Khazanah
M. Panji Maulana

Mengenal KH Hasyim Asy’ari dan Perannya dalam Sejarah Resolusi Jihad

Mengenal KH Hasyim Asy’ari dan Perannya dalam Sejarah Resolusi Jihad

19 Oktober 2026 | 21:51

keboncinta.com- KH Hasyim Asy’ari memiliki tempat penting dalam sejarah pendidikan Islam dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pendiri Pesantren Tebuireng ini dikenal sebagai ulama dan pendidik yang menghubungkan penguasaan ilmu dengan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Namanya berkaitan erat dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Seruan tersebut memperkuat keterlibatan umat Islam, termasuk kalangan pesantren, dalam mempertahankan kemerdekaan ketika Republik Indonesia menghadapi ancaman kembalinya penjajahan.

Mengenal perjalanan Kiai Hasyim membantu pembaca memahami bahwa kontribusi pesantren tidak berhenti pada kegiatan pengajian. Pendidikan, pembentukan karakter, dan pengabdian kepada tanah air juga menjadi bagian dari sejarahnya.

Siapa KH Hasyim Asy’ari?

KH Muhammad Hasyim Asy’ari lahir pada 14 Februari 1871 di Jombang, Jawa Timur. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan agama dan menjalani perjalanan menuntut ilmu, termasuk hingga ke Makkah.

Setelah kembali ke tanah air, Kiai Hasyim mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899. Lembaga pendidikan tersebut menjadi tempatnya mengajar, membimbing santri, dan melayani kebutuhan keagamaan masyarakat.

Publikasi pemerintah mengenai tokoh pendidikan Indonesia mencatat kiprahnya sebagai ulama, pendidik, dan Pahlawan Nasional. Perjalanan itu menunjukkan luasnya pengabdian Kiai Hasyim, dari ruang belajar hingga perjuangan bangsa.

Bagi generasi muda, mengenalnya dapat dimulai dengan memahami hubungan antara ketekunan belajar dan kesediaan mengambil tanggung jawab. Pengetahuan memperoleh makna ketika digunakan untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Pendidikan Pesantren dan Tanggung Jawab Sosial

Buku KH. Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai untuk Negeri, terbitan Museum Kebangkitan Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, membahas peran pendidikan pesantren dalam pembentukan karakter kebangsaan.

Pembahasannya menekankan kemandirian, ketekunan, kehidupan bersama, serta penggunaan ilmu untuk kepentingan masyarakat.

Nilai-nilai tersebut membantu menjelaskan bagaimana pendidikan agama dapat menumbuhkan kepedulian terhadap keadaan bangsa. Seorang santri belajar memahami ajaran sekaligus menghadapi persoalan nyata di sekitarnya.

Dalam kehidupan sekarang, hubungan itu dapat terlihat melalui kejujuran saat belajar, kepedulian kepada teman, dan kesediaan membantu masyarakat. Pendidikan memiliki pengaruh ketika pengetahuan turut membentuk perilaku.

Baca juga: Apa Itu Sanad Ilmu dalam Islam? Pengertian dan Pentingnya bagi Santri

Latar Belakang Lahirnya Resolusi Jihad

Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi tonggak kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, perjuangan mempertahankan negara yang baru berdiri masih menghadapi berbagai ancaman.

Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai tanggung jawab umat Islam terhadap Republik Indonesia. Para ulama merespons persoalan kebangsaan yang menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlangsungan kemerdekaan.

Pada 21–22 Oktober 1945, konsul-konsul Nahdlatul Ulama se-Jawa dan Madura mengadakan pertemuan di Surabaya. Forum tersebut menghasilkan keputusan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Kiai Hasyim berperan sentral dalam landasan keagamaannya. Meskipun demikian, resolusi tersebut perlu dipahami sebagai keputusan bersama melalui forum ulama. Pemahaman ini menjaga penghargaan terhadap kepemimpinannya sekaligus mengakui kontribusi tokoh lain.

Apa Peran KH Hasyim Asy’ari?

Peran penting Kiai Hasyim terletak pada penegasan bahwa mempertahankan kemerdekaan merupakan tanggung jawab yang memiliki dasar keagamaan.

Kementerian Agama, dalam publikasi mengenai sejarah Hari Santri, menjelaskan keterlibatan kalangan kiai pesantren dengan kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari dalam merumuskan seruan perjuangan mempertahankan Indonesia.

Kewibawaan ulama dan hubungan antarpesantren membantu memperkuat pesan tersebut. Kepedulian terhadap tanah air memperoleh dorongan moral yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Istilah jihad dalam peristiwa ini harus dibaca berdasarkan keadaan sejarahnya. Seruan itu muncul dalam situasi mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan. Mengabaikan konteks tersebut dapat mengaburkan tujuan perjuangan yang melatarbelakanginya.

Kaitannya dengan Perjuangan di Surabaya

Resolusi Jihad menjadi salah satu unsur yang memperkuat semangat perjuangan rakyat pada masa revolusi, termasuk di Surabaya.

Publikasi Kementerian Agama mengenangnya sebagai penggerak keterlibatan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
KH Hasyim Asy’ari resolusi jihad Hari Santri Pesantren Tebuireng Sejarah Indonesia Pendidikan Pesantren Ulama dan Kemerdekaan

Komentar Pengguna