.
EPA menempatkan pencegahan limbah sebagai salah satu prinsip utama karena limbah yang tidak pernah terbentuk tidak membutuhkan proses pengolahan atau pembuangan.
Pendekatan ini juga dapat memberikan keuntungan ekonomi karena perusahaan tidak harus terus mengeluarkan biaya untuk menangani limbah dalam jumlah besar.
Energi juga menjadi perhatian.
Tidak semua reaksi kimia membutuhkan kondisi ekstrem. Karena itu, salah satu prinsip kimia hijau mendorong penggunaan energi secara lebih efisien dan, jika memungkinkan, menjalankan reaksi pada kondisi yang tidak membutuhkan suhu atau tekanan tinggi.
Penghematan energi mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam skala industri dampaknya dapat menjadi besar.
Jika suatu proses dapat menghasilkan jumlah produk yang sama dengan kebutuhan energi lebih rendah, penggunaan sumber daya pun dapat ditekan.
Efisiensi seperti ini menjadi semakin penting ketika industri berusaha mengurangi dampak lingkungan sekaligus mempertahankan produktivitas.
Bahan baku merupakan bagian lain yang diperhatikan dalam kimia hijau.
Salah satu prinsipnya adalah menggunakan bahan baku terbarukan jika memungkinkan, bukan terus bergantung pada sumber daya yang jumlahnya terbatas.
Bahan baku terbarukan dapat berasal dari sumber biologis atau bahkan limbah dari proses lain. EPA memberikan contoh bahwa sumber terbarukan dapat berasal dari produk pertanian maupun limbah proses, sementara sumber yang tidak terbarukan antara lain bahan bakar fosil dan hasil pertambangan.
Namun, penggunaan bahan alami tidak otomatis membuat sebuah proses menjadi “hijau”.
Yang harus diperhatikan tetap keseluruhan prosesnya, termasuk energi yang digunakan, limbah yang dihasilkan, keamanan bahan dan dampak sepanjang siklus hidup produk.
Dalam proses kimia, katalis dapat membantu mempercepat reaksi tanpa harus digunakan dalam jumlah yang sama seperti bahan pereaksi utama.
Karena itu, penggunaan katalis menjadi salah satu dari 12 prinsip kimia hijau.
EPA menjelaskan bahwa katalis dapat digunakan dalam jumlah kecil dan membantu suatu reaksi berlangsung berulang kali, sehingga lebih disukai dibandingkan penggunaan pereaksi stoikiometri dalam jumlah besar ketika kondisi memungkinkan.
Penggunaan katalis yang tepat dapat membantu mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi proses.
Di tingkat industri, perubahan kecil dalam efisiensi suatu reaksi dapat memberikan dampak yang cukup besar karena proses tersebut dilakukan berulang kali dalam skala besar.
Kimia hijau bukan sekadar teori yang dibahas di ruang kelas atau laboratorium.
EPA mencatat berbagai contoh penerapannya di industri.
Salah satunya adalah mengganti bahan pelarut yang lebih berbahaya dengan alternatif yang lebih aman. Contoh lainnya adalah mengembangkan cat tanpa volatile organic compounds (VOC), mengganti bahan baku tertentu dengan alternatif yang lebih aman, serta menggunakan katalis untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Dalam beberapa kasus, perubahan proses juga dapat membantu perusahaan mengurangi konsumsi bahan baku dan jumlah limbah sekaligus.
Artinya, kepentingan lingkungan dan efisiensi bisnis tidak selalu harus bertentangan.
Salah satu alasan kimia hijau semakin diperhatikan adalah karena manfaatnya dapat dirasakan dalam beberapa bidang sekaligus.
Dari sisi lingkungan, pengurangan zat berbahaya dapat membantu mengurangi pencemaran udara dan air serta menekan risiko terhadap ekosistem. Dari sisi kesehatan, penggunaan bahan yang lebih aman dapat mengurangi paparan terhadap zat berbahaya bagi pekerja maupun konsumen.
Ada pula manfaat ekonomi.
Menurut EPA, proses yang menghasilkan lebih sedikit limbah dapat mengurangi biaya pengolahan dan pembuangan. Reaksi yang lebih efisien juga dapat membutuhkan lebih sedikit bahan baku, energi, atau tahapan produksi.
Karena itu, kimia hijau tidak tepat jika hanya dianggap sebagai program untuk menjaga lingkungan.
Konsep ini juga berkaitan dengan bagaimana industri dapat bekerja lebih efisien dan aman.
Perkembangan teknologi membuat kebutuhan terhadap proses produksi yang lebih berkelanjutan semakin besar.
Masyarakat tetap membutuhkan obat, pangan, energi, material dan berbagai produk lainnya. Tantangannya adalah bagaimana kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan dampak yang lebih kecil terhadap manusia dan lingkungan.
Di sinilah kimia hijau menawarkan pendekatan yang berbeda.
Alih-alih menunggu pencemaran terjadi kemudian mencari cara untuk mengatasinya, para ilmuwan didorong untuk mempertimbangkan dampak lingkungan dan keselamatan sejak tahap desain.
American Chemical Society juga menjelaskan bahwa kimia hijau mencakup upaya mengurangi limbah, menghemat energi, mencari pengganti bahan berbahaya serta mempertimbangkan sumber bahan baku dan akhir masa pakai sebuah produk.
Perlu dipahami bahwa istilah “hijau” bukan berarti sebuah proses kimia otomatis tidak memiliki dampak sama sekali.
Dalam praktiknya, ilmuwan dan industri harus mempertimbangkan banyak faktor. Tidak selalu mungkin memenuhi seluruh prinsip sekaligus karena terdapat keterbatasan teknologi, biaya, ketersediaan bahan dan kebutuhan fungsi produk.
Karena itu, tujuan kimia hijau lebih tepat dipahami sebagai upaya merancang proses dan produk agar semakin aman, efisien dan minim dampak sejak awal.
Pendekatan tersebut dapat membantu mengubah cara manusia memandang ilmu kimia.
Kimia bukan hanya tentang menghasilkan suatu zat atau produk, tetapi juga tentang bagaimana produk tersebut dibuat, apa yang dibutuhkan dalam prosesnya, apa yang tersisa setelahnya dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan.
Pada akhirnya, kimia hijau menunjukkan bahwa inovasi tidak harus berjalan berlawanan dengan kelestarian lingkungan.
Dengan merancang proses secara lebih cermat, ilmu kimia justru dapat menjadi salah satu bagian dari solusi untuk menghadapi tantangan lingkungan dan kebutuhan pembangunan yang semakin kompleks.