Keboncinta.com-- Tidak sedikit orang yang hari ini belajar agama bukan lagi dari majelis di masjid, melainkan dari layar ponsel.
Saat menunggu kendaraan, beristirahat di kantor, atau sebelum tidur, mereka membuka media sosial dan menemukan potongan ceramah, video kajian, hingga infografik berisi pesan-pesan keislaman.
Perubahan ini menunjukkan bahwa ruang dakwah telah bergeser mengikuti kebiasaan masyarakat.
Namun, perubahan tersebut juga membawa tantangan baru.
Dakwah di era digital tidak cukup hanya menguasai materi keagamaan, tetapi juga membutuhkan kemampuan memahami dunia digital dengan baik.
Literasi digital sering kali dipahami sebatas kemampuan menggunakan media sosial atau mengoperasikan perangkat teknologi.
Padahal, maknanya jauh lebih luas. Literasi digital adalah kemampuan mencari, memilah, memahami, serta menyebarkan informasi secara bertanggung jawab.
Dalam konteks dakwah, keterampilan ini menjadi sangat penting karena informasi keagamaan beredar begitu cepat tanpa selalu melalui proses verifikasi.
Akibatnya, potongan ceramah yang keluar dari konteks, kutipan hadis yang tidak jelas sumbernya, atau judul yang provokatif mudah dipercaya dan dibagikan.
Seorang pendakwah maupun siapa pun yang menyebarkan pesan agama perlu memahami cara kerja media digital agar tidak ikut memperkuat penyebaran informasi yang keliru.
Lebih dari itu, literasi digital membantu dakwah menjadi lebih relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Seorang pendakwah dapat memilih bahasa yang mudah dipahami, membuat konten yang menarik tanpa menghilangkan substansi, serta memahami karakter audiens di berbagai platform.
Di sisi lain, masyarakat yang memiliki literasi digital yang baik juga tidak akan mudah terprovokasi oleh informasi yang memecah belah atau mengatasnamakan agama.
Mereka terbiasa memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan berpikir kritis sebelum mengambil kesimpulan.
Hubungan antara pendakwah dan masyarakat pun menjadi lebih sehat karena dibangun di atas kepercayaan, bukan sekadar viralitas.