Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Mengenali Teman yang Buruk Menurut Islam, Jangan Abaikan Tanda-Tandanya

Mengenali Teman yang Buruk Menurut Islam, Jangan Abaikan Tanda-Tandanya

03 November 2026 | 12:36

Keboncinta.com — Dalam kehidupan sehari-hari, pertemanan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun hubungan sosial. Kehadiran teman bukan hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga dapat memengaruhi kebiasaan, perilaku, bahkan cara seseorang menjalani kehidupan beragama.

Islam menganjurkan umatnya untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia tanpa membedakan latar belakang sosial, suku, maupun kedudukan. Namun, dalam memilih sahabat dekat, seorang muslim dianjurkan memperhatikan pengaruh pergaulan terhadap keimanan dan akhlaknya.

Allah SWT menjelaskan tujuan manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku melalui Al-Qur'an surah Al-Hujurat ayat 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Ayat tersebut mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, penampilan, atau kedudukan sosial, melainkan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Merujuk buku Sahabat Sejati Sahabat Surga: Teman Boleh Banyak, Tapi Sahabat Sejati Bisa Dihitung Jari karya Rizem Aizid, pertemanan sesama muslim tidak semestinya dibatasi oleh perbedaan status sosial. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keimanan dan perilaku seseorang memberikan pengaruh dalam kehidupan.

Baca Juga: Kebaikan yang Sederhana, tetapi Bisa Bernilai Besar 

Teman yang baik dapat mengingatkan ketika kita lalai, memberikan dukungan saat menghadapi kesulitan, serta mendorong untuk melakukan amal saleh. Sebaliknya, pergaulan yang terus-menerus menjauhkan seseorang dari ajaran agama patut diwaspadai.

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan tentang pengaruh teman baik dan teman buruk:

"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menggambarkan bahwa lingkungan pertemanan dapat meninggalkan pengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lantas, apa saja ciri teman yang membawa keburukan menurut Islam?

5 Ciri-Ciri Teman yang Membawa Keburukan Menurut Islam

1. Sering Mengajak Melakukan Perbuatan Maksiat

Salah satu ciri teman yang membawa pengaruh buruk adalah kebiasaannya mengajak orang lain melakukan perbuatan yang dilarang agama. Ajakan tersebut bisa berupa berbohong, menipu, mengonsumsi sesuatu yang haram, hingga melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Pada awalnya, ajakan tersebut mungkin terlihat sederhana atau dianggap sebagai candaan. Namun, apabila terus diikuti, kebiasaan buruk dapat berkembang menjadi perilaku yang sulit ditinggalkan.

Allah SWT mengingatkan umat Islam agar tidak saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Hal ini dijelaskan dalam surah Al-Ma'idah ayat 2:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: "...Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan..." (QS Al-Ma'idah: 2).

Karena itu, seorang muslim perlu berani menolak ajakan yang bertentangan dengan ajaran agama, sekalipun datang dari teman dekat.

2. Membuat Lalai terhadap Kewajiban Agama

Teman yang membawa pengaruh buruk juga dapat dikenali dari kebiasaannya mengajak melakukan aktivitas hingga membuat seseorang mengabaikan kewajiban agama.

Contohnya, terus-menerus mengajak bermain ketika waktu salat tiba, menganggap ibadah sebagai sesuatu yang tidak penting, atau bahkan mengejek teman yang berusaha menjalankan kewajiban agamanya.

Bersosialisasi dan menikmati waktu bersama teman tentu diperbolehkan. Islam tidak melarang seseorang bersenang-senang selama dilakukan dengan cara yang baik dan tidak melanggar ketentuan agama.

Namun, hubungan pertemanan tidak seharusnya membuat seseorang mengesampingkan kewajibannya kepada Allah SWT. Teman yang baik justru akan menghormati waktu ibadah dan memberikan kesempatan kepada sahabatnya untuk menjalankan kewajiban tersebut.

3. Sering Mengajak Berbohong dan Berbuat Curang

Kejujuran merupakan salah satu akhlak penting dalam Islam. Oleh karena itu, teman yang terbiasa mengajak berbohong, memanipulasi keadaan, menipu orang lain, atau melakukan kecurangan dapat memberikan pengaruh buruk apabila perilakunya terus diikuti.

Kebiasaan tersebut bisa muncul dalam berbagai situasi, mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, transaksi jual beli, hingga hubungan sosial.

Seseorang yang awalnya tidak terbiasa berbohong bisa saja mulai menganggap kebohongan sebagai hal biasa karena sering berada dalam lingkungan yang membenarkannya.

Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang bahaya mengkhianati kepercayaan melalui hadis yang diriwayatkan Abu Dawud:

"Pelanggaran kepercayaan terbesar adalah kamu mengatakan sesuatu kepada saudaramu yang percaya itu benar, padahal kamu telah berbohong kepadanya." (HR Abu Dawud).

Pesan tersebut mengingatkan bahwa kejujuran bukan hanya berkaitan dengan ucapan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab menjaga kepercayaan orang lain.

4. Suka Menggunjing dan Menjelek-Jelekkan Orang Lain

Kebiasaan membicarakan keburukan orang lain juga menjadi salah satu ciri pertemanan yang perlu diwaspadai.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Pertemanan Menurut Islam Akhlak Muslim Memilih Sahabat

Komentar Pengguna