News
Al Fina

NASA Ungkap Potret Mengerikan Karhutla Indonesia dari Luar Angkasa, Asap Terdeteksi hingga Negara Tetangga

NASA Ungkap Potret Mengerikan Karhutla Indonesia dari Luar Angkasa, Asap Terdeteksi hingga Negara Tetangga

18 Oktober 2026 | 22:59

KebonCinta.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah NASA merilis citra pemantauan dari udara yang memperlihatkan sebaran titik panas dan partikel asap di atmosfer. Pantauan tersebut juga menunjukkan adanya partikel asap yang terdeteksi di sejumlah wilayah negara tetangga.

Data itu diperoleh melalui instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) yang terpasang pada satelit NOAA-21. Dalam citra bertanggal 16 Oktober 2027, titik-titik merah menandai lokasi yang terdeteksi memiliki jejak panas, sebagai indikasi kebakaran aktif atau area yang masih membara.

Meski demikian, titik panas pada citra satelit tidak selalu berarti seluruh area tersebut sedang dilalap api. Data itu merupakan hasil deteksi termal yang membantu mengidentifikasi lokasi yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026 

Berdasarkan informasi pada laman EarthData NASA yang dirujuk dalam pemberitaan detikEdu, citra untuk 17 Oktober 2027 belum tersedia saat informasi tersebut dipublikasikan.

Asap Karhutla Indonesia Terdeteksi hingga Negara Tetangga

Selain memetakan titik panas, NASA turut menampilkan indeks aerosol pada panjang gelombang 380 nanometer. Data ini digunakan untuk mengamati partikel di atmosfer yang menyerap radiasi ultraviolet, termasuk partikel asap, debu, dan abu vulkanik.

NASA menjelaskan bahwa warna pada citra membantu memperlihatkan sebaran partikel di udara. Dalam keterangannya, NASA menyebut "Warna merah paling pekat menandai asap paling tebal di Kalimantan, warna kuning dan oranye menunjukkan area di mana udara berasap dan mengandung partikel telah terdeteksi di negara-negara lain."

Pernyataan tersebut dikutip dari laman resmi NASA, dimana dalam temuan tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lokasi kebakaran. Partikel asap dapat terbawa pergerakan angin dan menyebar melintasi wilayah, sehingga kualitas udara di daerah lain berpotensi ikut terpengaruh.

Namun, citra indeks aerosol perlu dibaca sesuai konteksnya. Warna pada peta bukan pengukuran langsung tingkat paparan yang dialami setiap orang, dan tidak dengan sendirinya menunjukkan besarnya risiko kesehatan di suatu lokasi.

Apa Arti Indeks Aerosol 380 nm yang Ditampilkan NASA?

Indeks aerosol merupakan salah satu indikator untuk mengamati keberadaan partikel di atmosfer. Nilainya tidak memiliki satuan dan umumnya dapat berkisar dari 0 hingga 5 pada tampilan yang dijelaskan NASA.

Secara umum, nilai yang lebih tinggi menunjukkan sinyal aerosol yang lebih kuat. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan keberadaan partikel dalam jumlah besar atau lapisan aerosol yang lebih pekat, meskipun interpretasinya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan karakteristik partikel.

Partikel aerosol dapat menghamburkan atau menyerap cahaya matahari. Ketika konsentrasinya meningkat, jarak pandang dapat berkurang dan kondisi langit terlihat lebih keruh.

Karena itu, informasi indeks aerosol berguna untuk membantu memantau persebaran partikel asap. Meski begitu, indeks ini tidak sama dengan pengukuran konsentrasi PM2.5 atau PM10 yang biasa digunakan untuk menilai kualitas udara di permukaan dan memperkirakan paparan polusi yang dihirup masyarakat.

Pontianak, Jambi, dan Singapura Tunjukkan Nilai AOD Tinggi

Pemantauan atmosfer juga dilakukan melalui Aerosol Robotic Network (AERONET), jaringan instrumen berbasis darat yang digunakan untuk mengamati karakteristik aerosol.

Data AERONET yang dikutip dalam pemberitaan tersebut menunjukkan nilai aerosol optical depth (AOD) yang tinggi, terutama di Pontianak, Jambi, dan Singapura.

AOD atau kedalaman optik aerosol menggambarkan seberapa besar partikel di atmosfer menghalangi cahaya saat melewati lapisan udara. Semakin tinggi nilainya, semakin besar pula pelemahan cahaya yang berkaitan dengan keberadaan aerosol di sepanjang jalur pengamatan.

Sebagai gambaran, AOD di bawah 0,1 umumnya berkaitan dengan kondisi atmosfer yang relatif bersih. Ketika nilainya mencapai 0,5 atau 1,0, pengaruh aerosol terhadap cahaya dapat semakin nyata. Pada nilai di atas 3,0, aerosol yang sangat pekat dapat membuat Matahari tampak redup atau bahkan terhalang.

Walau begitu, AOD bukan satu-satunya indikator untuk menentukan apakah udara aman dihirup. Untuk mengetahui risiko kesehatan secara lebih langsung, masyarakat tetap perlu memperhatikan data kualitas udara setempat, termasuk konsentrasi PM2.5 dan PM10.

El Niño Disebut Memperburuk Kondisi Karhutla

NASA mengaitkan memburuknya kebakaran di sejumlah wilayah dengan kondisi yang lebih kering, kekeringan, serta keterlambatan curah hujan yang berkaitan dengan El Niño.

Ketika curah hujan berkurang dan vegetasi mengering, bahan-bahan yang mudah terbakar dapat meningkat. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menyala dan berpotensi menyebar apabila tidak segera dikendalikan.

Meski faktor cuaca dapat memperbesar risiko karhutla, penyebab kebakaran di suatu lokasi perlu dinilai berdasarkan kondisi dan bukti setempat. Faktor iklim tidak serta-merta menjelaskan seluruh kejadian kebakaran.

Pemantauan satelit, pengamatan di darat, dan informasi kualitas udara dapat saling melengkapi untuk membantu pemerintah serta masyarakat memahami perkembangan karhutla dan dampak asapnya.

Dampak Asap Karhutla terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan

Asap kebakaran hutan dan lahan dapat mengandung partikel halus serta berbagai senyawa yang berisiko mengganggu kesehatan. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, atau memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan maupun gangguan jantung.

Saat asap terdeteksi di wilayah tempat tinggal, masyarakat sebaiknya memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Karhutla Kebakaran Hutan citra satelit nasa

Komentar Pengguna