News
Al Fina

Pedoman Hari Santri 2026 PBNU, Ada Aksi Solidaritas untuk Palestina

Pedoman Hari Santri 2026 PBNU, Ada Aksi Solidaritas untuk Palestina

04 Oktober 2026 | 11:29

KebonCinta.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026. Aturan tersebut menjadi panduan bagi seluruh jajaran Nahdlatul Ulama dalam mempersiapkan dan menjalankan berbagai agenda Hari Santri tahun ini.

Pedoman itu dituangkan dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 yang ditetapkan pada 1 Oktober 2026.

Surat edaran tersebut ditujukan kepada seluruh struktur NU, mulai dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).

Tak hanya mengatur pelaksanaan apel, pedoman Hari Santri 2026 juga memuat sejumlah agenda sosial, keagamaan, pelestarian tradisi, serta aksi solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

Hari Santri 2026 Harus Khidmat dan Tidak Berlebihan

PBNU mengingatkan agar seluruh kegiatan Hari Santri Nasional 2026 diselenggarakan secara khidmat, sederhana, dan tidak berlebihan.

Peringatan Hari Santri tidak diarahkan sekadar menjadi kegiatan seremonial. Setiap rangkaian acara diharapkan memiliki nilai manfaat dan mampu memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Salah satu perhatian utama dalam pedoman tahun ini adalah penguatan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyampaikan bahwa kepedulian NU terhadap Palestina mempunyai akar sejarah yang panjang. Hubungan Indonesia dan Palestina, menurutnya, sudah terjalin jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina,” ujar Gus Kikin dalam keterangannya pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Ajak ASN hingga Santri Jadi Agen Perlinsos, Begini Cara Daftarnya 

PBNU Minta NU Gelar Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina

Salah satu agenda yang menjadi sorotan dalam Pedoman Hari Santri 2026 adalah pelaksanaan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina.

Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk ibadah bersama. Beberapa di antaranya berupa istighotsah, pembacaan shalawat, zikir, dan doa untuk masyarakat Palestina.

PBNU memandang kegiatan tersebut sebagai bentuk riyadhah bathiniyyah sekaligus wujud kepedulian dan solidaritas warga Nahdlatul Ulama terhadap kondisi kemanusiaan di Palestina.

Dengan demikian, peringatan Hari Santri tahun ini tidak hanya berbicara tentang tradisi santri di Indonesia, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan global.

Apel Hari Santri 2026 Digelar Serentak 22 Oktober

Agenda utama Hari Santri Nasional 2026 adalah Apel Hari Santri yang akan dilaksanakan secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026.

PBNU tidak mewajibkan seluruh apel berlangsung di kantor organisasi NU. Pengurus di berbagai daerah diberikan keleluasaan untuk memilih lokasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Apel dapat digelar di sekretariat NU, pondok pesantren, sekolah, madrasah, perguruan tinggi NU, rumah sakit, hingga klinik NU.

Salah satu bagian penting dalam apel adalah pembacaan Naskah Resolusi Jihad NU oleh jajaran Tanfidziyah maupun Badan Otonom NU.

Pembacaan tersebut menjadi bagian dari upaya mengingat kembali sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Begini Aturan Pakaian Peserta Apel Hari Santri

PBNU juga menetapkan ketentuan pakaian bagi peserta apel. Untuk peserta laki-laki, pakaian yang digunakan terdiri atas sarung berwarna gelap, atasan putih, dan peci hitam.

Sementara itu, peserta perempuan diarahkan menggunakan busana muslimah dengan nuansa putih, sedangkan bagian bawah disesuaikan dengan ketentuan busana yang berlaku.

Aturan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan keseragaman. Penggunaan sarung dan peci juga menjadi simbol yang memperkuat identitas serta karakter tradisi santri dalam peringatan Hari Santri.

Tema Hari Santri Nasional 2026

Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.”

Tema ini menjadi pijakan dalam berbagai kegiatan yang disiapkan oleh jajaran NU di tingkat pusat maupun daerah.

Sebelum pelaksanaan apel pada 22 Oktober, pengurus NU juga diarahkan untuk melakukan ziarah ke makam ulama, aulia, serta muharrik atau para penggerak NU di wilayah masing-masing.

Tradisi ziarah tersebut menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah sekaligus menghormati jasa para tokoh yang memiliki kontribusi terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama.

Hari Santri 2026 Tak Boleh Berhenti pada Seremonial

PBNU menegaskan bahwa Hari Santri harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, berbagai kegiatan sosial turut didorong dalam rangkaian peringatan.

Program yang dapat dilakukan di antaranya layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga, konsultasi zakat, hingga kegiatan peduli lingkungan.

Untuk kepedulian lingkungan, kegiatan dapat berupa perbaikan sanitasi di pesantren atau madrasah serta aksi kebersihan masjid.

Selain kegiatan sosial, PBNU juga mendorong penyelenggaraan halaqah keilmuan dengan melibatkan ulama dan pondok pesantren. Agenda tersebut diharapkan dapat memperkuat tradisi keilmuan sekaligus memperluas ruang dialog di lingkungan NU.

Pedoman Hari Santri 2026 Resmi Ditandatangani Pimpinan PBNU

Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026 tersebut ditandatangani oleh sejumlah pimpinan PBNU, yakni Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam Prof. Dr. KH Mohammad Nuh, Ketua Umum PBNU KH Kikin A. Hakim, serta Sekretaris Jenderal PBNU KH Gudfan Arif.

Dengan terbitnya pedoman ini, seluruh tingkatan kepengurusan NU diharapkan dapat menyiapkan peringatan Hari Santri 2026 secara terencana.

Peringatan tahun ini tidak hanya diarahkan untuk menjaga tradisi santri, tetapi juga memperkuat persatuan, kepedulian sosial, solidaritas kemanusiaan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Tags:
Hari Santri PBNU

Komentar Pengguna