Keboncinta.com — Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik manfaatnya, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan digital untuk menjalankan penipuan secara lebih canggih.
Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah AI scam, yaitu praktik penipuan yang memanfaatkan teknologi AI untuk mengelabui korban. Modus tersebut dapat menyasar siapa saja, termasuk konsumen yang terbiasa melakukan transaksi melalui internet.
Dilaporkan BBC, Rabu (21/10/2026), National Trading Standards di Inggris mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan berbasis AI. Teknologi tersebut membuat konten palsu terlihat semakin realistis sehingga lebih sulit dibedakan dari informasi asli.
Dalam sejumlah kasus, pelaku membuat situs web yang menyerupai toko milik keluarga atau bisnis kecil. Situs tersebut menampilkan produk berkualitas dengan harga menarik untuk meyakinkan calon pembeli.
Namun, setelah konsumen melakukan pembayaran, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim. Dalam kasus lain, korban justru menerima produk murah yang kualitasnya jauh berbeda dari penawaran awal.
Pelaku juga memanfaatkan gambar hasil AI, teknologi kloning suara, hingga video deepfake untuk membangun kepercayaan korban. Berikut empat modus AI scam yang perlu dikenali.
Baca Juga: OJK Cirebon Catat 2.200 Pengaduan, UMKM Majalengka Diingatkan Waspada Penipuan Digital
Salah satu modus penipuan yang semakin berkembang adalah pembuatan situs belanja palsu. Dengan bantuan AI, pelaku dapat membuat tampilan toko online yang terlihat profesional dalam waktu relatif singkat dan dengan biaya terjangkau.
Situs tersebut biasanya dilengkapi foto produk, deskripsi, informasi toko, hingga ulasan pelanggan yang dibuat untuk meyakinkan pengunjung.
Tidak sedikit situs palsu yang meniru identitas toko kecil atau bisnis keluarga. Pelaku kemudian menawarkan berbagai produk dengan harga murah untuk menarik perhatian konsumen.
Masalahnya, tampilan profesional tidak menjamin sebuah toko benar-benar dapat dipercaya. Konsumen yang tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut berisiko kehilangan uang setelah menyelesaikan pembayaran.
Sebelum membeli barang, periksa alamat situs, identitas penjual, informasi kontak, serta reputasi toko. Jangan langsung percaya pada harga yang terlalu murah dibandingkan produk sejenis di pasaran.
Modus berikutnya adalah penipuan asmara atau romance scam. Dalam praktik ini, pelaku memanfaatkan AI untuk membangun komunikasi dengan korban dan mempertahankan hubungan palsu dalam waktu lama.
Teknologi AI dapat membantu penipu mengingat berbagai detail pribadi korban, seperti pekerjaan, hobi, keluarga, hingga peristiwa yang pernah diceritakan.
Informasi tersebut kemudian digunakan untuk membuat percakapan terasa lebih personal dan meyakinkan. Pelaku bisa menjaga komunikasi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sampai korban merasa memiliki hubungan emosional.
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku biasanya mulai meminta uang dengan berbagai alasan. Misalnya, mengaku sedang mengalami masalah keuangan, membutuhkan biaya perjalanan, atau menghadapi keadaan darurat.
Karena itu, jangan mudah mengirimkan uang kepada seseorang yang hanya dikenal melalui internet. Terlebih jika hubungan tersebut belum pernah dibuktikan melalui pertemuan langsung.
Teknologi deepfake menjadi salah satu ancaman serius dalam penipuan digital. Teknologi ini memungkinkan pelaku membuat video atau suara tiruan yang menyerupai seseorang menggunakan bantuan AI.
Dalam praktiknya, penipu dapat meniru suara kerabat, teman, atau orang yang dikenal korban. Mereka kemudian menghubungi target dan berpura-pura sedang menghadapi keadaan darurat yang membutuhkan bantuan uang.
Suara yang terdengar familiar dapat membuat korban panik dan langsung percaya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir