KebonCinta.com — Memiliki satu pekerjaan tetap kini bukan lagi satu-satunya pilihan untuk membangun karier. Di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan pola kerja, semakin banyak orang mengeksplorasi beberapa peran profesional sekaligus. Mulai dari bekerja di perusahaan, menjadi freelancer, menjalankan bisnis kecil, hingga membangun karier sebagai content creator.
Pola tersebut dikenal sebagai portfolio career, yakni pendekatan karier yang menggabungkan beberapa pekerjaan, proyek, atau aktivitas profesional dalam satu portofolio.
Konsep ini diperkenalkan oleh filsuf dan pakar manajemen Charles Handy. Gagasan tersebut menggambarkan perubahan cara seseorang membangun kehidupan profesional, dari mengandalkan satu jabatan menjadi mengembangkan beragam peran sesuai keterampilan, minat, dan tujuan hidup.
Baca Juga: TKA SMA 2026 Segera Digelar! Cek 6 Syarat Peserta, 12 Tahap Pendaftaran, dan Jadwal Lengkapnya
Perkembangan ekonomi digital turut memperluas kesempatan untuk menjalani pola karier ini. Platform digital memungkinkan seseorang menawarkan jasa, menjual produk, maupun bekerja dengan klien dari berbagai wilayah tanpa harus selalu berada di kantor.
Namun, apakah portfolio career benar-benar menjadi pilihan yang menjanjikan bagi anak muda? Berikut sejumlah hal yang perlu dipahami sebelum menjalaninya.
Portfolio career adalah pola karier ketika seseorang menjalankan beberapa pekerjaan atau peran profesional, alih-alih hanya bergantung pada satu profesi utama.
Sebagai contoh, seseorang dapat bekerja penuh waktu di perusahaan sambil menerima proyek desain grafis pada akhir pekan. Ada pula profesional yang mengajar kelas daring, menulis artikel lepas, atau menjalankan usaha kecil di luar pekerjaan utama.
Berbeda dari pekerjaan sampingan yang sekadar dilakukan untuk mendapatkan uang tambahan, portfolio career dapat mencakup strategi pengembangan karier jangka panjang. Setiap peran yang dijalankan berpotensi memberikan pengalaman, keterampilan, jaringan profesional, dan sumber pendapatan yang berbeda.
Meski begitu, tidak semua orang yang memiliki pekerjaan sampingan otomatis menjalani portfolio career. Konsep ini lebih menekankan bagaimana berbagai peran profesional tersebut disusun menjadi bagian dari perjalanan karier seseorang.
Berikut beberapa alasan portofolio career menarik, diantaranta:
Salah satu daya tarik portfolio career adalah kesempatan memperoleh pendapatan dari beberapa sumber.
Ketika seseorang memiliki pekerjaan utama sekaligus menerima proyek freelance atau menjalankan usaha, pendapatannya tidak sepenuhnya bergantung pada satu aktivitas ekonomi.
Diversifikasi ini berpotensi membantu menghadapi perubahan pendapatan. Namun, hasilnya tidak selalu terjamin karena setiap sumber pemasukan tetap memiliki risiko tersendiri.
Karena itu, anak muda perlu mempertimbangkan kestabilan pekerjaan utama, biaya operasional, dan kebutuhan keuangan sebelum menambah aktivitas yang menghasilkan uang.
Portfolio career memberikan kesempatan untuk mempelajari berbagai keterampilan di luar pekerjaan utama.
Seorang karyawan pemasaran, misalnya, dapat mengembangkan kemampuan menulis, mengelola media sosial, atau menganalisis data melalui proyek tambahan.
Pengalaman tersebut dapat memperkaya portofolio profesional dan membantu seseorang mengenali bidang yang paling sesuai dengan minatnya.
Dalam jangka panjang, keterampilan lintas bidang juga dapat mendukung adaptasi terhadap perubahan kebutuhan dunia kerja.
Perkembangan teknologi digital membuat akses terhadap berbagai jenis pekerjaan semakin terbuka.
Melalui platform freelance, situs pembelajaran, media sosial, dan marketplace, seseorang dapat menawarkan jasa atau produk kepada calon pelanggan yang lebih luas.
Peluang ini memungkinkan anak muda mengembangkan keterampilan yang dimiliki tanpa harus selalu mendirikan perusahaan atau menyewa tempat usaha.
Meski demikian, persaingan digital tetap perlu diperhitungkan. Membangun reputasi, menjaga kualitas layanan, dan memahami kebutuhan pelanggan menjadi faktor penting agar aktivitas profesional dapat berkembang.
Tidak semua kemampuan harus dikembangkan melalui pekerjaan utama. Hobi atau minat tertentu juga dapat menjadi sarana untuk membangun pengalaman profesional.
Seseorang yang menyukai fotografi, misalnya, dapat mengembangkan portofolio melalui proyek kreatif. Mereka yang tertarik pada pendidikan dapat mencoba mengajar atau menyusun materi pembelajaran sesuai kompetensinya.
Namun, mengubah hobi menjadi pekerjaan membutuhkan perencanaan. Aktivitas yang awalnya menyenangkan bisa terasa membebani ketika harus memenuhi tenggat waktu, kebutuhan pelanggan, dan target pendapatan.
Karena itu, penting untuk menentukan batas antara aktivitas yang dilakukan untuk bersenang-senang dan pekerjaan yang memiliki tanggung jawab profesional.
Portfolio career juga dapat menjadi sarana untuk mengeksplorasi pilihan karier.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir