Parenting
Rahman Abdullah

Kontrol Diri Anak Belum Terbentuk? Ini Kebiasaan yang Bisa Dilatih Orang Tua

Kontrol Diri Anak Belum Terbentuk? Ini Kebiasaan yang Bisa Dilatih Orang Tua

21 September 2026 | 19:54

Keboncinta.com-- Anak yang tidak sabar menunggu, kerap menyela pembicaraan, atau melakukan sesuatu secara spontan tanpa memikirkan akibatnya sering kali dianggap hanya sedang nakal. Padahal, perilaku tersebut bisa menjadi tanda bahwa kemampuan mengendalikan dorongan dalam dirinya masih berkembang.

Kontrol diri merupakan keterampilan yang membantu anak berhenti sejenak sebelum bertindak, mengatur emosi, menunggu giliran, mempertimbangkan pilihan, serta memahami akibat dari keputusan yang dibuat.

Kemampuan ini tidak terbentuk dalam waktu singkat. Sejak bayi hingga balita, anak memang masih belajar mengenali dan mengendalikan dorongan dirinya. Seiring pertumbuhan, kemampuan tersebut perlahan berkembang dan semakin dibutuhkan ketika anak mulai bersekolah serta menghadapi tuntutan sosial dan akademik.

Baca Juga: Lowongan Magang BUMN Tinggal Hitungan Hari! Ini Daftar yang Tutup 21-30 September 2026

Kontrol Diri Anak Terbentuk Secara Bertahap

Pada masa bayi dan balita, keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan segera merupakan hal yang umum. Anak belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menahan keinginan atau memahami bahwa sesuatu yang diinginkan tidak selalu bisa diperoleh saat itu juga.

Seiring bertambahnya usia, anak membutuhkan pengalaman dan latihan agar semakin mampu mengatur perilakunya. Kontrol diri yang berkembang dengan baik dapat membantu anak menunggu giliran, mengelola emosi, mengabaikan gangguan, serta berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.

Karena itu, orang tua tidak perlu berharap anak langsung mampu mengendalikan dirinya secara sempurna. Kemampuan tersebut tumbuh melalui proses dan pembiasaan.

Kontrol Diri yang Belum Kuat Bisa Memicu Tindakan Impulsif

Kontrol diri dapat membantu anak memberikan jeda antara munculnya dorongan dan tindakan. Ketika keterampilan tersebut masih lemah, anak cenderung lebih mudah mengikuti keinginan sesaat.

Dalam kondisi tertentu, anak mungkin melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan dampaknya. Bahkan, perilaku impulsif yang tidak diarahkan dapat berisiko bagi keselamatan dirinya maupun orang lain.

Orang tua dapat membantu dengan perlahan mengenalkan hubungan antara tindakan, pilihan, dan konsekuensi. Anak perlu memahami bahwa setiap keputusan dapat menimbulkan akibat tertentu.

Baca Juga: Cari Magang BUMN? 5 Posisi Ini Cocok untuk Kamu yang Ingin Serius Bangun Karier

1. Interaksi Sosial Bisa Menjadi Lebih Menantang

Anak yang belum mampu mengendalikan impuls mungkin lebih sering menyela ketika orang lain berbicara, tidak sabar menunggu giliran, atau langsung bereaksi ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai.

Kebiasaan tersebut terkadang membuat anak mengalami hambatan saat berinteraksi dengan teman. Namun, kondisi ini bukan berarti anak tidak mampu menjalin hubungan sosial.

Orang tua justru dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk melatih keterampilan sosial. Anak bisa dibiasakan mendengarkan orang lain, menunggu giliran, bergantian dalam aktivitas, serta mengungkapkan keinginan dengan cara yang lebih tepat.

2. Anak Bisa Kesulitan Menyusun Langkah

Kontrol terhadap dorongan juga berhubungan dengan kemampuan anak untuk berpikir sebelum bertindak. Anak yang terbiasa mengambil tindakan secara spontan mungkin membutuhkan bantuan ketika harus menyelesaikan pekerjaan secara bertahap.

Kemampuan membuat rencana semakin penting ketika anak menghadapi tugas sekolah, pekerjaan kelompok, maupun tanggung jawab sehari-hari.

Orang tua dapat memberikan latihan sederhana, misalnya mengajak anak menentukan urutan kegiatan atau membicarakan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Dengan cara tersebut, anak perlahan belajar bahwa suatu tujuan dapat dicapai melalui beberapa tahapan.

3. Ajarkan Anak Menunggu dan Menunda Keinginan

Belajar menunda keinginan merupakan bagian penting dalam perkembangan kontrol diri. Orang tua tidak harus selalu memberikan apa yang diminta anak pada saat itu juga.

Dalam kondisi yang aman dan sesuai usia, anak dapat diberi kesempatan untuk belajar menunggu. Misalnya, ketika anak meminta sesuatu saat orang tua sedang melakukan pekerjaan, jelaskan dengan sederhana kapan permintaan tersebut dapat dipenuhi.

Pembiasaan seperti ini membantu anak memahami bahwa keinginan tidak selalu harus segera mendapatkan respons.

Baca Juga: Dapodik LKP 2026 Resmi Diperbarui, Operator Wajib Cek Data Sebelum Sinkronisasi

4.

Tags:
Pola Asuh Anak Parenting Kesabaran

Komentar Pengguna