Pertama, tidak memberikan identitas inventaris yang dapat ditelusuri pada peralatan.
Kedua, mencampurkan pencatatan alat tahan lama dengan persediaan bahan habis pakai tanpa sistem yang jelas.
Ketiga, tidak memeriksa kondisi peralatan sebelum praktikum.
Keempat, menggunakan bahan tanpa informasi identitas dan bahaya.
Kelima, menyimpan bahan berbahaya hanya berdasarkan urutan alfabet.
Keenam, menggunakan alat yang rusak atau belum dinyatakan layak.
Ketujuh, membiarkan murid melakukan praktik berisiko tanpa pengawasan yang sesuai.
Kedelapan, membuang sisa bahan tanpa memeriksa prosedur limbah.
Kesembilan, tidak mencatat insiden dan tindakan pengamanan.
Kesepuluh, menggunakan kode inventaris internal sebagai pengganti kode aset resmi pemerintah.
Kesebelas, tidak memperbarui stok setelah bahan digunakan.
Keduabelas, menganggap laboratorium aman hanya karena seluruh alat tercatat dalam buku inventaris.
Kesalahan tersebut dapat dikurangi melalui pembagian tanggung jawab, pemeriksaan berkala, pelatihan petugas, serta penerapan SOP berdasarkan risiko.
A. Inventaris Alat
B. Bahan Praktikum
C. Penggunaan Laboratorium
D. Keselamatan
E. Pelaporan
Checklist ini merupakan contoh pengendalian internal dan perlu disesuaikan dengan jenis laboratorium, jenjang, serta risiko kegiatan.
Administrasi laboratorium sekolah tidak hanya berkaitan dengan pencatatan mikroskop, tabung reaksi, alat ukur, atau bahan praktikum.
Tujuan utamanya adalah memastikan peralatan tersedia, bahan dikelola secara bertanggung jawab, kegiatan praktikum terencana, dan keselamatan setiap pengguna terlindungi.
Melalui buku inventaris, kartu stok, jadwal penggunaan, register kerusakan, dan SOP yang diterapkan secara konsisten, sekolah dapat mengetahui kondisi laboratorium serta kebutuhan pengembangannya.
Namun, kelengkapan dokumen tidak dapat menggantikan kompetensi petugas, pemeriksaan teknis, maupun penilaian risiko sebelum praktikum.
Laboratorium yang baik harus memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar melalui pengalaman langsung tanpa mengabaikan keselamatan.
Dengan pengelolaan yang terencana, pengawasan yang memadai, dan evaluasi berkala, laboratorium dapat menjadi fasilitas pembelajaran yang aman, tertib, serta bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman sains peserta didik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir