Namun, perjuangan Surabaya melibatkan banyak unsur masyarakat. Tentara, pemuda, laskar, tokoh masyarakat, serta penduduk dari beragam latar belakang turut mengambil bagian.
Karena itu, sejarah tersebut sebaiknya dipahami sebagai perjuangan bersama. Peran Kiai Hasyim dan lingkungan pesantren menjadi bagian penting dari usaha bangsa mempertahankan Indonesia.
Tanggal 22 Oktober kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Dalam sambutan resmi pada Apel Hari Santri 2023, Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa pemilihan tanggal tersebut merujuk pada Resolusi Jihad.
Hubungan ini memberikan dasar sejarah bagi peringatan Hari Santri. Kegiatannya dapat menjadi kesempatan untuk mempelajari tokoh, memahami konteks perjuangan, dan mendiskusikan bentuk pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan sekarang.
Sekolah maupun pesantren dapat mengajak peserta didik membaca sumber sejarah, menyusun garis waktu peristiwa, atau membahas kontribusi masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Baca juga: Tema Hari Santri 2026 “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”: Makna dan Rangkaian Acaranya
Pelajaran dari perjalanan KH Hasyim Asy’ari dapat diterapkan melalui tindakan yang dekat dengan kehidupan pelajar dan santri.
Pertama, menuntut ilmu dengan tekun. Belajar membutuhkan kesabaran, latihan, serta kesediaan menerima bimbingan.
Kedua, menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Memeriksa informasi sebelum membagikannya dan membantu teman memahami pelajaran merupakan contoh sederhana.
Ketiga, menjaga kehidupan bersama. Menghormati perbedaan, merawat lingkungan, dan menjalankan tugas dengan baik merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan setiap hari.
Mempelajari sejarah Kiai Hasyim membantu generasi muda memahami alasan seorang tokoh dihormati. Penghormatan itu dapat diteruskan melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir