Keboncinta.com-- Kemampuan numerasi menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak sejak dini. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung atau menyelesaikan soal matematika, tetapi juga bagaimana anak memahami angka, membaca informasi, membandingkan sesuatu, serta menggunakan logika ketika menghadapi persoalan sehari-hari.
Menariknya, proses membangun kemampuan tersebut tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas. Rumah juga dapat menjadi tempat yang efektif untuk memperkuat numerasi anak melalui berbagai aktivitas sederhana.
Mengajak anak menghitung benda, membaca jam, membandingkan harga barang, mengukur bahan makanan, hingga menghitung uang kembalian merupakan contoh kegiatan sehari-hari yang dapat menjadi sarana belajar.
Karena itu, keterlibatan orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak memahami bahwa numerasi bukan sekadar pelajaran di sekolah, melainkan keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Cek Desil DTSEN 2026 Jangan Hanya Lihat Angka, Ini Gambaran Posisi Kesejahteraan Keluarga
Numerasi masih sering dipahami sebatas kemampuan menghafal rumus atau mengerjakan soal matematika. Padahal, konsep numerasi memiliki cakupan yang lebih luas.
Numerasi berkaitan dengan kemampuan seseorang menggunakan angka, simbol, data, dan konsep matematika untuk memahami berbagai situasi serta mengambil keputusan dalam kehidupan nyata.
Anak yang memiliki kemampuan numerasi baik tidak hanya mampu menghitung, tetapi juga dapat menggunakan penalaran untuk menyelesaikan persoalan sederhana.
Misalnya, ketika berbelanja, anak dapat belajar membandingkan harga. Saat memasak, anak dapat mengenal ukuran dan takaran. Ketika melihat jadwal, anak dapat belajar memahami waktu.
Dari aktivitas sederhana tersebut, konsep matematika yang sebelumnya terasa abstrak dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan anak.
Penguatan kemampuan numerasi tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah.
Pembelajaran yang diberikan di kelas akan menjadi lebih kuat apabila mendapatkan dukungan dari lingkungan keluarga. Ketika orang tua ikut terlibat, anak memperoleh kesempatan lebih banyak untuk mempraktikkan konsep yang telah dipelajari.
Kerja sama antara sekolah dan keluarga juga dapat membantu menciptakan pemahaman yang sejalan mengenai perkembangan anak.
Guru dapat memberikan informasi mengenai kemampuan yang perlu diperkuat, sedangkan orang tua dapat membantu menghadirkan pengalaman belajar tersebut melalui aktivitas sehari-hari di rumah.
Dengan cara tersebut, belajar numerasi tidak lagi terasa seperti kewajiban yang membosankan.
Baca Juga: Data Gaji Pokok Guru di Info GTK Belum Sesuai, Pastikan Pembaruan KGB Sudah Dilakukan
Tidak diperlukan metode yang rumit untuk membantu anak meningkatkan kemampuan numerasi.
Orang tua dapat memanfaatkan berbagai kegiatan yang memang sudah dilakukan setiap hari.
Ketika memasak, misalnya, anak dapat diajak mengukur jumlah bahan yang diperlukan. Saat berbelanja, orang tua dapat meminta anak menghitung jumlah barang, membandingkan harga, atau memperkirakan uang yang harus dibayarkan.
Aktivitas lain seperti menghitung jumlah anggota keluarga, membaca kalender, menentukan durasi perjalanan, hingga mengelompokkan benda berdasarkan ukuran juga dapat menjadi latihan numerasi.
Hal terpenting adalah membuat kegiatan tersebut terasa alami dan menyenangkan sehingga anak tidak merasa sedang mengikuti pelajaran tambahan.
Agar penguatan numerasi di rumah berjalan lebih terarah, sekolah juga dapat membangun kemitraan yang lebih aktif dengan orang tua.
Sekolah dapat mengadakan forum atau kegiatan edukasi yang membantu orang tua memahami kondisi kemampuan numerasi anak.
Melalui komunikasi yang terbuka, orang tua dapat mengetahui keterampilan apa yang sudah dikuasai anak dan bagian mana yang masih perlu diperkuat.
Pemahaman tersebut penting agar pendampingan di rumah dapat dilakukan sesuai kebutuhan anak.
Sekolah juga dapat memberikan contoh kegiatan numerasi yang mudah diterapkan di rumah.
Guru dapat mengajak orang tua mempraktikkan berbagai aktivitas sederhana, seperti menghitung uang kembalian, mengukur bahan masakan, membaca waktu, atau bermain permainan yang membutuhkan strategi dan perhitungan.
Dengan mendapatkan contoh secara langsung, orang tua akan lebih mudah menerapkannya bersama anak.
Baca Juga: Data Guru Beda di Dapodik dan Verval PTK, Operator Perlu Ikuti Langkah Perbaikannya
Komunikasi antara guru dan orang tua sebaiknya tidak berhenti setelah kegiatan edukasi selesai.
Sekolah dapat menyediakan kesempatan untuk melakukan evaluasi secara berkala. Orang tua dapat menyampaikan perkembangan anak di rumah, sementara guru dapat memberikan masukan berdasarkan proses pembelajaran di sekolah.
Komunikasi yang konsisten akan membantu kedua pihak mengetahui perkembangan anak sekaligus mencari solusi apabila terdapat kesulitan.
Setiap kemajuan anak layak mendapatkan penghargaan.
Sekolah dan orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan anak, bukan hanya terhadap hasil akhirnya.
Ketika anak merasa bahwa proses belajarnya dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba berbagai hal baru.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua adalah cara menyampaikan pembelajaran numerasi.
Anak tidak harus selalu duduk mengerjakan soal untuk belajar matematika. Jika setiap kegiatan numerasi diberikan dalam bentuk tugas formal, anak justru dapat merasa terbebani.
Sebaliknya, orang tua dapat memasukkan unsur angka dan logika ke dalam permainan serta kegiatan yang disukai anak.
Pendekatan yang menyenangkan dapat membuat anak lebih tertarik untuk belajar dan memahami konsep secara bertahap.
Penguatan numerasi tidak harus dilakukan dalam waktu yang lama.
Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara rutin justru dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konsisten bagi anak.
Misalnya, orang tua dapat membiasakan anak menghitung barang ketika berbelanja, membaca waktu sebelum melakukan kegiatan, atau membandingkan ukuran benda di rumah.
Semakin sering anak berhadapan dengan konsep angka dalam konteks kehidupan nyata, semakin besar pula kesempatan mereka untuk memahami fungsi numerasi secara praktis.
Baca Juga: Desil DTSEN Tidak Ditentukan dari Gaji, Ini Faktor yang Menjadi Dasar Pemeringkatan Kesejahteraan
Kemampuan numerasi yang baik dapat membantu anak menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan penalaran.
Anak belajar mengamati informasi, membandingkan pilihan, memperkirakan hasil, serta menentukan keputusan berdasarkan alasan tertentu.
Proses tersebut secara tidak langsung dapat melatih pola berpikir yang lebih logis dan sistematis.
Karena itu, penguatan numerasi bukan hanya tentang membuat anak lebih mahir berhitung, tetapi juga membantu mereka memiliki keterampilan berpikir yang dapat digunakan dalam berbagai situasi.
Membangun kemampuan numerasi anak merupakan proses yang membutuhkan dukungan dari berbagai lingkungan, baik sekolah maupun keluarga. Guru memberikan pembelajaran secara terarah, sementara orang tua dapat memperkuatnya melalui berbagai aktivitas sederhana di rumah.
Menghitung barang, membaca waktu, membandingkan harga, mengukur bahan makanan, hingga bermain permainan yang melibatkan angka merupakan contoh kegiatan yang dapat dilakukan tanpa membuat anak merasa sedang belajar matematika.
Baca Juga: Desil DTSEN Tidak Ditentukan dari Gaji, Ini Faktor yang Menjadi Dasar Pemeringkatan Kesejahteraan
Ketika sekolah dan orang tua memiliki visi yang sama serta konsisten memberikan pendampingan, numerasi dapat tumbuh menjadi bagian dari kebiasaan anak sehari-hari.
Pada akhirnya, anak diharapkan tidak hanya mampu mengerjakan soal matematika, tetapi juga dapat menggunakan angka, logika, dan penalaran untuk memahami berbagai persoalan dalam kehidupan nyata.***