Teknologi
M. Fadhli Dzil Ikram

Momentum Belanja Akhir Tahun, Begini Cara Memaksimalkan Penjualan di TikTok Shop

Momentum Belanja Akhir Tahun, Begini Cara Memaksimalkan Penjualan di TikTok Shop

03 November 2026 | 08:39

Keboncinta.com — Memasuki kuartal keempat atau Q4 2026, pelaku bisnis e-commerce di Indonesia mulai mempersiapkan strategi untuk menghadapi periode puncak belanja online. Momentum ini menjadi kesempatan penting bagi seller untuk meningkatkan penjualan melalui berbagai kampanye pemasaran digital.

Salah satu platform yang menjadi perhatian pelaku bisnis adalah TikTok Shop. Perpaduan konten video, interaksi pengguna, dan aktivitas transaksi membuat platform ini menjadi salah satu kanal pemasaran yang dimanfaatkan brand untuk menjangkau konsumen.

Namun, meningkatnya persaingan iklan digital juga menghadirkan tantangan tersendiri. Seller tidak cukup hanya memperbesar anggaran promosi atau mengejar jumlah penonton. Strategi pemasaran perlu diarahkan kepada audiens yang benar-benar berpotensi melakukan pembelian.

Untuk membantu pelaku bisnis menghadapi tantangan tersebut, TikTok bersama Agile Advertising menggelar seminar bertajuk "TikTok × Agile Advertising: It's A Match" di Jakarta, belum lama ini.

Kegiatan tersebut membahas pentingnya pendekatan pemasaran berbasis data untuk meningkatkan efektivitas kampanye iklan, terutama menjelang periode belanja besar pada akhir tahun.

Managing Director Agile Advertising, Ryan Sidharta, menyampaikan bahwa persoalan utama pemasaran digital saat ini bukan semata-mata terletak pada kemampuan menjangkau konsumen.

Menurutnya, banyak brand sebenarnya sudah memiliki jangkauan iklan yang cukup luas. Akan tetapi, iklan tersebut belum tentu menjangkau calon pembeli yang sesuai dengan karakteristik produk.

"Mayoritas brand yang mengalami kendala pemasaran sebenarnya bukan kekurangan jangkauan. Iklan mereka sampai ke audiens, tetapi bukan ke orang yang tepat," ujar Ryan dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan kampanye digital tidak bisa hanya diukur berdasarkan jumlah tayangan atau klik. Kualitas audiens dan kemampuannya menghasilkan transaksi juga harus menjadi perhatian.

Baca Juga: TikTok Kembali Buka Lowongan Kerja, Fresh Graduate Punya Kesempatan Bergabung 

Seller Perlu Mengutamakan Ketepatan Target Iklan

Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor yang membuat strategi pemasaran digital harus terus diperbarui. Preferensi pembeli dapat berubah mengikuti tren, kondisi ekonomi, hingga munculnya produk baru di pasar.

Karena itu, kecocokan antara produk, audiens, dan pesan iklan perlu dievaluasi secara berkala.

Seller yang hanya mengandalkan asumsi berisiko menghabiskan anggaran untuk menjangkau pengguna yang sebenarnya tidak memiliki minat terhadap produk yang ditawarkan.

Sebaliknya, penggunaan data faktual dapat membantu pemilik brand memahami karakteristik konsumen, mengetahui materi iklan yang paling efektif, serta menentukan strategi promosi berikutnya.

Ryan juga menyoroti persoalan yang sering muncul ketika jumlah pesanan meningkat, tetapi pendapatan keseluruhan justru tidak mengalami pertumbuhan yang sebanding.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi sinyal bagi seller untuk mengevaluasi nilai rata-rata keranjang belanja atau basket size serta struktur konversi toko.

"Saat volume pesanan meningkat tetapi pendapatan total stagnan, segera perbaiki nilai basket size serta struktur konversi toko," kata Ryan.

Fenomena tersebut dapat terjadi ketika seller berhasil mendapatkan banyak transaksi, tetapi nilai setiap pesanan relatif kecil. Selain itu, biaya promosi, diskon, dan biaya operasional juga dapat memengaruhi keuntungan bersih yang diperoleh.

Dengan demikian, peningkatan jumlah pesanan belum tentu menunjukkan bahwa bisnis mengalami pertumbuhan yang sehat.

Mengapa Basket Size dan Konversi Penting bagi Seller?

Dalam pemasaran e-commerce, basket size menggambarkan nilai atau jumlah produk yang dibeli konsumen dalam satu transaksi. Sementara itu, tingkat konversi menunjukkan kemampuan toko mengubah pengunjung menjadi pembeli.

Keduanya memiliki peran penting dalam menentukan efektivitas pemasaran.

Sebagai contoh, sebuah toko berhasil meningkatkan jumlah pengunjung melalui iklan berbayar. Namun, apabila sebagian besar pengunjung hanya melihat produk tanpa melakukan pembelian, biaya iklan yang dikeluarkan belum menghasilkan keuntungan optimal.

Persoalan lain muncul ketika konsumen melakukan transaksi, tetapi hanya membeli satu produk dengan nilai rendah. Jumlah pesanan mungkin meningkat, tetapi pendapatan rata-rata setiap transaksi tetap terbatas.

Untuk mengatasi hal tersebut, seller dapat mengevaluasi beberapa aspek, seperti:

  • Kualitas halaman produk: Foto, deskripsi, harga, dan informasi produk perlu disajikan secara jelas agar calon pembeli memahami penawaran.
  • Strategi paket produk: Penawaran bundling dapat mendorong konsumen membeli lebih dari satu produk dalam satu transaksi.
  • Promosi yang tepat: Diskon dan voucher sebaiknya dirancang dengan mempertimbangkan margin keuntungan.
  • Pengalaman berbelanja: Proses pembelian yang mudah dapat membantu mengurangi hambatan konsumen ketika menyelesaikan transaksi.

Pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing bisnis. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan transaksi, melainkan menghasilkan pendapatan dan margin keuntungan yang lebih sehat.

Agile Advertising Perkenalkan Tiga Metodologi Kerja

Dalam seminar tersebut, Agile Advertising turut memperkenalkan pendekatan kerja terstruktur untuk membantu brand mengoptimalkan pemasaran digital.

Agensi yang berdiri sejak 2023 tersebut berfokus pada strategi performance marketing dan conversion. Berdasarkan keterangan perusahaan, Agile Advertising telah menangani lebih dari 25 jenis industri dan mengelola pemasaran digital untuk lebih dari 100 brand setiap bulannya.

Pendekatan yang digunakan terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu Attempt, Analyze, dan Amplify.

1. Attempt: Menguji Strategi Iklan

Tahap pertama adalah Attempt atau melakukan pengujian awal.

Pada tahap ini, pelaku bisnis perlu mencoba berbagai kombinasi materi iklan, pendekatan komunikasi, serta kelompok audiens untuk menemukan strategi yang memberikan hasil terbaik.

Pengujian dilakukan secara terukur agar seller dapat mengetahui jenis konten yang menarik perhatian konsumen dan berpotensi menghasilkan transaksi.

Misalnya, sebuah brand dapat membandingkan beberapa video promosi dengan konsep berbeda. Hasil pengujian kemudian digunakan untuk menentukan materi iklan yang paling efektif.

2. Analyze: Mengevaluasi Data Kinerja

Setelah pengujian dilakukan, tahap berikutnya adalah Analyze atau menganalisis hasil kampanye.

Seller perlu memeriksa data kinerja iklan secara mendalam, mulai dari biaya promosi, jumlah transaksi, pendapatan, hingga tingkat pengembalian belanja iklan.

Salah satu indikator yang diperhatikan adalah break-even ROAS atau titik ketika pendapatan yang dihasilkan dari iklan sudah mampu menutup biaya iklan berdasarkan perhitungan yang digunakan.

Analisis tersebut membantu pemilik bisnis menentukan batas efisiensi promosi. Dengan begitu, seller dapat mengetahui apakah kampanye yang berjalan benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru membebani operasional.

3. Amplify: Memperbesar Kampanye yang Efektif

Tahap terakhir adalah Amplify, yaitu memperbesar skala kampanye berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya.

Setelah menemukan kombinasi materi iklan dan audiens yang memberikan hasil baik, seller dapat meningkatkan anggaran serta jangkauan secara bertahap.

Strategi ini bertujuan memperbesar potensi penjualan tanpa mengabaikan margin keuntungan bersih.

Agile Advertising juga mengaitkan tahap tersebut dengan pemanfaatan GMV Max, yaitu fitur periklanan otomatis di TikTok Shop yang membantu mengoptimalkan pendapatan kotor berdasarkan target pengembalian investasi atau ROI yang ditentukan.

Meski demikian, peningkatan anggaran tetap perlu disertai pemantauan kinerja.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
TikTok Shop 2026 Strategi Digital Marketing Agile Advertising

Komentar Pengguna