Pendidikan
Hilmi An Naufal

Kualitas Udara Membaik, Siswa PAUD hingga SMP di Rokan Hulu Kembali Sekolah

Kualitas Udara Membaik, Siswa PAUD hingga SMP di Rokan Hulu Kembali Sekolah

28 Agustus 2026 | 17:32

Keboncinta — Siswa jenjang PAUD, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, kembali mengikuti pembelajaran tatap muka mulai Jumat, 28 Agustus 2026.

Keputusan tersebut diambil Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rokan Hulu setelah kondisi kualitas udara menunjukkan perkembangan yang semakin membaik.

Berdasarkan data yang dijadikan pertimbangan pemerintah daerah, tidak ditemukan titik api di wilayah Kabupaten Rokan Hulu pada 27 Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk mengakhiri sementara pembelajaran jarak jauh yang diberlakukan akibat kabut asap.

Kebijakan kembali ke sekolah tertuang dalam Surat Edaran Kepala Disdikpora Rokan Hulu Nomor 300.2.1/DISDIKPORA-Set/2 tentang kewaspadaan dan langkah antisipasi dampak kabut asap bagi satuan pendidikan.

Surat edaran ditujukan kepada koordinator pendidikan kecamatan serta kepala PAUD, SD, dan SMP negeri maupun swasta di seluruh Rokan Hulu.

Sebelumnya, pemerintah daerah menerapkan pembelajaran jarak jauh pada 26–28 Agustus 2026. Kebijakan tersebut diambil ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kualitas udara menurun.

PJJ diterapkan untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap anak-anak. Peserta didik usia dini dinilai lebih rentan mengalami gangguan kesehatan ketika menghirup udara yang tercemar dalam waktu lama.

Selama PJJ, pengawas sekolah dan koordinator pendidikan diminta melakukan pemantauan. Sekolah tetap bertanggung jawab memastikan proses pembelajaran berjalan dan murid tidak kehilangan seluruh kegiatan belajar selama berada di rumah.

Kepala Disdikpora Rokan Hulu, Alreza Ahyu, mengatakan kesehatan dan keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode pembelajaran.

Pemerintah daerah memilih menyesuaikan kegiatan sekolah berdasarkan perkembangan kualitas udara. Ketika kondisi memburuk, pembelajaran dapat dialihkan ke rumah. Sebaliknya, pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan kembali setelah kondisi dinilai lebih aman.

Meskipun sekolah kembali dibuka, seluruh satuan pendidikan diminta tetap waspada. Potensi kabut asap masih dapat muncul akibat kebakaran hutan dan lahan di Rokan Hulu maupun asap kiriman dari kabupaten lain.

Sekolah juga diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan. Aktivitas seperti olahraga, upacara, dan kegiatan lapangan perlu disesuaikan apabila kualitas udara kembali mengalami penurunan.

Pemerintah daerah akan terus memantau perubahan udara dan cuaca. Apabila kondisi kembali berisiko bagi kesehatan murid, kebijakan pembelajaran dapat dievaluasi serta disampaikan melalui pengumuman resmi.

Kembalinya pembelajaran tatap muka penting karena interaksi langsung antara guru dan murid sulit sepenuhnya digantikan melalui pembelajaran jarak jauh. Guru dapat memberikan penjelasan, memantau perkembangan belajar, dan membantu murid yang mengalami kesulitan secara langsung.

Namun, keselamatan tidak boleh dikorbankan hanya untuk mempertahankan jadwal sekolah. Keputusan membuka atau menutup sekolah harus berdasarkan pemantauan kualitas udara dan pertimbangan kesehatan.

Sekolah perlu memiliki prosedur darurat untuk menghadapi kabut asap. Prosedur tersebut dapat mencakup mekanisme perubahan jadwal, pemberitahuan kepada orang tua, pembagian bahan belajar, pemantauan kehadiran, serta penyediaan tugas yang dapat dikerjakan dari rumah.

Orang tua juga diharapkan memantau kondisi kesehatan anak setelah kembali mengikuti pembelajaran tatap muka. Anak yang mengalami batuk, sesak napas, mata perih, atau gangguan kesehatan lainnya sebaiknya mendapatkan pemeriksaan dan tidak dipaksakan mengikuti aktivitas berat.

Komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu dijaga. Informasi mengenai perubahan jadwal atau penyesuaian kegiatan harus disampaikan melalui saluran resmi agar tidak menimbulkan kebingungan.

Kondisi di Rokan Hulu juga menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Kabut asap dapat mengganggu kesehatan, kegiatan ekonomi, transportasi, serta hak anak untuk mendapatkan pembelajaran yang aman.

Pencegahan karhutla menjadi langkah penting agar gangguan pendidikan tidak terus berulang. Penanganan tidak cukup dilakukan ketika asap telah menyelimuti permukiman dan sekolah, tetapi harus dimulai dari pengawasan lahan serta pencegahan pembakaran.

Untuk sementara, kegiatan tatap muka di Rokan Hulu telah kembali berjalan. Sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah tetap diminta mengikuti perkembangan kualitas udara serta mengutamakan keselamatan peserta didik.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna