KebonCinta.com — Dua mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan mengembangkan gagasan teknologi untuk membantu mengatasi persoalan sampah terapung di kawasan sungai, muara dan pesisir.
Inovasi tersebut diberi nama S.M.A.R.T. BARRIER atau Sistem Mandiri Adaptif Reduksi Sampah Terpadu.
Gagasan dikembangkan oleh Diana Islamiati dari Program Studi Teknik Kelautan dan Angelika Putri Fadilla dari Program Studi Fisika.
Keduanya menggabungkan teknologi kelautan dengan Internet of Things atau IoT dan energi terbarukan.
S.M.A.R.T. BARRIER dirancang sebagai platform terapung untuk mengarahkan serta mengumpulkan sampah sebelum terbawa lebih jauh menuju laut.
Konsep tersebut muncul dari persoalan sampah yang banyak menumpuk di muara dan wilayah pesisir.
Sampah yang tidak segera ditangani dapat menyebar ke laut terbuka.
Material plastik juga berpotensi terpecah menjadi partikel yang semakin kecil dan kemudian menjadi mikroplastik.
Sistem rancangan mahasiswa ITK menggunakan komponen pengarah sampah atau trash boom.
Sampah kemudian diarahkan ke bagian masuk dengan kecepatan aliran yang dirancang rendah sebelum melewati proses pemilahan awal.
Teknologi IoT digunakan untuk memantau kondisi operasional perangkat.
Dengan sensor, sistem diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perangkat maupun lingkungan perairan secara lebih adaptif.
Sumber listrik tidak hanya dirancang bergantung pada jaringan konvensional.
Konsep utama menggunakan kombinasi energi matahari dan energi arus, sementara energi gelombang juga dipertimbangkan untuk lokasi tertentu.
Salah satu bagian menarik dari rancangan ini adalah perlindungan terhadap biota.
Mahasiswa tidak ingin teknologi pengumpul sampah justru ikut menangkap ikan atau organisme lain yang hidup di perairan.
Karena itu, sistem dirancang menggunakan beberapa lapisan perlindungan.
Di antaranya terdapat kisi penghalang, zona perlambatan aliran hingga jalur yang memungkinkan biota lolos.
Sensor juga dirancang dapat menghentikan pompa dan membuka jalur bypass ketika keberadaan organisme terdeteksi.
Berdasarkan perhitungan rekayasa awal, sistem diarahkan untuk menangani timbulan sampah sekitar 10 hingga 40 kilogram per hari pada area sasaran.
Namun angka tersebut masih merupakan hasil analisis desain, bukan hasil pengujian alat di lapangan.
Hal tersebut penting karena S.M.A.R.T. BARRIER saat ini masih berada pada tahap konsep.
Perangkat belum menjadi teknologi siap pakai dan belum beroperasi secara langsung di sungai maupun laut.
Tahapan berikutnya masih membutuhkan simulasi, pembuatan purwarupa dan pengujian lapangan.
Stabilitas platform, efektivitas pengumpulan sampah, kemampuan sistem energi dan keamanan terhadap biota masih harus dibuktikan.
Meski demikian, gagasan tersebut menunjukkan bagaimana mahasiswa dari dua bidang berbeda dapat bekerja sama mencari solusi terhadap persoalan lingkungan.
Teknik Kelautan memberikan pemahaman mengenai karakter perairan, sementara Fisika membantu pengembangan sistem energi dan teknologi.
Jika nantinya berhasil dikembangkan menjadi purwarupa, konsep tersebut berpotensi digunakan di kawasan yang relatif terlindung.
Lokasinya dapat berupa muara sungai, kanal pelabuhan, dermaga maupun kawasan mangrove.
Inovasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak hanya dapat ditangani melalui kegiatan pembersihan manual.
Teknologi dapat dikembangkan untuk mencegah sampah menyebar lebih jauh, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem perairan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir