KebonCinta.com-- Penumpukan lemak di perut ternyata bukan hanya berkaitan dengan berat badan dan kesehatan jantung. Jenis lemak tertentu yang berada di sekitar organ dalam juga menjadi perhatian peneliti karena diduga memiliki hubungan dengan perubahan pada otak yang berkaitan dengan risiko penyakit Alzheimer.
Alzheimer merupakan gangguan otak progresif yang dapat memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, komunikasi, hingga perilaku seseorang. Gejalanya biasanya berkembang secara perlahan, sehingga perubahan yang terjadi pada otak bisa berlangsung jauh sebelum masalah tersebut disadari.
Penelitian yang dipublikasikan melalui Radiological Society of North America (RSNA) menyoroti hubungan antara lemak visceral dan sejumlah penanda biologis yang berkaitan dengan risiko demensia. Temuan ini membuka peluang untuk memahami lebih jauh bagaimana kondisi metabolisme tubuh berhubungan dengan kesehatan otak.
Meski demikian, hubungan tersebut tidak berarti setiap orang yang memiliki lemak perut berlebih pasti akan mengalami Alzheimer.
Baca Juga: Tak Perlu Menunggu Tubuh Sakit, Ini 5 Kebiasaan Sehat yang Bisa Dimulai Perempuan Usia 30-an
Lemak visceral adalah jaringan lemak yang tersimpan di dalam rongga perut, mengelilingi organ seperti hati, pankreas, dan usus. Jenis lemak ini berbeda dari lemak subkutan yang berada tepat di bawah permukaan kulit.
Penumpukan lemak visceral secara berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme dan proses peradangan dalam tubuh. Karena itu, jumlah lemak di sekitar organ dalam menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penelitian mengenai berbagai penyakit kronis.
Dari sisi kesehatan otak, peneliti mulai mengkaji apakah kondisi tersebut juga berhubungan dengan perubahan biologis yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kognitif pada masa mendatang.
Salah satu hal yang menarik perhatian dari penelitian tersebut adalah hubungan antara tingginya lemak visceral dan perubahan tertentu pada otak pada orang berusia sekitar 50 tahun.
Perubahan biologis yang diteliti berpotensi terdeteksi hingga sekitar 15 tahun sebelum gejala demensia terlihat. Artinya, sejumlah proses yang berkaitan dengan risiko gangguan kognitif mungkin sudah berlangsung ketika seseorang masih dapat menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Namun, temuan ini tidak berarti Alzheimer dapat dipastikan muncul 15 tahun kemudian pada setiap orang dengan lemak visceral tinggi. Jangka waktu tersebut menggambarkan potensi ditemukannya perubahan lebih awal dalam konteks penelitian, bukan kepastian perjalanan penyakit setiap individu.
Baca Juga: Kemenkes: 6.549 Puskesmas Sudah Layani Kesehatan Jiwa, Ditargetkan 100 Persen dalam Dua Tahun
Penelitian tersebut juga menyoroti kadar amiloid yang lebih tinggi pada korteks precuneus, bagian otak yang berperan dalam sejumlah proses kognitif. Amiloid merupakan protein yang berkaitan dengan perubahan biologis pada penyakit Alzheimer ketika menumpuk secara abnormal.
Selain itu, peneliti menemukan kaitan dengan tingkat peradangan otak yang lebih besar. Peradangan merupakan salah satu mekanisme yang terus dipelajari untuk memahami perkembangan Alzheimer dan gangguan neurodegeneratif lainnya.
Salah satu dugaan yang tengah diperhatikan adalah kemungkinan hubungan antara penumpukan lemak visceral, proses inflamasi dalam tubuh, dan perubahan yang terjadi pada otak. Akan tetapi, mekanisme tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan bagaimana masing-masing faktor saling berhubungan.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan antara lemak visceral dan perubahan otak yang diteliti tampak lebih kuat pada pria dibandingkan wanita.
Perbedaan ini menjadi petunjuk bahwa hubungan antara komposisi tubuh dan kesehatan otak mungkin dipengaruhi oleh karakteristik biologis maupun faktor lain pada setiap individu.
Meski begitu, hasil tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa pria pasti lebih rentan mengalami Alzheimer akibat lemak perut. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami perbedaan tersebut dan menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap risiko penyakit.
Baca Juga: Gaji Besar Bukan Jaminan Kaya, Ini 6 Kebiasaan yang Bikin Keuangan Lebih Sehat
Temuan mengenai lemak visceral memberikan alasan tambahan untuk memperhatikan kesehatan metabolisme. Namun, penelitian tentang hubungan lemak perut dan perubahan otak belum membuktikan bahwa mengurangi lemak visceral secara langsung dapat mencegah Alzheimer.
Menjaga berat badan, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, serta mengendalikan faktor risiko penyakit kronis tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Apabila mengalami gangguan daya ingat atau perubahan kemampuan berpikir yang semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.
Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan pentingnya melihat kesehatan tubuh dan otak sebagai dua hal yang saling berkaitan. Meski lemak visceral belum dapat dijadikan alat tunggal untuk memprediksi Alzheimer, pemahaman mengenai faktor risiko sejak dini dapat membantu membuka jalan bagi penelitian pencegahan dan deteksi yang lebih baik.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir