KebonCinta.com-- Pernah merasa teman sekelas lebih cepat memahami pelajaran hanya dengan mendengarkan guru, sementara kamu justru perlu melihat gambar atau mencoba langsung agar materi lebih mudah dipahami? Perbedaan tersebut bisa berkaitan dengan kebiasaan dan strategi belajar yang digunakan setiap orang.
Setiap siswa memiliki pengalaman, kebiasaan, dan cara tersendiri ketika mempelajari sesuatu. Ada yang terbantu dengan ilustrasi, ada yang lebih mudah menangkap penjelasan melalui percakapan, dan ada pula yang perlu melakukan praktik agar memahami materi secara lebih mendalam.
Salah satu konsep yang sering digunakan untuk menjelaskan perbedaan tersebut adalah gaya belajar. James dan Gardner, sebagaimana dikutip dalam Ghufron dan Risnawita (2013: 42), menjelaskan gaya belajar sebagai proses ketika seseorang menentukan cara yang dianggap paling sesuai untuk memahami, menyimpan, dan mengingat informasi.
Dalam pembahasan yang populer, gaya belajar kerap dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni visual, auditori, dan kinestetik. Mengenali ketiganya dapat menjadi langkah awal untuk menemukan strategi belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan diri.
Baca Juga: Cara Mengajarkan Kecerdasan Emosional pada Anak, Bunda dan Guru Perlu Tahu 3 Langkah Ini
Siswa dengan kecenderungan visual biasanya terbantu ketika informasi disajikan dalam bentuk yang dapat dilihat. Materi berupa diagram, ilustrasi, peta konsep, tabel, dan video bisa membuat penjelasan yang rumit terasa lebih mudah dipahami.
Misalnya, saat mempelajari proses terjadinya hujan, siswa dapat membuat bagan yang menunjukkan tahapan penguapan, pembentukan awan, hingga turunnya air ke permukaan bumi. Susunan gambar tersebut membantu mereka melihat hubungan antarkonsep secara lebih jelas.
Jika kamu merasa cara ini cocok, cobalah membuat catatan berwarna, menggunakan simbol, atau merangkum pelajaran dalam bentuk mind map. Namun, jangan hanya mengandalkan gambar. Membaca penjelasan dan berlatih menjawab pertanyaan tetap penting agar pemahaman semakin kuat.
Berbeda dari pembelajar visual, siswa yang cenderung auditori sering merasa terbantu melalui informasi yang didengar. Penjelasan langsung dari guru, diskusi kelompok, tanya jawab, dan rekaman suara dapat menjadi sarana belajar yang berguna bagi mereka.
Sebagai contoh, ketika mempelajari materi sejarah, siswa dapat mencoba menceritakan kembali peristiwa yang dipelajari dengan kata-katanya sendiri. Mendiskusikan materi bersama teman juga bisa membantu menguji pemahaman sekaligus menemukan bagian yang masih membingungkan.
Strategi lain yang bisa dicoba adalah membaca catatan dengan suara lantang, menjelaskan materi seolah-olah sedang mengajar, atau mendengarkan rekaman penjelasan yang dibuat sendiri.
Meski begitu, mendengarkan saja belum tentu cukup. Menggabungkan kegiatan tersebut dengan membaca, menulis rangkuman, dan mengerjakan latihan dapat membantu proses belajar menjadi lebih menyeluruh.
Baca Juga: Materi PKN Kelas IX Bab 1 Kurikulum Merdeka, Rangkuman dan Poin Penting
Ada pula siswa yang lebih mudah memahami konsep ketika terlibat langsung dalam suatu kegiatan. Mereka cenderung terbantu oleh pengalaman nyata, percobaan, simulasi, permainan edukatif, atau aktivitas yang melibatkan gerakan.
Contohnya, ketika mempelajari konsep gaya dalam pelajaran IPA, siswa bisa melakukan percobaan sederhana menggunakan benda-benda di sekitarnya. Dengan mengamati apa yang terjadi ketika benda didorong atau ditarik, mereka dapat menghubungkan teori dengan pengalaman langsung.
Untuk menerapkan strategi ini, kamu bisa membuat model sederhana, melakukan praktik sesuai materi, menggunakan kartu belajar, atau menyelingi waktu belajar dengan jeda bergerak.
Aktivitas praktik tetap perlu disertai penjelasan dan refleksi. Setelah melakukan percobaan, misalnya, tuliskan hasil pengamatan dan jelaskan kaitannya dengan konsep yang sedang dipelajari.
Memahami kebiasaan belajar sendiri dapat membantu siswa memilih strategi yang lebih nyaman dan efektif. Ketika mengetahui metode yang membuat materi lebih mudah dipahami, siswa dapat menyusun waktu belajar, membuat catatan, dan berlatih dengan cara yang lebih terarah.
Bagi guru, pemahaman tentang perbedaan kebutuhan siswa juga dapat menjadi pertimbangan dalam merancang pembelajaran. Materi dapat disampaikan melalui penjelasan lisan, bahan visual, diskusi, maupun kegiatan praktik agar siswa memiliki beragam kesempatan untuk memahami pelajaran.
Namun, penting untuk diingat bahwa visual, auditori, dan kinestetik bukanlah label tetap yang membatasi kemampuan seseorang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir